Harga Saham Blue Chip Perbankan Ini Turun Akhir Pekan Lalu, Analis Rekomendasi Beli



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham blue chip BBCA dari PT Bank Central Asia Tbk melemah cukup dalam pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat 10 November 2023. Dalam tren penurunan harga, analis rekomendasi beli saham blue tersebut karena memiliki prospek yang cerah hingga akhir tahun.

Saham blue chip adalah saham lapis satu di bursa efek. Saham blue chip biasanya memiliki kapitalisasi pasar besar dan fundamental yang bagus.

Di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham blue chip dikelompokkan dalam Indeks LQ45. Saham BBCA termasuk salah satu anggota Indeks LQ45 pada periode Agustus 2023-Februari 2024.


Harga saham BBCA pada perdagangan Jumat (1/11/2023) ditutup di level 8.825, turun 175 poin atau 1,94% dibandingkan sehari sebelumnya. Dalam perdagangan 5 hari terakhir, saham BBCA terakumulasi melemah 150 poin atau 1,67%.

Dengan penurunan itu, Analis Ciptadana Sekuritas Asia Erni Marsella Siahaan rekomendasi investor untuk beli. Rekomendasi saham beli saham BBCA juga disarankan oleh Senior Investment Information Mirae Aset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta.

Nafan merekomendasikan add untuk saham BBCA dengan target harga sebesar Rp 9.450 per saham. Sementara, Erni mempertahankan rekomendasi saham beli untuk BBCA dengan target harga sebesar Rp 10.300 per saham.

 
BBCA Chart by TradingView

Analis melihat, BCA masih berada di jalur pertumbuhan kredit double digit hingga kuartal III-2023. Momentum akhir tahun diharapkan bisa menjaga pertumbuhan kredit emiten bank swasta terbesar tersebut.

Erni menjelaskan BCA telah mencapai hasil yang sejalan dengan pertumbuhan pendapatan dari Januari hingga September sebesar 26% YoY menjadi Rp 36,4 triliun. Capaian itu mewakili sekitar 74% dari perkiraan Ciptadana Sekuritas untuk pendapatan setahun penuh BCA sebesar Rp 49,44 triliun.

Net Interest Income (NII) BCA dalam sembilan bulan tahun ini tetap sesuai dengan pertumbuhan 21% YoY, disertai biaya pencadangan turun melampaui ekspektasi sebesar 41% YoY yang berdampak pada biaya kredit alias Cost of Credit (CoC) yang lebih baik menjadi sebesar 0,4% per kuartal III-2023 dibandingkan 0,8% pada kuartal III-2022.

Alhasil, kinerja positif itu menciptakan biaya provisi yang lebih baik dari perkiraan. Namun sedikit diimbangi oleh lonjakan opex sebesar 17% YoY karena adanya peningkatan biaya General & Administration terkait Information Technology (IT).

Erni mengamati, dari sisi neraca, BCA menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Pertumbuhan kredit atau pinjaman tetap mengesankan sebesar 12% YoY dan naik 4% secara kuartalan (QoQ) menjadi Rp 748,25 triliun per kuartal III-2023. Ini melampaui pertumbuhan industri sebesar 9% YoY hingga September 2023.

Pertumbuhan pinjaman periode kuartal III-2023 didukung oleh semua segmen, namun akselerasi paling signifikan datang dari segmen korporasi terutama karena rebound dari level terendah di kuartal kedua. 

Sementara rasio dana murah atau current account saving account (CASA) dinilai masih cukup lemah pada kuartal III-2023 sebesar 79,9% yang lebih rendah 1,1% YoY dan 0,8% QoQ.

Secara keseluruhan, Erni mengungkapkan, BCA tetap optimistis pertumbuhan kredit akan mencapai 10%-12% pada tahun ini. BCA juga mengarahkan untuk mengoptimalkan Loan to Deposit Ratio (LDR) ke tingkat yang lebih normal di tahun depan.

Untuk diketahui, LDR BBCA mencapai 68,7% pada kuartal ketiga 2023 dibandingkan rata-rata sebelum pandemi sebesar 80%. LDR yang lebih tinggi akan berdampak positif bagi NIM bank, terutama sebagai proteksi pada saat ada kebijakan penurunan suku bunga di tahun mendatang.

“BBCA mencetak pertumbuhan neraca yang kuat, dengan ruang yang cukup untuk normalisasi LDR,” ungkap Erni dalam riset 20 Oktober 2023.

Dari sisi kualitas pinjaman, Non Performing Loan (NPL) BCA naik tipis menjadi 2,0% di kuartal ketiga dibandingkan 1,9% di kuartal II-2023. Dan juga, Pinjaman Berisiko (LAR) terpantau mengesankan menjadi 7,6% pada kuartal ketiga ketimbang 8,6% pada kuartal kedua lalu.

“Ini memungkinkan manajemen untuk menurunkan target LAR menjadi 7,1%-7,5% pada tahun 2023 dari target sebelumnya sebesar 8,0%- 8,5%,” jelas Erni.

Erni berharap BCA dapat mengambil manfaat dari kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang tidak terduga menjadi 6%. Seharusnya keputusan tersebut memberi BCA ruang untuk meningkatkan harga pinjaman dan bisa memulihkan Margin Bunga Bersih (NIM).

Nafan Aji Gusta menambahkan kebijakan suku bunga BI yang naik tidak terduga nampaknya belum bisa memberikan dampak bagi kinerja BBCA hingga akhir tahun ini.

Dampak kenaikan suku bunga BI terhadap pinjaman kredit baru bisa terlihat ke di ke depannya yang pada akhirnya membantu peningkatan Net Interest Margin (NIM).

Namun, momentum natal dan tahun baru (nataru) dapat mendukung konsumsi domestik di akhir tahun. Ditambah lagi, adanya potensi permintaan kredit yang lebih tinggi menjelang tahun pemilihan umum.

“Pertumbuhan kredit diharapkan bisa kembali double digit di kuartal terakhir ini,” imbuh Nafan saat dihubungi Kontan.co.id, Rabu (8/11).

Itulah rekomendasi saham blue chip sektor perbankan untuk perdagangan hari ini, Jumat 13 November 2023. Ingat, segala risiko investasi atas rekomendasi saham di atas menjadi tanggung jawab Anda sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Adi Wikanto