Harga Saham Blue Chip Ini Naik Usai Laba Melesat 37,7%, Masih Layak Beli atau Jual?
Rabu, 29 Juli 2026 06:48 WIB
Oleh: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) berhasil membukukan kinerja keuangan yang solid pada semester I-2026. Laba bersih emiten konsumer ini melonjak 37,7% secara tahunan (year on year/yoy), menjadi katalis positif yang mengangkat harga saham berkarakteristik blue chip tesebut setelah sempat tertekan dalam beberapa waktu terakhir. Lantas, dengan perbaikan fundamental yang mulai terlihat, apakah saham UNVR masih layak dikoleksi atau justru menjadi momentum untuk merealisasikan keuntungan? Pada perdagangan Selasa (28/7/2026), saham UNVR ditutup menguat 25 poin atau 1,49% ke level Rp 1.705 per saham. Meski demikian, dalam 30 hari terakhir saham anggota Indeks LQ45 ini masih mencatatkan pelemahan 65 poin atau 3,67%.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, Unilever Indonesia membukukan penjualan bersih sebesar Rp 16,90 triliun atau tumbuh 7,05% dibandingkan Rp 15,79 triliun pada semester I-2025. Kenaikan penjualan tersebut turut diikuti peningkatan beban pokok penjualan menjadi Rp 9,02 triliun dari sebelumnya Rp 8,17 triliun. Dengan demikian, laba bruto perseroan tercatat sebesar Rp 7,87 triliun, naik tipis dari Rp 7,62 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Teknikal Hari Ini (29/7): EMAS, INDF dan ADMR Secara rinci, segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh menyumbang penjualan sebesar Rp 12,36 triliun. Sementara segmen makanan dan minuman mencatatkan penjualan Rp 4,53 triliun. Dari sisi operasional, beban pemasaran dan penjualan relatif stabil di level Rp 3,67 triliun, sedikit turun dibandingkan Rp 3,68 triliun pada semester I-2025. Adapun beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp 1,67 triliun dari Rp 1,40 triliun. Perseroan juga membukukan penghasilan lain-lain neto sebesar Rp 54,79 miliar, berbalik dari beban lain-lain neto Rp 2,22 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Alhasil, laba usaha UNVR meningkat menjadi Rp 2,59 triliun dari Rp 2,54 triliun. Pada pos non-operasional, penghasilan keuangan melonjak menjadi Rp 74,55 miliar dari sebelumnya Rp 3,96 miliar. Di saat yang sama, biaya keuangan turun signifikan menjadi Rp 14,64 miliar dari Rp 67,18 miliar. Dengan demikian, laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp 2,65 triliun, meningkat dibandingkan Rp 2,48 triliun pada semester I-2025. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar Rp 566,09 miliar, laba dari operasi yang dilanjutkan mencapai Rp 2,08 triliun atau naik dari Rp 1,89 triliun. Kinerja laba bersih UNVR juga ditopang oleh kontribusi operasi yang dihentikan. Perseroan membukukan laba penjualan operasi yang dihentikan sebesar Rp 870,27 miliar, yang tidak tercatat pada periode yang sama tahun lalu. Alhasil, total laba dari operasi yang dihentikan setelah pajak mencapai Rp 887,86 miliar, meningkat tajam dibandingkan Rp 266,93 miliar pada semester I-2025. Secara keseluruhan, laba bersih Unilever Indonesia pada semester I-2026 mencapai Rp 2,97 triliun atau tumbuh 37,7% dibandingkan Rp 2,16 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Tonton: China Borong 173 Ton Emas Impor Tertinggi 2 Tahun, Ada Apa Prospek Kinerja UNVR Masih Positif Analis BRI Danareksa Sekuritas Indonesia, Abida Massi Armand, menilai penguatan penjualan dan laba UNVR menandai pertumbuhan positif selama empat kuartal berturut-turut. Menurutnya, pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan volume dasar sebesar 7,3% yang mencerminkan pemulihan permintaan riil di pasar. Selain itu, strategi tiga pilar kategori produk melalui inovasi berbasis sains dinilai mampu memperkuat posisi merek Unilever di tengah persaingan industri. Efisiensi biaya juga berhasil menjaga margin laba sebelum pajak tetap solid di level 15,7%. "Momentum pertumbuhan empat kuartal berturut-turut dapat menjadi fondasi yang kuat untuk semester II-2026," ujar Abida kepada Kontan, Selasa (28/7/2026). Ia menambahkan, sejumlah faktor yang berpotensi menopang kinerja UNVR ke depan antara lain pemulihan daya beli masyarakat secara bertahap, ekspansi produk dengan kemasan yang lebih terjangkau (value-oriented), serta potensi divestasi Buavita yang dapat memberikan tambahan laba non-recurring. Meski demikian, Abida mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu dicermati, seperti kenaikan biaya bahan baku dan logistik akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, serta semakin agresifnya persaingan produk lokal. Senada, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama menilai prospek UNVR pada semester II-2026 masih cukup positif. Hal tersebut didukung oleh momentum pertumbuhan volume penjualan, distribusi yang semakin luas, serta kinerja merek dan kanal penjualan yang lebih merata. "Penurunan biaya penataan operasional dan upaya efisiensi juga dapat membantu memperbaiki margin," ujar Kevin. Namun, ia menekankan bahwa kinerja UNVR tetap bergantung pada kemampuan perseroan menjaga volume penjualan dan daya saing produk di tengah kenaikan biaya input, pergerakan nilai tukar rupiah, serta persaingan harga di pasar. Karena itu, perkembangan gross margin dan respons konsumen terhadap penyesuaian harga produk menjadi faktor yang patut diperhatikan investor. Tonton: Rapat Perdana KSSK Plus Danantara Digelar, Ini yang Diahas Rekomendasi Saham UNVR
Dari sisi teknikal, Kevin merekomendasikan trading buy saham UNVR dengan target harga jangka pendek di kisaran Rp 1.845 hingga Rp 1.900 per saham. Sementara itu, Abida merekomendasikan buy untuk saham UNVR dengan target harga Rp 2.500 per saham. Rekomendasi tersebut didukung oleh pemulihan fundamental yang semakin tervalidasi, pertumbuhan volume organik yang kuat, dividend yield yang tetap menarik, serta potensi rerating seiring berlanjutnya tren pertumbuhan yang menunjukkan turnaround bisnis UNVR bukan hanya bersifat sementara. Dengan fundamental yang terus membaik dan prospek pertumbuhan yang masih terjaga, saham UNVR berpotensi kembali menarik perhatian investor. Kendati demikian, investor tetap perlu mencermati berbagai risiko eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja perseroan pada paruh kedua tahun ini.
BGN Larang Dapur MBG Pakai Gas Melon dan Minyakita, Sudaryono Bandel, Tutup Permanen