KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) diperkirakan membaik pada 2027 seiring peningkatan utilisasi pabrik Indah Kiat Karawang (IKK). Namun, tekanan harga pulp akibat tambahan kapasitas produksi global masih menjadi perhatian terhadap kinerja INKP. Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin mengatakan bahwa kinerja INKP hingga akhir 2026 secara top line masih berpotensi naik seiring mulai beroperasinya pabrik baru di Karawang (IKK). Namun, dari sisi bottom line, kinerja pada paruh kedua 2026 diperkirakan masih tertekan karena IKK masih dalam tahap awal operasional. “Secara quarterly kemungkinan 3Q yang paling lemah karena harga pulp yang melemah, loss contribution dari IKK, dan minimnya forex gain,” ujar Wilbert kepada kontan (2/10/2026).
Meski begitu, kinerja INKP diperkirakan membaik pada kuartal IV 2026. Perbaikan tersebut didorong oleh harga pulp yang mulai menguat serta kontribusi kerugian IKK yang diperkirakan semakin kecil. Memasuki 2027, Wilbert memperkirakan kinerja inti INKP akan lebih baik. Pendapatan dan laba diproyeksikan tumbuh seiring peningkatan utilisasi IKK yang diperkirakan mulai membukukan keuntungan. Wilbert memperkirakan kinerja segmen pulp akan menghadapi tekanan pada 2027 akibat tambahan kapasitas produksi di industri. Harga pulp diproyeksikan berada di sekitar US$550 per ton pada 2027, atau turun sekitar 5% secara tahunan. Pelemahan harga pulp tersebut tentu memberikan dampak negatif terutama terhadap segmen pulp INKP. Namun, tekanan tersebut diperkirakan dapat diimbangi oleh peningkatan kontribusi IKK.
Baca Juga: Pabrik Baru di Karawang Dorong Prospek Kinerja dan Saham Indah Kiat (INKP) Untuk itu, ia menyarankan investor perlu mencermati perkembangan harga pulp serta operasional pabrik IKK sebagai sentimen utama yang dapat mempengaruhi kinerja dan saham INKP ke depan. Di sisi lain, Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi menilai prospek INKP hingga akhir 2026 masih solid. Ia mencatat, laba INKP pada 1H 2026 naik 127,45% dengan penjualan meningkat 8,74%. Wafi memperkirakan kinerja INKP pada paruh kedua 2026 masih akan terjaga karena harga pulp membaik dan pelemahan rupiah justru memberikan keuntungan bagi perusahaan. Dikarenakan, sebagian besar pendapatan INKP berasal dari ekspor dalam dolar AS, sementara biaya kayu dari hutan tanaman sendiri menggunakan rupiah. Untuk 2027, Wafi juga melihat pertumbuhan laba INKP akan lebih moderat seiring tingginya basis kinerja 2026 dan tambahan kapasitas pulp global yang mulai menekan harga. Namun, Wafi menilai tekanan harga pulp tidak sepenuhnya menjadi sentimen negatif bagi INKP. Sebagai perusahaan yang terintegrasi dari kayu hingga kertas, penurunan harga pulp memang dapat menekan segmen pulp, tetapi di sisi lain berpotensi memperlebar margin pada segmen kertas karena pulp merupakan bahan baku. Menurutnya, semakin banyak pulp yang diolah sendiri terutama setelah IKK berjalan, semakin kecil dampak negatif penurunan harga pulp terhadap kinerja INKP.
Baca Juga: Indah Kiat (INKP) Siap Bayar Obligasi Dolar AS Jatuh Tempo Wafi juga menilai IKK akan mengubah bauran INKP ke kertas industri dan kemasan. Segmen tersebut memiliki permintaan yang lebih stabil karena ditopang perdagangan daring, sementara permintaan kertas cetak cenderung terus menurun.
“Jika beroperasi sesuai jadwal, INKP lebih banyak mengolah pulp sendiri jadi produk bernilai tambah lebih tinggi daripada menjualnya mentah. Risikonya, proyek sebesar ini padat modal dan butuh 1-2 tahun mencapai utilisasi optimal, jadi kontribusinya bertahap.” Ujar Wafi kepada kontan (2/10/2026). Wafi menambahkan, untuk kedepannya investor perlu mencermati sejumlah sentimen terhadap saham INKP, mulai dari selisih harga pulp dan kertas, perkembangan serta utilisasi IKK, hingga pergerakan rupiah. Selain itu, refinancing obligasi yang jatuh tempo pada kuartal IV 2026 dan regulasi deforestasi Eropa juga perlu diperhatikan karena dapat membatasi akses pasar.
Baca Juga: Kinerja Indah Kiat (INKP) dan Tjiwi Kimia (TKIM) Diuntungkan Kurs, Ini Rekomendasinya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News