Harga platinum mulai menguat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak awal tahun, pergerakan harga komoditas platinum memang terbilang seret. Namun, harga logam mulai satu ini tampak mulai mendaki. Faktor kurangnya suplai global menjadi sentimen yang mendorong harga platinum sedikit lebih bergairah.

Mengutip Bloomberg, pada penutupan perdagangan Kamis (31/5), harga platinum kontrak pengiriman Juli 2018 di New York Exchange Merchantile (Nymex) menguat 0,46% ke level US$ 912,70 per ons troi. Sejak awal pekan, harga platinum naik 1,25%.

Analis PT Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto, menjelaskan, kuartal pertama lalu World Platinum Investment Council (WPIC) mencatat, adanya defisit platinum sebanyak 125.000 ons. Data tersebut mejadi sentimen positif yang menopang harga platinum keluar dari tekanan di sekitar level US$ 800 per ton.


"Defisit disebabkan adanya kenaikan permintaan dari sektor industri perhiasan, terutama di China, Jepang, India, dan Amerika Serikat," ujar Andri, Kamis (31/5).

Kendati demikian, Andri melihat, harga platinum belum akan melaju signifikan. Di satu sisi, WPIC memang memprediksi adanya potensi pertumbuhan dari sektor perhiasan sekitar 8%-11% sampai akhir tahun mendatang. Namun, Andri bilang, kenaikan permintaan dari sektor perhiasan belum mampu mengkompensasi penurunan konsumsi platinum dari sektor otomotif diesel.

Sekadar informasi, selama ini sektor otomotif diesel menyerap hingga 40% suplai platinum secara global. Berkurangnya permintaan dari sektor ini berpotensi menyebabkan platinum mengalami surplus besar hingga 7 juta ons pada akhir tahun nanti. Sentimen negatif berkepanjangan dari polusi mobil diesel melukai permintaan platinum.

Pengguna otomotif pun kian banyak beralih ke mobil bensin dengan mesin katalis yang mengandung paladium. Dalam jajak pendapat, 79% responden berpendapat permintaan paladium akan mengungguli platinum di tahun depan. Adapun, dua tahun belakangan, permintaan paladium memang telah mengungguli platinum dan naik 89%. Sementara, di periode yang sama, pemintaan platinum cuma naik 5%.

Andri menilai, hingga akhir kuartal kedua, harga platinum mungkin saja membaik lantaran adanya momentum koreksi dollar AS pasca kenaikan suku bunga The Fed pertengahan Juni mendatang. "Biasanya dollar melemah pascakenaikan suku bunga. Untuk jangka pendek, hanya itu peluangnya," kata dia. Namun, secara fundamental, harga platinum diperkirakan masih sulit terdongkrak.

Sementara untuk pekan depan, pergerakan harga platinum akan bergantung pada hasil data reguler tenaga kerja dan perekomian AS. Hasil data perekonomian yang positif berpeluang membawa dollar AS menguat dan menekan harga platinum. "Apalagi, harga sudah semakin dekat dengan level resisten terdekat di US$ 915," ujar Andri.

Andri melihat, resisten tertinggi platinum saat ini ada pada level US$ 925 per metrik ton. Menurutnya, jika berhasil menembus level tersebut, harga akan kembali terkoreksi.

Namun secara teknikal, ia menganalisis saat ini harga platinum masih bergerak di bawah garis moving average (MA) 50, 100, maupun 200. Artinya, platinum masih dalam tren bearish baik untuk jangka pendek, menengah, hingga panjang. Indikator moving average convergence divergence (MACD) juga masih bertengger di zona negatif pada level 12,08.

Begitu pun dengan indikator RSI yang berada di level 44 dan indikator stochastic di level 32,1. Kedua indikator tersebut memberi indikasi pelemahan harga platinum sehingga saat ini dalam rekomendasi jual.

Andri memproyeksi, Senin (4/6), harga platinum akan bergerak dalam rentang US$ 907 - US$ 917 per ons troi. Adapun sepekan ke depan, harga diperkirakan akan berada di kisaran US$ 900 - US$ 920 per ons troi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati