Harga saham emiten tambang minyak tertekan penurunan harga komoditas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren penurunan harga minyak mentah dunia dinilai akan berdampak negatif terhadap kinerja emiten-emiten di sektor penambangan minyak di sisa tahun ini.

Sebagai informasi, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) di New York Mercantile Exchange berada di level US$ 60,21 per barel pada perdagangan Jumat (9/11) lalu. Ini merupakan posisi terendah sejak Maret 2018.

Setali tiga uang, tren penurunan juga terjadi pada minyak jenis Brent di ICE Futures yang pada Jumat lalu bertengger di level US$ 70,18 per barel. Posisi ini merupakan yang terendah sejak Agustus 2018.


Analis NH Korindo Sekuritas, Firman Hidayat mengatakan, kinerja keuangan emiten tambang minyak terancam tergerus akibat tren penurunan harga minyak dunia akhir-akhir ini. Sebab, harga jual rata-rata dari emiten tersebut berpotensi terpangkas sekitar 5%-6%. “Ditambah lagi, produksi minyak oleh emiten sektor ini juga diprediksi cenderung flat,” imbuhnya, Jumat lalu.

Tekanan bertambah mengingat di awal November indeks dollar AS kerap kali melemah. Hal ini bisa mempengaruhi laba dari emiten-emiten minyak yang mayoritas berorientasi ekspor. Pendapatan emiten juga bisa tertekan jika volume penjualan minyak cenderung stagnan di tengah koreksi dollar AS dan harga minyak dunia.

Meski begitu, Kepala Riset Narada Asset Asset Manajemen, Kiswoyo Adi Joe tetap yakin kinerja emiten-emiten di bidang penambangan minyak tetap terjaga di sisa tahun ini. Pasalnya, penurunan harga minyak dunia sendiri diperkirakan tidak akan terjadi dalam jangka panjang.

Menurutnya, selama harga minyak dunia tidak berada di bawah US$ 55 per barel, emiten minyak masih bisa berpeluang memperoleh laba. Hal ini disebabkan biaya produksi minyak oleh pihak emiten pada umumnya berada di kisaran US$ 50 tiap barel. “Emiten-emiten di sektor minyak seharusnya sudah jauh-jauh hari memperkirakan arah pergerakan harga minyak,” ucapnya, akhir pekan lalu.

Prediksi Firman, harga minyak dunia untuk jenis WTI akan bergerak di rentang US$ 60—US$ 73 per barel hingga akhir tahun nanti. Faktor utama yang mempengaruhi harga minyak ke depan masih seputar produksi minyak AS dan OPEC serta dinamika geopolitik yang melibatkan negara-negara produsen minyak dunia.

Dengan kondisi demikian, ia menjagokan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) sebagai emiten minyak yang berpotensi meraih kinerja memuaskan di akhir tahun nanti. Hal tersebut didukung oleh margin profitabilitas yang mencapai 7,68% pada semester pertama lalu, lebih tinggi dari PT Elnusa Tbk (ELSA) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) masing-masing sebesar 4,87% dan 1,59%.

MEDC direkomendasikan beli oleh Firman dengan target Rp 1.025 per saham. Kiswoyo juga memfavoritkan MEDC dan memberi rekomendasi beli dengan target Rp 1.200 per saham. Jumat (9/11), harga saham MEDC turun 3,59% ke level Rp 805 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati