Harga Saham Bank Blue Chip Merosot Karena BI Rate Tak Turun, Pilih Beli / Jual?
Jumat, 20 Februari 2026 05:53 WIB
Oleh: Selvi Mayasari | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Suku bunga acuan Bank Indonesia periode Februari-Maret 2026 diputuskan sama seperi Januari-Februari 2026. Kebijakan ini berdampak negatif terhadap harga saham bank blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang langsung merosot. Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18–19 Februari 2026. Keputusan ini menegaskan komitmen bank sentral menjaga stabilitas ekonomi di tengah dinamika likuiditas dan ketatnya persaingan dana perbankan. BI menilai bauran kebijakan saat ini masih konsisten untuk menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Namun demikian, pasar merespons keputusan tersebut secara hati-hati. Sejumlah saham bank blue chip justru terkoreksi pada perdagangan Kamis (19/2). Baca Juga: Jejak Smart Money (19 Feb 2026): Saham dengan Ticket Size Besar di Lapis Kedua Saham blue chip adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman dan memiliki nilai kapitalisasi pasar besar hingga puluhan atau bahkan ratusan triliun rupiah. Di BEI, saham blue chip biasanya berasal dari saham di indeks mayor seperti LQ45. Salah satu saham bank di indeks LQ45 yang turun harga adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Harga saham BBRI turun 1,57% ke Rp 3.770 per saham, setelah sempat dibuka di Rp 3.850. Dalam sepekan terakhir, BBRI terkoreksi 0,53%. Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melemah 1,37% ke Rp 7.175 per saham dari posisi pembukaan Rp 7.325. Secara mingguan, saham ini sudah turun 2,05%. Tekanan juga terjadi pada saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang turun 0,89% ke Rp 4.450 per saham. Dalam sepekan, BBNI tercatat melemah 1,33%. Koreksi terdalam dialami saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang anjlok 3,79% ke Rp 5.075 per saham dari pembukaan Rp 5.275. Secara mingguan, pergerakan BMRI relatif stagnan. Tonton: Pasar Mobil Bekas Ramai Jelang Lebaran, ASLC Pasang Target Tinggi Prospek NIM dan Kualitas Aset Masih Terjaga Meski harga saham terkoreksi, prospek sektor perbankan nasional dinilai tetap solid. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai margin bunga bersih (net interest margin/NIM) masih berpotensi terjaga. Hal ini ditopang oleh suku bunga kredit yang relatif tinggi, sementara tren kenaikan bunga simpanan mulai melandai. Dengan kondisi tersebut, tekanan terhadap profitabilitas bank diperkirakan tetap terkendali. Selain NIM, kualitas aset menjadi indikator utama. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang tetap rendah menunjukkan ketahanan industri perbankan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Pertumbuhan Kredit dan Digitalisasi Jadi Katalis Dari sisi intermediasi, pertumbuhan kredit sepanjang 2025 tercatat solid di kisaran 10%–12% secara tahunan. Capaian ini mencerminkan permintaan pembiayaan yang tetap terjaga meski kondisi ekonomi berfluktuasi. Transformasi digital juga menjadi katalis positif. Peningkatan transaksi digital mendorong kenaikan fee based income, sehingga bank tidak hanya bergantung pada pendapatan bunga. Normalisasi kebijakan restrukturisasi kredit turut menjadi sentimen positif, tercermin dari membaiknya kemampuan bayar debitur dan menurunnya risiko kredit. Meski demikian, tantangan likuiditas tetap perlu dicermati, terutama akibat ketatnya persaingan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK). Tonton: Perry Ungkap Peluang BI Rate Turun, Investor Wajib Siap-Siap! Strategi Accumulative Buy Saham Bank Dengan mempertimbangkan koreksi harga dan fundamental yang masih solid, Nafan merekomendasikan strategi accumulative buy untuk saham perbankan besar. Rekomendasi tersebut meliputi: - BBCA dengan target harga Rp 7.650 per saham - BBNI dengan target Rp 4.510 per saham - BBRI dengan target Rp 3.910 per saham - BMRI dengan target Rp 5.000 per saham
Menurutnya, koreksi jangka pendek justru membuka peluang akumulasi bagi investor berorientasi menengah hingga panjang, seiring prospek sektor perbankan yang masih resilien di tengah dinamika suku bunga dan likuiditas.
THR ASN 2026 Cair Awal Ramadhan! Menkeu Siapkan Rp 55 Triliun