KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT AKR Corporindo Tbk (
AKRA) menguat 14,45% sejak awal tahun hingga menyentuh level Rp 1.465 per saham. Kenaikan ini sejalan dengan kinerja keuangan perseroan yang solid sepanjang 2026. Senior Technical Analyst M. Nafan Aji Gusta melihat kinerja AKRA terus tumbuh konsisten berkat sokongan bisnis perdagangan dan distribusi, serta meningkatnya kontribusi dari kawasan industri dan utilitas Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE). “Kenaikan harga saham tersebut belum tentu sepenuhnya mencerminkan potensi pertumbuhan
earnings AKRA dalam jangka menengah, khususnya apabila ekspansi JIIPE terus berjalan sesuai target,” ujar dalam wawancara tertulis pada Senin (28/9/2026).
Baca Juga: SBR015 Resmi Ditawarkan, Pemerintah Bidik Penjualan hingga Rp20 Triliun Hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027, prospek bisnis AKRA diprediksi tetap cerah. Laba perusahaan berpotensi terus merangkak naik seiring stabilnya distribusi energi dan meningkatnya
recurring income dari kawasan JIIPE. Selain itu, maraknya tren hilirisasi dan masuknya investasi manufaktur ke Indonesia turut mendorong permintaan lahan industri dan utilitas. Meski begitu, kinerja AKRA tetap dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro, fluktuasi harga energi, nilai tukar rupiah, serta tingkat investasi domestik. Ke depannya, segmen kawasan industri dan utilitas JIIPE berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru bagi AKRA. Di sisi lain, bisnis perdagangan dan distribusi tetap berfungsi sebagai fondasi utama penyuplai arus kas yang stabil. Menurut Nafan, JIIPE menawarkan potensi pertumbuhan tinggi sekaligus memperbesar pendapatan berulang dari layanan utilitas kepada para tenant. Penjualan lahan dapat mendongkrak laba secara signifikan, sedangkan bertambahnya tenant yang mulai beroperasi akan memperkuat pendapatan rutin dari jaringan utilitas.
Baca Juga: Simulasi Kupon SBR015 Tenor Dua & Empat Tahun, Floating Tapi Aman dari Penurunan “Semakin matang ekosistem JIIPE, semakin besar pula potensinya terhadap kontribusi laba AKRA,” tambahnya. Meski berprospek positif, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko. Fluktuasi harga energi dan komoditas global, potensi perlambatan aktivitas industri yang dapat menekan volume perdagangan, serta pergerakan suku bunga dan nilai tukar menjadi tantangan tersendiri.
Dari sisi JIIPE, kecepatan penjualan lahan dan realisasi investasi tenant menjadi faktor penting yang menentukan seberapa cepat kontribusi kawasan industri terhadap kenaikan laba. Kondisi geopolitik global serta dinamika kebijakan pemerintah di sektor energi dan industri juga membayangi kinerja perusahaan. Secara teknikal, Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat pergerakan saham AKRA dalam jangka pendek masih berada dalam
downtrend dan telah menembus ke bawah garis MA20. Volume perdagangan cenderung mengecil dengan tekanan jual yang masih dominan. Indikator MACD mulai melandai walau masih positif, sedangkan Stochastic berpotensi terkoreksi menuju area
oversold. Meringkas kondisi tersebut, Herditya memberikan pandangan
wait and see, dengan
support di Rp 1.440
resistance di Rp 1.490 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News