Harga Produsen AS Tak Terduga Turun pada Juni, Sinyal Inflasi Mulai Mereda



KONTAN.CO.ID - Harga produsen di Amerika Serikat (AS) secara tak terduga turun pada Juni 2026. Penurunan ini menjadi sinyal terbaru bahwa tekanan inflasi mulai mereda sebelum kembali meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Melansir Reuters, Departemen Tenaga Kerja AS melalui Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan pada Rabu (15/7/2026) bahwa Producer Price Index (PPI) untuk permintaan akhir turun 0,3% secara bulanan (month-on-month/MTM) pada Juni. Sebelumnya, PPI tercatat naik 0,6% pada Mei setelah direvisi turun.

Baca Juga: Buffett Akhiri Donasi ke Gates Foundation, Sebut Bill Gates Sudah Mengetahuinya


Hasil tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters, yang memperkirakan PPI tidak berubah pada Juni setelah sebelumnya dilaporkan naik 1,1% pada Mei.

Secara tahunan, PPI naik 5,5% pada Juni, melambat dari kenaikan 6,0% pada Mei.

Penurunan PPI terutama dipicu oleh turunnya harga barang sebesar 1,4%, yang merupakan penurunan terbesar sejak Juli 2022. Penurunan ini didorong oleh merosotnya harga produk energi sebesar 6,4%.

Sementara itu, harga grosir pangan turun 0,6%, sedangkan harga jasa masih meningkat 0,2%.

Baca Juga: Dolar AS Bergerak Stabil, Konflik Timur Tengah Imbangi Dampak Inflasi yang Melandai

Meski demikian, prospek inflasi kembali dibayangi ketegangan geopolitik setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran runtuh pekan lalu.

Insiden penembakan terhadap kapal tanker komersial di Selat Hormuz memicu serangan militer antara kedua negara.

Di sisi lain, harga minyak sempat melonjak ke level tertinggi dalam empat pekan setelah Washington kembali memberlakukan blokade laut terhadap Iran.

Sehari sebelumnya, pemerintah AS melaporkan Consumer Price Index (CPI) turun 0,4% pada Juni, penurunan bulanan terbesar sejak April 2020, setelah naik 0,5% pada Mei.

Penurunan CPI yang terutama dipengaruhi turunnya harga energi membuat inflasi konsumen tahunan melambat menjadi 3,5% dari 4,2% pada Mei.

Bank Sentral AS atau Federal Reserve menggunakan Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index sebagai acuan utama untuk mencapai target inflasi sebesar 2%.

Baca Juga: Jelang Lawan Argentina, Timnas Inggris Kompak Abaikan Spekulasi di Luar Lapangan

Sebelum data PPI dirilis, para ekonom memperkirakan inflasi inti PCE yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi naik 0,2% pada Juni, setelah meningkat 0,3% pada Mei.

Secara tahunan, inflasi inti PCE diperkirakan melambat menjadi 3,3% dari 3,4% pada bulan sebelumnya.

Pasar keuangan saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan bulan ini. Namun, pelaku pasar masih melihat peluang kenaikan suku bunga pada September.

Ketua The Fed Kevin Warsh pada Selasa (14/7) menegaskan bank sentral AS "tidak memiliki toleransi terhadap inflasi yang tetap tinggi dalam jangka panjang."