Harga Rumah Australia Anjlok 6 Bulan Beruntun, Terburuk dalam 30 Tahun?



KONTAN.CO.ID - Harga rumah di Australia kembali turun pada September 2026 dan mencatat penurunan selama enam bulan berturut-turut.

Pelemahan pasar properti semakin dalam seiring merosotnya volume transaksi dan kenaikan suku bunga yang menekan daya beli.

Melansir Reuters Kamis (1/10/2026), data perusahaan properti Cotality menunjukkan, harga rumah nasional Australia turun 1,1% pada September dibandingkan Agustus. Penurunan pada Agustus direvisi menjadi 1,2%.


Baca Juga: Update Medali Indonesia di Asian Games 2026: Kini Peringkat 13 dengan 4 Emas

Dengan demikian, harga rumah nasional Australia kini 5,2% di bawah level puncaknya dan relatif tidak berubah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sydney menjadi salah satu pasar yang mengalami tekanan paling besar. Harga rumah di kota tersebut turun 1,4% pada September dan kini hampir 9% di bawah level puncak pada Februari 2026.

Penurunan tersebut bahkan telah melampaui skala koreksi pada periode 2022-2023, ketika Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga sebesar 425 basis poin setelah pandemi Covid-19 untuk mengendalikan inflasi.

Di Melbourne, harga rumah turun 0,7%, sehingga penurunan dari level puncaknya kini mencapai lebih dari 7%.

Sementara itu, harga rumah di Brisbane, Adelaide dan Perth masing-masing turun lebih dari 1%.

Pelemahan tersebut menghapus sebagian dari kenaikan harga yang sebelumnya mencapai sekitar 50%-70% dalam lima tahun terakhir.

Baca Juga: Harga Diesel AS Rekor, Trump Masih Pertimbangkan Larangan Ekspor

Transaksi Properti Anjlok

Tekanan pasar properti Australia juga tercermin dari penurunan transaksi. Cotality mencatat penjualan rumah dalam tiga bulan terakhir turun 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan volume transaksi menunjukkan calon pembeli masih menahan diri di tengah tingginya biaya pinjaman dan ketidakpastian ekonomi.

"Secara ironis, banyak calon pembeli tidak memiliki kepercayaan diri atau kapasitas finansial untuk membeli saat ini," kata Tim Lawless, research director Cotality.

Menurut Lawless, kondisi tersebut turut mendorong peningkatan persediaan properti di pasar.

Tekanan terhadap pasar perumahan juga terjadi ketika RBA terus memperketat kebijakan moneter.

Pada Selasa (29/9), bank sentral Australia kembali menaikkan suku bunga untuk keempat kalinya tahun ini menjadi 4,6%, level tertinggi dalam 15 tahun.

RBA menyatakan masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut apabila diperlukan untuk mengendalikan inflasi yang masih tinggi.

Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang tekanan terhadap pasar perumahan Australia. RBA sebelumnya telah mengidentifikasi pasar perumahan sebagai salah satu risiko terhadap perekonomian.

Baca Juga: Dolar AS Tertahan Usai Inflasi PCE Lebih Rendah, Peluang Kenaikan Bunga The Fed Turun

Terburuk dalam Tiga Dekade

Pelemahan pasar properti juga berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap ekonomi Australia.

Penurunan transaksi perumahan dapat memengaruhi berbagai sektor yang terkait, mulai dari jasa real estat, tenaga kerja konstruksi hingga perdagangan dan jasa pendukung lainnya.

Pertumbuhan kredit perumahan juga mulai melambat seiring meningkatnya tekanan terhadap kemampuan masyarakat untuk mengambil pinjaman baru.

Selain kenaikan suku bunga, perubahan kebijakan pajak pemerintah yang diumumkan pada Mei turut menekan permintaan dari investor properti.

Sejumlah ekonom memperkirakan harga rumah Australia dapat mengalami penurunan sekitar 10% dari level puncak hingga titik terendah dalam siklus kali ini. Jika terealisasi, koreksi tersebut akan menjadi penurunan pasar properti terbesar dalam tiga dekade.

HSBC bahkan memperkirakan harga rumah nasional dapat turun hingga 13% apabila RBA kembali menaikkan suku bunga satu kali lagi.

Baca Juga: Harga Emas Spot Turun 6,6% pada September, Tekanan Harga Energi Jadi Beban

Sementara itu, AMP memperkirakan harga properti nasional dapat mengalami penurunan 10%-15% dari puncak ke titik terendah. Sydney, Brisbane dan Adelaide diperkirakan menjadi pasar dengan penurunan paling dalam.

"Harga diperkirakan baru mencapai titik terendah sekitar kuartal Juni tahun depan dan mulai mengalami pemulihan moderat pada 2027-2028, seiring RBA mulai beralih ke pemangkasan suku bunga," kata Chief Economist AMP Shane Oliver.