KONTAN.CO.ID - Harga perak mendadak merosot sekitar 10% dalam waktu singkat. Kondisi ini memicu kekhawatiran investor. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan terhadap pasar logam mulia yang juga menyeret harga emas.
Kenapa Harga Logam Mulia Turun?
Sebelumnya pada Kamis (12/2/2026), harga emas dan perak memang sudah melemah tipis. Pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan hasil yang sangat kuat. Melansir
Forbes, analis pasar Global Macro di FOREX.com, Fawad Razaqzada, mengatakan data nonfarm payroll AS jauh melampaui ekspektasi. Menurutnya, reaksi pasar terhadap data tersebut sudah bisa ditebak, yakni penurunan harga logam.
Sementara itu, analis komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menyebut pergerakan emas dan perak belakangan ini banyak didorong aksi beli spekulatif yang mengandalkan sentimen dan momentum. “Pada hari-hari seperti ini, harga akan kesulitan bertahan,” ujarnya kepada Bloomberg. Dengan kata lain, ketika ekspektasi suku bunga berubah, investor spekulatif cenderung cepat keluar dari posisi mereka, sehingga memicu penurunan tajam.
Baca Juga: Mengejutkan! Trump Tunda Larangan Teknologi China Jelang Bertemu Xi Data Inflasi Bisa Jadi Penentu Berikutnya
Pelaku pasar kini menantikan rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS pada Jumat. Data ini berpotensi kembali menggerakkan harga logam. Peter Grant, Wakil Presiden dan Senior Strategist Logam di Zaner Metals, mengatakan jika inflasi melambat, peluang pemangkasan suku bunga bisa kembali terbuka. “Ekspektasi menunjukkan inflasi utama (headline CPI) akan melambat dari 2,7% menjadi 2,5%, bahkan mungkin 2,4%. Itu bisa menghidupkan kembali spekulasi pemangkasan suku bunga dan kemungkinan akan positif bagi emas,” ujarnya kepada Reuters.
Latar Belakang: Reli Tajam Lalu Koreksi
Dalam beberapa pekan terakhir, emas dan perak bergerak sangat volatil setelah reli besar yang mendorong harga emas menembus US$ 5.600 dan perak melampaui US$ 120 pada akhir Januari. Namun, harga kemudian jatuh tajam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan Kevin Warsh sebagai pilihannya untuk memimpin The Federal Reserve. Warsh dinilai kurang agresif dalam memangkas suku bunga dibanding kandidat lain.
Tonton: Tekan Iran, AS Akan Kirim Kapal Induk Kedua ke Timur Tengah Penguatan dolar AS setelah pengumuman tersebut juga menekan harga logam, karena dolar yang lebih kuat biasanya membuat emas dan perak menjadi lebih mahal bagi pembeli global.
CEO Metals Daily, Ross Norman, menyebut volatilitas tinggi saat ini disebabkan perdagangan spekulatif yang membuat pasar komoditas terasa lebih seperti kasino daripada pasar. Sementara analis Saxo Bank memperkirakan perak masih akan bergerak liar ke dua arah dalam jangka pendek.