Harga Saham BBNI Turun, RHB Sekuritas Pangkas Target Harga Tapi Tetap Rekomendasi Buy



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun paling dalam diantara bank besar lainnya. Pada Jumat (26/6/2026) hingga penutupan sesi siang saham BBNI turun 3,58% di Rp 3.230 per saham. 

Menurut analis RHB Sekuritas Indonesia David Chong dalam riset 24 Juni 2026, saham BBNI masih dinilai menarik meski tekanan terhadap margin bunga bersih alias net interest margin (NIM) diperkirakan meningkat pada paruh kedua 2026. 

Hal itu mendorong David memangkas target harga saham BBNI, namun tetap mempertahankan rekomendasi buy.


RHB Sekuritas menurunkan target harga saham BBNI menjadi Rp 4.560 per saham dari sebelumnya Rp 5.250. Meski demikian, target baru tersebut masih mencerminkan potensi kenaikan sekitar 33% dari harga saat ini, ditambah estimasi imbal hasil dividen sekitar 11% pada tahun 2026.

Baca Juga: Adu Kinerja Bank Buku IV Mei 2025: Himbara Melaju, Bank Swasta Melandai

"Kami mempertahankan rekomendasi buy. Meskipun kami memperkirakan bank-bank Indonesia akan menghadapi tekanan NIM yang lebih besar pada semester II 2026 setelah langkah Bank Indonesia untuk menopang rupiah, BBNI memiliki sejumlah faktor penyangga, termasuk neraca yang likuid, cadangan pencadangan yang kuat, serta valuasi dan dividend yield yang sudah mencerminkan sebagian besar sentimen negatif," tulis David dalam risetnya.

David menjelaskan, kinerja penyaluran kredit BBNI masih menunjukkan tren yang kuat. Hingga lima bulan pertama 2026, pertumbuhan kredit bank secara tahunan telah mencapai sekitar 16%, jauh di atas target manajemen yang berada di kisaran 8%-10%.

Menurutnya, pipeline kredit masih terjaga dengan baik, terutama dari segmen korporasi dan komersial yang diperkirakan tetap menjadi motor pertumbuhan hingga akhir tahun.

Di segmen ritel, BBNI memang lebih berhati-hati terhadap pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR) untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Namun, portofolio kredit personal dinilai masih mampu menopang pertumbuhan.

"Dengan awal tahun yang kuat dan pipeline kredit yang masih sehat, kami menilai BBNI berpeluang memenuhi target pertumbuhan kredit tahun ini," ujar David.

Di tengah kenaikan biaya dana, BBNI juga mulai mengalihkan fokus ke segmen kredit berimbal hasil lebih tinggi, khususnya nasabah kelas menengah.

RHB Sekuritas mencatat sekitar 22% portofolio kredit BBNI menggunakan suku bunga mengambang, 59% menggunakan managed rate, sementara sisanya berbunga tetap. Kondisi ini membuat bank tidak mudah sepenuhnya meneruskan kenaikan suku bunga kepada debitur karena persaingan mendapatkan nasabah berkualitas semakin ketat.

Di sisi pendanaan, BBNI justru lebih agresif menghimpun dana sejak awal tahun. Dana murah (CASA) maupun deposito tumbuh signifikan sehingga rasio loan to deposit ratio (LDR) turun menjadi 88,4% dari 93,3% setahun sebelumnya.

Strategi tersebut dinilai sebagai langkah antisipasi untuk memperkuat likuiditas sebelum persaingan perebutan dana semakin ketat.

Baca Juga: RUPST KB Bank Putuskan Laba Ditahan dan Angkat Dua Direktur Baru

RHB Sekuritas memperkirakan tekanan terhadap NIM akan semakin terasa pada paruh kedua 2026 seiring meningkatnya biaya pendanaan. Meski demikian, BBNI diyakini masih mampu mencapai target NIM konsolidasi sebesar 3,5%-3,8%, meski kemungkinan berada di batas bawah kisaran tersebut.

Sementara itu, kualitas aset secara umum masih dinilai solid. RHB Sekuritas memang mencatat adanya kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) pada segmen KPR berplafon kecil yang didominasi debitur berpenghasilan rendah. Namun, manajemen terus memperkuat pencadangan sehingga dinilai siap menghadapi potensi volatilitas ke depan.

"BBNI terus meningkatkan cadangan kerugian penurunan nilai sehingga memiliki bantalan yang memadai. Kami juga memperkirakan bank masih dapat memenuhi target credit cost tahun 2026 sebesar 1%-1,2%," kata David.

Meski tetap optimistis terhadap prospek saham BBNI, RHB Sekuritas merevisi turun proyeksi laba bersih periode 2026-2028 masing-masing sebesar 3%, 6%, dan 7%. Revisi tersebut terutama dipicu oleh asumsi NIM yang lebih rendah serta kenaikan asumsi tingkat bebas risiko menjadi 7%.

Penyesuaian itu menjadi dasar penurunan target harga menjadi Rp 4.560 per saham. Meski demikian, menurut David, valuasi BBNI saat ini masih menarik dengan potensi kenaikan harga yang besar serta didukung dividend yield dua digit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News