Harga Saham Emiten Emas Melorot 5% 5 Hari, Analis Rekomendasi Beli
Selasa, 15 September 2026 07:29 WIB
Oleh: Vivit Dewi | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melorot dalam perdagangan September 2026. Analis menyebut pelemahan harga saham emiten emas ini menjadi kesempatan bagus untuk mulai dikoleksi. Harga saham HRTA pada akhir perdagangan Senin 14 September 2026 di Rp 2.120 turun 50 poin atau 2,30% secara harian. Selama lima hari terakhir, harga saham HRTA terakumulasi melemah 5,78%. Dibalik pelemahan tersebut, analis menyatakan saham HRTA memiliki prospek cerah untuk investasi. Hal ini tak lepas dari prospek kinerja Hartadinata yang diprediksi meningkat hingga akhir tahun 2026.
Pertumbuhan penjualan emas, kenaikan harga emas, dan ekspansi jaringan gerai menjadi katalis yang menopang prospek emiten perhiasan emas tersebut. Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (14 September 2026), MDKA dan AMMN Disorot Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, kinerja HRTA pada semester I 2026 menunjukkan pertumbuhan signifikan. Pendapatan perseroan pada periode tersebut mencapai Rp 33,8 triliun, tumbuh 124,61% secara tahunan atau year on year (YoY). Sementara itu, laba bersih HRTA melonjak 100,86% YoY menjadi Rp 700,01 miliar. Pertumbuhan tersebut didukung kenaikan volume penjualan emas sebesar 46,74% serta peningkatan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) sebesar 53,21% YoY. Pendapatan dari Pegadaian dan BSI meningkat Kinerja penjualan emas HRTA juga ditopang pertumbuhan kontribusi dari mitra perbankan dan lembaga keuangan. Pendapatan perseroan dari Pegadaian pada kuartal II 2026 mencapai Rp 8,4 triliun. Angka tersebut tumbuh 75,6% YoY. Sementara itu, pendapatan dari Bank Syariah Indonesia (BSI) meningkat 37,7% secara kuartalan atau quarter on quarter (QoQ) menjadi Rp 3,3 triliun pada kuartal II 2026, dari Rp 2,4 triliun pada kuartal I 2026. Jika digabungkan, kontribusi Pegadaian dan BSI mencapai 85,8% dari total pendapatan HRTA pada kuartal II 2026. Kontribusi tersebut meningkat dibandingkan kuartal I 2026 yang sebesar 76,7%. Menurut Abida, prospek jangka panjang HRTA masih kuat seiring ekspansi jaringan gerai dan perkembangan ekosistem emas domestik. “HRTA tetap layak dikoleksi sebagai pemain integrated gold ecosystem terbesar di Indonesia dengan valuasi masih di bawah wajarnya, meski panduan kinerja 2026 sudah direvisi lebih konservatif,” ujar Abida kepada Kontan, Senin (14/9/2026). Baca Juga: Mulai Hari Ini, Selasa (15/9/2026), BEI Berlakukan Short Selling Secara Bertahap Harga emas dan fasilitas kredit jadi katalis HRTA Abida menilai, harga emas yang bertahan di atas US$ 4.000 per ons troi menjadi salah satu katalis positif bagi HRTA. Selain itu, penguatan fasilitas kredit dari Bank Mandiri menjadi Rp 2,17 triliun juga dinilai dapat mendukung pertumbuhan bisnis perseroan. Dengan dukungan tersebut, Abida masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek HRTA meski perusahaan melakukan revisi panduan kinerja 2026. Analis MNC Sekuritas pangkas proyeksi volume penjualan emas Di sisi lain, Research Analyst MNC Sekuritas Raka Junico W. melakukan penyesuaian terhadap proyeksi volume penjualan emas HRTA tahun 2026. Raka memangkas estimasi volume penjualan emas menjadi 26,3 ton, dari proyeksi sebelumnya sebesar 32,1 ton. Namun, asumsi harga jual rata-rata dinaikkan menjadi Rp 2,4 juta per gram dari sebelumnya Rp 2,19 juta per gram. Penyesuaian tersebut dilakukan di tengah tekanan margin bisnis grosir HRTA. “Penurunan secara kuartalan terutama disebabkan oleh penurunan margin bisnis grosir menjadi 2,7% pada 2Q26, dibandingkan 3,0% pada 1Q26 dan 3,6% pada 2Q25,” tulis Raka dalam risetnya tertanggal 12 Agustus 2026. Tonton: Pendapatan HRTA Meledak 65%, Pegadaian dan BSI Jadi Penopang Target harga saham HRTA Rp 2.800 hingga Rp 3.300 Meski menghadapi tekanan margin, Raka masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek saham HRTA. Salah satu katalis yang diperhitungkan adalah tambahan permintaan yang berpotensi berasal dari dua bank baru pada paruh kedua 2026 hingga awal 2027. Ekspansi jaringan gerai hingga mencapai 100 gerai juga diperkirakan dapat mendukung pertumbuhan bisnis perseroan ke depan. “Kami masih melihat prospek HRTA tetap positif karena harga emas tampaknya telah mencapai titik terendahnya. Meskipun retorika bank sentral masih cenderung hawkish, permintaan global tetap kuat berdasarkan pengamatan kami,” tulis Raka. Berdasarkan asumsi tersebut, Raka memproyeksikan pendapatan HRTA pada 2026 mencapai Rp 63,27 triliun. Laba bersih diperkirakan mencapai Rp 1,36 triliun. Proyeksi tersebut mencerminkan pertumbuhan pendapatan sekitar 42% dan laba bersih sekitar 38,7% secara tahunan. Dengan mempertimbangkan prospek tersebut, Raka memberikan rekomendasi Buy untuk saham HRTA dengan target harga Rp 2.800 per saham. Senada, Abida juga mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham HRTA. BRI Danareksa Sekuritas menetapkan target harga lebih tinggi, yakni Rp 3.300 per saham.