Harga saham Antam (ANTM) & Vale (INCO) naik double digit, masih ada potensi upside



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diyakini masih prospektif seiring dengan stabilnya harga emas dan nikel saat ini. Kedua emiten mencatat kinerja moncer hingga akhir September 2020.

Harga saham kedua emiten ini pun sudah berada di zona hijau sejak awal tahun. Harga saham INCO menguat 11,25% dan ANTM menguat 25,60% secara year-to-date.

SVP Corporate Secretary Aneka Tambang Kunto Hendrapawoko menyampaikan bahwa realisasi penjualan emas di kuartal ketiga masih sejalan dengan rencana kerja ANTM yang menargetkan penjualan emas sebesar 18 ton di tahun 2020. Melihat tingginya minat masyarakat terhadap investasi emas saat ini, ANTM optimis dapat memaksimalkan produksi dan penjualan emas di tahun 2020. “Begitupun kami berharap pada tahun depan tren positif ini akan terus berlanjut,” ujar Kunto.


Meskipun secara year-on-year basis, volume penjualan emas ANTM menurun -36,5% (kuartal ketiga 2019 penjualan mencapai 10.971 kg), Dessy menilai performa tahun ini masih cukup baik mengingat adanya kekhawatiran pelemahan permintaan terhadap emas.

Baca Juga: Terus meningkat, ekspor dari kawasan industri Morowali diramal capai Rp 168,2 triliun

Analis Samuel Sekuritas Indonesia Dessy Lapagu menilai, dari kedua emiten tersebut, ANTM  dinilai lebih banyak diguyur oleh sentimen positif yang berkaitan dengan harga komoditas, salah satunya berita mengenai nikel yang cukup ramai beberapa minggu ini.

”Sehingga, ANTM yang sudah didukung sentimen emas, lebih positif lagi karena didukung berita sentimen dari nikel,” ujar Dessy kepada Kontan.co.id, Jumat (30/10). Emiten dengan nama beken Antam ini dinilai memiliki keunggulan tersendiri karena memiliki dua komoditas yang saat ini sedang dalam fase uptrend, yaitu emas dan nikel.

Tercatat, lini bisnis penjualan emas ANTM membukukan kinerja yang apik sepanjang kuartal ketiga 2020. Sepanjang periode Juli-September 2020, ANTM menjual 6.967 kilogram (kg) emas atau setara 223.994 oz (unaudited). Realisasi ini tumbuh 147% dibandingkan dengan penjualan emas pada triwulan kedua 2020 yang hanya  2.818 kg atau 90.600 oz.

Baca Juga: Ini tiga faktor yang mendorong laba Vale Indonesia (INCO) melesat 479 kali lipat

Sementara untuk INCO, Dessy menilai karena kinerja low base pada 2019 ditambah harga nikel yang tengah uptrend, maka kinerja hingga akhir 2020 ini akan tumbuh cukup signifikan. Selain itu, likuiditas INCO yang cukup baik serta proses divestasi yang sudah rampung membuat kepastian perpanjangan izin INCO menjadi lebih jelas.

Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan, harga nikel untuk akhir tahun 2020 dan 2021 masing-masing akan berada di level US$ 13.000 dan US$ 14.300 per metrik ton (MT). Namun, untuk sentimen harga nikel, Dessy menilai akan lebih mempengaruhi pergerakan harga saham ANTM. Sementara untuk INCO, Dessy menilai harga nikel akan lebih berpengaruh terhadap fundamental dan kinerja keuangan.

Dessy masih mengalkulasi ulang target harga baru kedua saham ini. Namun, saham INCO maupun ANTM masih berpotensi naik lagi seiring adanya sentimen dari harga nikel.

Baca Juga: Saham ANTM dan MDKA Kinclong Terpoles Harga Emas, Begini Saran Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati