KONTAN.CO.ID - Jakarta. PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatatkan pencapaian kinerja keuangan yang sangat impresif sepanjang paruh pertama tahun 2026. Namun harga saham yang mayoritas dikuasai konglomerat Prajogo Pangestu ini masih di level bawah usai terkoreksi sejak awal tahun 2026. Lalu, apakah saham PTRO memiliki prospek investasi yang baik seperti kinerjanya? Harga saham PTRO pada akhir perdagangan Jumat 18 September 2026 ditutup di Rp 5.325, stagnan dibandingkan sehari sebelumnya. Sejak awal tahun 2026 atau secara year to date, harga saham PTRO terakumulasi melemah 5.875 poin atau 52,46%. Sementara itu, berdasarkan rilis laporan keuangan, perusahaan membukukan lonjakan signifikan pada sisi pendapatan maupun laba bersih.
- Pendapatan Bersih: Tumbuh sekitar 59% menjadi US$543,98 juta dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar US$340,94 juta.
- Laba Bersih: Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meroket hingga 902,5% mencapai US$10,78 juta, naik drastis dari posisi sebelumnya yang sebesar US$1,07 juta.
- Faktor Non-Operasional (One-off): Revo Gilang mengungkapkan bahwa kenaikan laba bersih yang sangat tinggi turut dipicu oleh pos operasi yang dihentikan (discontinued operations), yaitu adanya transaksi one-off yang berkaitan dengan divestasi PT Kemilau Mulia Sakti (KMS/PTKMS) kepada SINI. Oleh karena itu, investor diimbau berhati-hati dalam memproyeksikan keberlanjutan laba bersih ke depan.
- Ekspansi Skala Bisnis: Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai pertumbuhan pendapatan sebesar 59% jauh lebih penting karena menunjukkan ekspansi aktivitas operasional yang nyata. Pertumbuhan top-line ini ditopang oleh peningkatan aktivitas mining services, engineering & construction, serta masuknya kontribusi offshore EPCI.
- Margin Tipis: Dengan perolehan laba bersih US$ 10,78 juta terhadap pendapatan US$ 543,98 juta, net profit margin PTRO berada di kisaran 2%. Hal ini menunjukkan bahwa PTRO merupakan bisnis dengan skala pendapatan besar namun margin yang relatif tipis.
- Strategi Utama: Menerapkan pendekatan trading buy on weakness alih-alih mengejar harga saat terjadi reli.
- Area Akumulasi: Rentang harga Rp5.200 - Rp5.400 dapat dimanfaatkan sebagai area akumulasi bertahap.
- Target Harga: Sasaran kenaikan harga berada di level Rp5.800 - Rp6.000, dengan potensi lanjutan ke Rp6.300 apabila momentum serta volume perdagangan mendukung.
- Manajemen Risiko: Level di bawah Rp5.000 dapat dijadikan batasan area pengamanan risiko (risk management). AirAsia Pangkas Penerbangan 25%, Ada Apa dengan Bisnisnya© 2026 Konten oleh Kontan