Harga Pertamax Naik, Inflasi Juni-Juli Bayangi Daya Beli Warga



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax diperkirakan mulai memberikan tekanan terhadap inflasi pada Juni hingga Juli 2026, terutama memberikan berefek terhadap harga barang dan daya beli masyarakat.

Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto mengatakan, penyesuaian harga BBM non subsidi akan mulai tercermin pada inflasi bulanan, terutama pada kelompok pengeluaran yang berkaitan dengan bahan bakar dan transportasi.

"Kalau saya lihat, untuk inflasi bulanan periode Juni dan Juli dampaknya mulai terasa. Karena sekarang Juni sudah berjalan sepertiga bulan, kemungkinan inflasi month to month Juni sekitar 0,32% mtm dan inflasi tahunan ke 3,22% yoy" ujar Myrdal kepada Kontan, Rabu (10/6/2026).


Baca Juga: Prabowo Klaim Banjir Undangan dari 18 Negara Usai Terima Surat Kepercayaan Dubes

Sebelumnya inflasi bulanan Mei naik ke level 0,28% mtm, dan inflasi tahunan sebesar 3,08% yoy. Tekanan inflasi pada Juni dan Juli diperkirakan masih akan meningkat seiring datangnya faktor musiman, seperti kenaikan biaya pendidikan, volatilitas harga pangan, serta dampak lanjutan atau second round impact dari kenaikan harga BBM non subsidi.

"Untuk periode Juli kemungkinan inflasi month to month bisa di level 0,28%. Ini masih kalkulasi awal, tetapi memang arahnya akan seperti itu," katanya.

Menurut Myrdal, tekanan inflasi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Bank Indonesia mulai memperketat kebijakan moneternya. Ke depan, arah suku bunga acuan juga akan sangat bergantung pada pergerakan nilai tukar rupiah.

"Kalau rupiah kembali menembus Rp 18.500 per dollar AS, kelihatannya akan ada perubahan lagi pada BI Rate. Tapi kalau masih di bawah Rp 18.500 sampai jadwal RDG berikutnya, kemungkinan BI Rate tidak berubah," ujarnya.

Di sisi lain, Myrdal menilai optimisme konsumen mulai menunjukkan tren penurunan sehingga diperlukan langkah pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat. Menurutnya, tekanan yang berasal dari kenaikan suku bunga dan imported inflation berpotensi membebani kelompok masyarakat yang rentan.

"Jangan sampai harga komoditas strategis yang banyak dikonsumsi masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rentan, kembali mengalami kenaikan. Itu akan memberikan tekanan terhadap daya beli," katanya.

Baca Juga: Di Sekolah Indonesia Jeddah, Anak Perantauan Belajar Mengenal Tanah Air

Meski demikian, Myrdal masih memproyeksikan konsumsi rumah tangga tetap tumbuh sekitar 5,2% sepanjang 2026. Konsumsi domestik diperkirakan masih ditopang oleh berbagai program prioritas pemerintah serta aktivitas ekonomi di sejumlah daerah yang menikmati kenaikan harga komoditas.

Myrdal juga masih mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini di kisaran 5,22%, dengan konsumsi domestik tetap menjadi motor utama pertumbuhan di tengah berbagai tekanan eksternal dan kenaikan biaya hidup.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News