Harga Saham Ini Melesat 318%, Cek Penjelasan Resmi Manajemen Perusahaan Pemilik ANTV
Selasa, 18 Agustus 2026 06:54 WIB
Oleh: Avanty Nurdiana | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) melesat tajam dalam sebulan hingga akhirnya dihentikan sementara perdagangannya (suspensi) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Ada apa dengan saham MDIA? Berikut penjelasan resmi manajemen Intermedia Capital. Pada perdagangan Rabu (12/8/2026), sehari sebelum suspensi berlaku, saham MDIA ditutup di level Rp280 per saham. Harga tersebut naik 13,82% dalam sehari. Jika dihitung dalam sebulan, saham pengelola stasiun televisi ANTV tersebut telah meroket sekitar 317,91%. Sementara dalam lima hari perdagangan terakhir, saham MDIA menguat sekitar 25%.
Lonjakan harga yang agresif tersebut mendorong BEI menghentikan sementara perdagangan saham MDIA di seluruh pasar mulai Kamis (13/8/2026) sampai dengan pengumuman lebih lanjut. Di tengah suspensi tersebut, manajemen PT Intermedia Capital Tbk memberikan penjelasan kepada Bursa mengenai pergerakan harga saham MDIA. Sekretaris Perusahaan MDIA Andrew Santoni Hutasoit mengatakan, pergerakan harga saham merupakan bagian dari mekanisme pasar yang dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari penawaran dan permintaan, likuiditas, hingga sentimen investor. Menurut manajemen, pergerakan harga saham dalam jangka pendek tidak selalu mencerminkan kinerja operasional perseroan. Aktivitas perdagangan saham juga dapat dipengaruhi ekspektasi investor terhadap prospek industri, optimalisasi aset, serta berbagai langkah efisiensi yang dilakukan perusahaan. Tonton: Indonesia Ekspor 1.000 Ton Beras ke Malaysia, Harganya Rp17.000 per Kg MDIA masih rugi, tetapi kerugian menyusut Lonjakan saham MDIA terjadi ketika perseroan masih mencatatkan rugi bersih. Namun, kinerja keuangan pada kuartal I 2026 menunjukkan adanya perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kuartal I 2026, MDIA membukukan pendapatan Rp141,7 miliar. Perseroan juga mencatat laba usaha Rp14,3 miliar. Adapun rugi bersih berhasil ditekan menjadi Rp8,3 miliar, dari sebelumnya Rp58,3 miliar pada kuartal I 2025. Perbaikan terutama berasal dari penurunan beban lain-lain neto. Beban tersebut turun menjadi Rp22,6 miliar dari Rp90,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rugi selisih kurs juga menyusut menjadi Rp8,8 miliar dari sebelumnya Rp48,2 miliar. Dari sisi neraca, total aset MDIA per 31 Maret 2026 mencapai sekitar Rp3,13 triliun. Ekuitas perseroan tercatat positif Rp935,5 miliar. Sementara itu, total liabilitas turun menjadi Rp2,19 triliun dari Rp2,39 triliun pada 31 Desember 2025. Penurunan tersebut mencapai sekitar Rp199,5 miliar atau 8,3%. Tonton: Trump Klaim Selat Hormuz Jadi Wilayah AS, Iran Langsung Membantah ANTV masih menjadi mesin utama MDIA Manajemen menyebut bisnis penyiaran melalui ANTV masih menjadi motor utama perseroan. ANTV mempertahankan fokus pada konten hiburan keluarga dengan target utama pemirsa perempuan dan ibu rumah tangga. Untuk meningkatkan efisiensi, MDIA mengandalkan serial India dan film klasik Indonesia. Perseroan juga melakukan revitalisasi Master Control Room (MCR) serta mengoptimalkan penggunaan transponder. Di sisi digital, MDIA memperluas distribusi konten melalui sinergi Grup VIVA. Konten free-to-air (FTA) ANTV didistribusikan kembali melalui YouTube, Facebook, dan Instagram untuk menjangkau audiens digital. Memasuki 2026, perseroan juga menyiapkan sejumlah strategi, antara lain memperkuat portofolio serial lokal pada jam prime time, mengeksplorasi serial asing dari pasar yang belum banyak digarap, memperluas kegiatan off-air, serta meningkatkan efisiensi di seluruh rantai operasional. Tonton: Target Penerimaan Tinggi, Siap Siap Pajak Baru pada 2027 Manajemen bantah ada informasi material yang disembunyikan Di tengah lonjakan saham MDIA, manajemen memastikan tidak terdapat informasi material yang salah maupun informasi material yang belum disampaikan kepada publik. Perseroan juga menyatakan tidak terdapat fakta material penting lainnya yang disembunyikan dari publik ataupun investor. Setelah periode laporan keuangan per 31 Maret 2026, MDIA menyatakan tidak terdapat perolehan kontrak baru, sumber pendapatan baru yang signifikan, maupun transaksi material lain yang belum diungkapkan. Perseroan juga menyatakan tidak terdapat perkara hukum yang berdampak material yang sedang dihadapi perusahaan, anak usaha, maupun anggota Direksi dan Dewan Komisaris. Dengan demikian, manajemen meminta pergerakan saham MDIA dilihat dalam konteks mekanisme pasar dan sentimen investor, bukan semata-mata sebagai cerminan kinerja operasional jangka pendek. Baca Juga: Ada WFH Di Jakarta, Bagaimana Jadwal Operasional Bursa Saham Hari ini? Prospek industri media masih positif Di tengah transformasi digital, MDIA masih melihat prospek industri media dan hiburan Indonesia cukup positif. Mengutip PwC Global Entertainment & Media Outlook 2025–2029, pendapatan industri hiburan dan media Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) 8,4% hingga 2029. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 4,2%. PwC juga memperkirakan iklan televisi siaran (broadcast TV advertising) Indonesia tumbuh dengan CAGR 7,7% hingga 2029. Sementara itu, iklan connected TV dan iklan video di media sosial menjadi bagian dari pertumbuhan ekosistem digital. Bagi MDIA, televisi FTA masih memiliki peran penting untuk membangun mass awareness secara nasional, terutama di luar Jakarta.
Model tersebut kemudian dapat dikombinasikan dengan distribusi digital untuk menjangkau audiens yang semakin terfragmentasi. Dengan fundamental yang mulai membaik tetapi belum membukukan laba bersih, kenaikan harga MDIA yang sangat tajam menjadi dinamika yang perlu dicermati investor. Apalagi, suspensi BEI menunjukkan bahwa lonjakan aktivitas perdagangan saham tersebut telah menjadi perhatian Bursa.
1074 BUMN Dipangkas Jadi 200, Pemerintah Hemat Rp50 Triliun