Harga Saham BUMN Tambang Ini Rp 3.120, Analis Prediksi Akan Naik Jadi Rp 4.700
Senin, 07 September 2026 06:48 WIB
Oleh: Avanty Nurdiana | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) masih tren melemah pada September 2026. Analis prediksi harga saham badan usaha milik negara (BUMN) tambang emas dan nikel ini bisa naik tinggi hingga mencapai Rp 4.700 per saham. Harga saham ANTM ditutup melemah 0,95% di level Rp 3.120 per saham pada Jumat (4/9/2026). Sebulan terakhir, harga saham ANTM terakumulasi melemah 1,27% atau 40 poin. Harga saham ANTM diproyeksi bisa naik seiring perbaikan kinerja. Prospek kinerja Antam diproyeksikan semakin solid memasuki paruh kedua tahun 2026. Di tengah mulai melandainya momentum bisnis emas yang sebelumnya menjadi motor utama, penguatan kontribusi dari lini bisnis nikel diandalkan untuk menjaga stabilitas margin dan kualitas laba perseroan agar tetap berkelanjutan.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan, dalam risetnya per 2 September 2026, mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ANTM dengan target harga tetap berada di level Rp 4.700 per saham. Menurut Hasan, komposisi laba perseroan saat ini dinilai jauh lebih seimbang dan berkelanjutan menjelang paruh kedua 2026. Baca Juga: Prospek GIAA dan CMPP Jelang Nataru, Harga Avtur Jadi Perhatian Realisasi Semester I 2026 Lampaui Konsensus Pasar Sepanjang semester I 2026, ANTM mencatatkan pencapaian finansial yang sangat kuat dan jauh melampaui estimasi dari Maybank Sekuritas maupun konsensus pasar secara keseluruhan:
Pendapatan: Naik 6% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 62,7 triliun.
EBITDA: Melesat signifikan 33% yoy menjadi Rp 8,98 triliun.
Laba Bersih: Tumbuh 36% yoy mencapai Rp 6,39 triliun, yang mencakup sekitar 67,8% dari proyeksi tahun berjalan Maybank Sekuritas dan 61,5% dari konsensus pasar.
Meskipun memasuki kuartal II 2026 sempat terjadi normalisasi kuartalan—di mana pendapatan tercatat Rp 33,4 triliun (naik 14% secara kuartalan/q-o-q tetapi tumbuh tipis 2% yoy), sementara laba bersih terkoreksi 12% q-o-q menjadi Rp 2,98 triliun—kinerja operasional secara tahunan tetap berada di jalur positif dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 16% yoy. Tonton: Akuisisi SINI, Strategi Baru CUAN Perbesar Gurita Bisnis Bisnis Nikel Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru Lonjakan profitabilitas ANTM ditopang oleh kinerja nikel yang terintegrasi sangat baik. Penjualan feronikel pada kuartal II 2026 meroket tajam sebesar 71% q-o-q dan 420% yoy menjadi 4.802 ton nikel (tNi). Secara akumulatif, penjualan feronikel paruh pertama 2026 tumbuh 32% yoy menjadi 7.605 tNi. Tidak hanya dari volume, penguatan juga terjadi pada sisi harga jual rata-rata (average selling price/ASP) bijih nikel yang melonjak 22% q-o-q dan 50% yoy menjadi US$81,6 per wet metric ton (wmt) pada kuartal II 2026. Sebaliknya, bisnis emas mulai menunjukkan normalisasi setelah lonjakan pembelian pada paruh pertama tahun ini mereda. Penjualan emas kuartal II 2026 tercatat pulih 309 ribu troy ounce (koz) atau naik 14% q-o-q, namun secara tahunan masih terkoreksi 38% yoy. Kendati demikian, lini non-emas turut memberikan bantalan positif. Penjualan bauksit pada semester I 2026 tercatat tumbuh 23% yoy, sementara volume produk chemical grade alumina (CGA) meningkat 10%. Tonton: Gunung Anak Krakatau Meletus, Abu Vulkanik Ganggu Langit Jawa-Sumatera Proyeksi Keuangan dan Valuasi Jangka Menengah
Maybank Sekuritas mempertahankan proyeksi kinerja keuangan ANTM untuk periode 2026–2028. Normalisasi pada bisnis logam mulia di paruh kedua diyakini bakal terkompensasi dengan baik oleh penguatan volume dan harga nikel. Hasan memperkirakan hingga akhir tahun 2026, ANTM berpotensi mengantongi pendapatan hingga Rp 130,53 triliun dengan perolehan laba bersih mencapai Rp 9,26 triliun. Sementara itu, pada tahun 2027, pendapatan dan laba bersih diproyeksikan masing-masing tumbuh mencapai Rp 136,54 triliun dan Rp 10,14 triliun. Solidnya fundamental dan integrasi portofolio nikel diyakini menjadi katalis kuat bagi valuasi jangka menengah perseroan.
Merger BUMN Karya Makin Dekat atau Justru Molor? Ini Jawaban ADHI dan PTPP