Harga Saham ASII Masih Merah di 2026, Saatnya Beli atau Jual? Ini Rekomendasi Analis
Kamis, 26 Februari 2026 05:45 WIB
Oleh: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Harga saham PT Astra International Tbk (ASII) hingga Februari 2026 masih berada di zona merah secara year to date (ytd). Padahal sepanjang tahun 2025, saham emiten konglomerasi ini melonjak lebih dari 30%. Lantas, apakah 2026 masih menjadi momentum tepat untuk koleksi saham ASII atau justru saatnya merealisasikan keuntungan? Pada perdagangan Rabu (25/2/2026), harga saham ASII ditutup di level Rp 6.650, naik 100 poin atau 1,53%. Namun secara ytd, saham ASII masih terkoreksi 150 poin atau turun 2,21%.
Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 harga saham ASII melesat 35,9%, dari Rp 4.930 menjadi Rp 6.700. Tonton: Langkah Besar RI Jadi Pemain Chip Dunia! 15.000 Insinyur Dilatih Arm Investor Wait and See Laporan Keuangan 2025 Meski pergerakan saham ASII relatif lesu di awal tahun ini, sejumlah analis masih mempertahankan rekomendasi beli. Pelaku pasar saat ini cenderung wait and see menjelang rilis laporan keuangan tahun buku 2025 yang dijadwalkan dalam waktu dekat. Proyeksi awal menunjukkan kinerja Astra International masih cukup stabil. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai secara fundamental kinerja ASII pada 2025 relatif terjaga. Menurutnya, penjualan otomotif memang melemah sepanjang tahun lalu. Namun pada kuartal IV-2025 mulai terlihat perbaikan, sehingga menopang kinerja akhir tahun. Tonton: 160 Ribu ASN Pensiun, CPNS 2026 Dibuka? Ini Jawaban Menteri PAN-RB Tantangan dari Batu Bara dan Beban Bunga Di sisi lain, tekanan datang dari lini usaha alat berat dan pertambangan melalui anak usaha United Tractors (UNTR), seiring harga batu bara yang melandai. Kondisi tersebut berpotensi membuat pertumbuhan pendapatan ASII cenderung stagnan pada 2025. Selain itu, beban bunga yang cukup tinggi juga dapat menekan laba bersih. “Laba bersih diperkirakan masih relatif stabil, sejalan dengan kinerja top line,” ujar Nafan. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menambahkan bahwa kinerja pendapatan ASII berpotensi naik tipis. Namun laba bersih kemungkinan datar atau sedikit tertekan akibat normalisasi kontribusi segmen emas serta beban non-operasional seperti penalti lingkungan. Baca Juga: Saham BIPI Melonjak 269%, Ini Penyebabnya Prospek ASII di 2026 Memasuki 2026, tantangan di segmen otomotif diperkirakan masih berlanjut, terutama akibat ketatnya persaingan mobil listrik asal China yang semakin agresif di pasar domestik. Namun Astra dinilai masih memiliki kekuatan pada segmen kendaraan hybrid yang permintaannya tetap solid. Selain itu, pengembangan kendaraan battery electric vehicle (BEV) menjadi strategi penting untuk menjaga daya saing. Di sisi lain, prospek 2026 akan sangat dipengaruhi oleh: - Perkembangan penjualan mobil nasional - Kondisi suku bunga - Harga komoditas - Daya beli masyarakat Secara umum, ASII dinilai tetap defensif dan stabil, meski pertumbuhan laba diperkirakan berlangsung bertahap, bukan melonjak tajam. Tonton: Demo Iran Kembali Pecah! Mahasiswa Turun ke Jalan, Ketegangan dengan AS Memanas Rekomendasi dan Target Harga Saham ASII Dari sisi rekomendasi: - Miftahul Khaer merekomendasikan trading buy dengan target harga Rp 6.900 per saham. - Nafan Aji Gusta menyarankan akumulasi beli dengan target harga Rp 7.275 per saham. Dengan posisi harga saat ini di Rp 6.650, saham ASII masih memiliki potensi kenaikan terbatas berdasarkan target analis. Bagi investor jangka panjang, ASII tetap menarik sebagai saham defensif dengan fundamental kuat dan diversifikasi bisnis luas. Namun untuk strategi jangka pendek, pergerakan harga masih menunggu katalis dari rilis kinerja dan sentimen sektor otomotif.
Investor disarankan mencermati laporan keuangan terbaru sebelum mengambil keputusan beli atau jual.
Indika Energy (INDY) Uji Coba Truk Kontainer EV untuk Toyota Tsusho