KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga rumah di Inggris mencatat penurunan tahunan untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun pada Agustus 2026. Kondisi tersebut menunjukkan pasar properti Inggris mulai menghadapi tekanan seiring meningkatnya biaya pinjaman dan ketidakpastian ekonomi global. Data harga rumah Lloyds yang sebelumnya dirilis melalui merek Halifax menunjukkan harga rumah turun 0,4% secara tahunan (year on year/YoY) pada Agustus 2026. Penurunan tersebut menjadi yang pertama sejak November 2023. Capaian ini juga lebih buruk dibandingkan ekspektasi pasar. Dalam jajak pendapat Reuters terhadap ekonom, median perkiraan menunjukkan harga rumah Inggris justru berpotensi tumbuh 0,2% secara tahunan.
Secara bulanan, harga rumah Inggris turun 0,2% pada Agustus. Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi ekonom yang memperkirakan kenaikan 0,1%. Sementara itu, pertumbuhan harga rumah pada Juli yang sebelumnya dilaporkan sebesar 0,1% direvisi menjadi penurunan 0,1%.
Baca Juga: Produksi Industri Jerman Turun 1,1% pada Juli 2026, Sektor Otomotif Jadi Beban Direktur hipotek Lloyds, Andrew Asaam, mengatakan pasar perumahan Inggris menghadapi kondisi yang lebih sulit dalam beberapa bulan terakhir. Dampak berbagai peristiwa global terhadap inflasi dan biaya pinjaman turut meningkatkan ketidakpastian ekonomi. "Pasar perumahan menghadapi latar belakang yang lebih sulit dalam beberapa bulan terakhir, dengan dampak peristiwa global terhadap inflasi dan biaya pinjaman menciptakan ketidakpastian ekonomi yang lebih besar," ujar Asaam. Menurut dia, penurunan harga rumah belum menunjukkan adanya aksi jual besar-besaran dari pemilik rumah. Namun, semakin banyak calon penjual maupun pembeli yang memilih menunggu perkembangan kondisi pasar. "Apa yang tidak kami lihat adalah gelombang pemilik rumah yang memangkas harga. Namun, semakin banyak yang memilih untuk bertahan, dengan penjual enggan menerima penawaran yang mereka anggap terlalu rendah, sementara sebagian pembeli menunggu untuk melihat bagaimana kondisi berkembang," katanya.
Data Harga Rumah Inggris Berbeda Antar Pemberi Pinjaman
Data Lloyds tersebut menunjukkan gambaran yang berbeda dibandingkan laporan dari pemberi pinjaman hipotek lainnya, Nationwide Building Society. Pada pekan sebelumnya, Nationwide mencatat harga rumah Inggris masih tumbuh 1,6% secara tahunan pada Agustus 2026. Secara bulanan, harga rumah juga tercatat naik 0,2%. Perbedaan data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan pasar properti Inggris masih cukup beragam, tergantung metodologi dan cakupan data yang digunakan masing-masing pemberi pinjaman.
Baca Juga: Banjir Nepal-China Tewaskan 1.380 Orang, Pencarian Korban Masih Berlanjut Meski demikian, sejumlah ekonom memperkirakan tekanan terhadap harga rumah masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Ruth Gregory, wakil kepala ekonom Capital Economics, mengatakan kenaikan suku bunga pasar baru-baru ini mengindikasikan suku bunga hipotek dengan bunga tetap dua tahun berpotensi meningkat. Gregory memperkirakan suku bunga hipotek tersebut dapat mendekati 5% pada September 2026, naik dari sekitar 4,8% pada Juli.
"Kami memperkirakan harga rumah tidak akan mengalami lebih dari sekadar stagnasi selama empat bulan tersisa tahun ini, sehingga harga rumah pada kuartal IV 2026 akan sekitar 1,5% lebih tinggi dibandingkan setahun sebelumnya," ujar Gregory.
Suku Bunga dan Ketidakpastian Tekan Pasar Properti
Kenaikan biaya pinjaman menjadi salah satu faktor yang dapat menahan minat masyarakat untuk membeli rumah. Suku bunga hipotek yang lebih tinggi membuat biaya pembiayaan meningkat, sehingga sebagian calon pembeli memilih menunda keputusan pembelian. Kondisi tersebut juga terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global setelah perang Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berdampak terhadap inflasi serta pasar keuangan. Data resmi terbaru dari Office for National Statistics (ONS) menunjukkan harga rumah Inggris masih tumbuh 2,0% dalam 12 bulan hingga Juni 2026. Namun, pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan kenaikan 3,0% pada periode 12 bulan hingga Mei.