Harga Plastik Naik, Industri Mulai Adaptasi Tekanan Rantai Pasok Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga plastik belakangan ini menjadi sinyal tekanan yang kian kuat di rantai pasok global bahan baku. Kondisi tersebut tak hanya berdampak pada isu lingkungan, tetapi juga mulai menekan operasional dan biaya produksi berbagai sektor industri.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebut lonjakan harga plastik dipicu gangguan pasokan bahan baku yang berimbas langsung pada distribusi di pasar. Dampaknya mulai dirasakan pelaku usaha karena biaya produksi meningkat dan margin tergerus.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai plastik merupakan komoditas penting yang menopang banyak industri. Gangguan pasokan, menurutnya, berpotensi merambat hingga ke konsumen.


“Ketika pasokannya terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan di tingkat produsen, tetapi juga berpotensi menjalar hingga ke konsumen melalui kenaikan harga produk dan tekanan terhadap daya beli," ujarnya dalam keterangannya, Rabu (8/4/2026).

Baca Juga: Inaplas Ungkap Indonesia Buka Peluang Ambil Bahan Baku Plastik Diluar Timur Tengah

Kenaikan harga ini juga mulai dirasakan pelaku usaha, termasuk UMKM, yang bergantung pada kemasan plastik. Tanpa penyesuaian harga jual, tekanan biaya berisiko menekan keberlanjutan usaha.

Situasi ini mendorong pelaku industri untuk mulai mengevaluasi ketergantungan terhadap plastik baru sebagai risiko strategis, baik dari sisi biaya maupun keberlanjutan pasokan.

Perubahan pendekatan penggunaan kemasan pun mulai terlihat. Model produksi sekali pakai dinilai semakin rentan terhadap dinamika global, sehingga mendorong adopsi sistem yang lebih efisien seperti reuse dan refill.

Baca Juga: Pasokan Seret, Kemenperin & Pelaku Industri Petrokimia Cari Sumber Alternatif Plastik

Salah satu yang mulai mengadopsi pendekatan ini adalah Air Minum Biru, yang mengembangkan sistem distribusi berbasis isi ulang dengan galon milik pelanggan.

“Dalam kondisi seperti sekarang, ketahanan sistem menjadi semakin penting. Kami sejak awal membangun model bisnis yang meminimalkan ketergantungan pada plastik baru, sehingga lebih adaptif terhadap perubahan di rantai pasok,” ujar Direktur PT Biru Semesta Abadi (Air Minum Biru), Yantje Wongso.

Ia menilai sistem berbasis penggunaan ulang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menciptakan stabilitas operasional di tengah fluktuasi harga bahan baku.

“Ketika pasokan dan harga menjadi tidak pasti, sistem yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya akan menjadi keunggulan. Reuse dan refill bukan hanya alternatif, tapi bagian dari solusi jangka panjang,” tambahnya.

Di tengah tekanan global yang masih berlangsung, pelaku industri diperkirakan akan semakin terdorong membangun sistem yang lebih resilien. Pendekatan sirkular seperti reuse dan refill pun dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga efisiensi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap plastik baru.

Baca Juga: Industri Plastik Tertekan Geopolitik Timur Tengah, Ini Strategi Mitigasinya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News