Harga Saham Ini Naik 23% Sebulan, Analis Rekomendasi Beli, Proyeksi Kinerja Meningkat
Selasa, 08 September 2026 05:00 WIB
Oleh: Vivit Dewi | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Harga saham PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) naik pesat dalam sebulan terakhir meski pasar saham bergerak labil. Walaupun telah naik tinggi, analis tetap rekomendasi beli saham ERAA. Emiten ritel dan distribusi perangkat elektronik yang berhubungan dengan telekomunikasi ini diprediksi memiliki kinerja bagus hingga akhir tahun 2026. Hal ini bisa menjadi sentimen positif yang mendorong pergerakan harga saham ERAA. Harga saham ERAA pada perdagangan Senin 7 September 2026 di Rp 575 turun 15 poin atau 2,54% secara harian. Selama sebulan terakhir, harga saham ERAA terakumulasi naik 23,92%.
Di saat bersamaan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik 3,28% selama 30 hari terakhir ke Rp 6.619,67. Kinerja Erajaya diproyeksikan tetap solid di tengah berbagai tantangan industri, didorong oleh tren premiumisasi smartphone serta penguatan portofolio bisnis di luar segmen handset. Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jonathan Guyadi, memperkirakan penjualan ERAA pada kuartal III 2026 mampu tumbuh sebesar 4,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, lonjakan yang lebih signifikan diproyeksikan terjadi pada sisi laba bersih yang diperkirakan melesat hingga 53% yoy, terutama ditopang oleh tren up-trading atau pergeseran konsumen menuju smartphone dengan harga jual rata-rata yang lebih tinggi (average selling price/ASP). “Sebagian besar merek telah meluncurkan model premium baru untuk meneruskan kenaikan biaya chipset global kepada konsumen,” jelas Jonathan dalam risetnya yang dirilis pada 17 Juli 2026. Baca Juga: PTBA Incar Pendapatan Bisnis Hilirisasi Bisa Sumbang Hingga 20% dalam 3-4 Tahun Tren Positif SSSG dan Permintaan Produk Flagship Kinerja operasional ERAA juga tercermin dari indikator Same-Store Sales Growth (SSSG) perseroan pada lima bulan pertama tahun 2026 yang tercatat di level 7,2%. Permintaan konsumen domestik terhadap perangkat flagship kelas atas, seperti lini iPhone 17 Pro Max, terpantau masih sangat kuat. Selain lini handset, pertumbuhan ERAA turut ditopang oleh ekspansi bisnis active lifestyle melalui anak usahanya, PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL). Sepanjang lima bulan pertama 2026, ERAL membukukan SSSG yang impresif sebesar 10,8%, didukung oleh kontribusi positif dari berbagai lini produk gaya hidup aktif. Tonton: Harga SBN Turun, BI Bisa Rugi? Ini Penjelasannya Peluang di Tengah Tekanan Volume Global Meskipun pengiriman smartphone global pada tahun 2026 diproyeksikan mengalami koreksi sebesar 13,9%—berdasarkan data IDC—kenaikan blended ASP secara global justru diprediksi meningkat sekitar US100menjadiUS550. Segmen kelas atas dengan harga di atas US$ 600 bahkan diperkirakan tumbuh 30% yoy, kontribusinya mencapai 8,3% dari total pengiriman, sementara segmen di bawah US$ 150 justru terkoreksi 19%. Kondisi ini dimanfaatkan secara optimal oleh ERAA yang memiliki posisi pasar yang kuat pada produk-produk segmen premium. Untuk mengantisipasi risiko fluktuasi nilai tukar rupiah, manajemen perseroan telah menyiapkan strategi penyangga (buffer) persediaan lebih awal serta memperkuat dukungan promosi guna menjaga volume penjualan tetap stabil. Tonton: Jagung Murah untuk Peternak, Tapi Peternak Masih Tertekan Valuasi Menarik dan Aksi Korporasi Buyback Saham
Dalam jangka panjang, ERAA terus berfokus memperluas kontribusi pendapatan dari lini bisnis active dan lifestyle hingga mencapai kisaran 25–30% dari total pendapatan guna mendongkrak Return on Equity (ROE). Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham ERAA dengan target harga Rp 500 per saham, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 35,9% dari harga acuan riset di level Rp 368. Di sektornya, ERAA dinilai memiliki valuasi yang atraktif, diperdagangkan pada P/S 2026F sebesar 0,1 kali dan proyeksi P/E 2026 sebesar 3,5 kali, serta menawarkan proyeksi dividend yield menarik sebesar 7,2%. Sebagai wujud komitmen terhadap pemegang saham, ERAA juga tengah menjalankan aksi korporasi berupa pembelian kembali (buyback) saham dengan alokasi dana maksimal Rp 500 miliar. Aksi ini dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan mulai 4 September hingga 4 Desember 2026, dengan menyasar hingga 797,5 juta saham atau setara dengan 5% dari modal disetor penuh.
Sederet Kasus Direktorat Pajak di Era Purbaya: Dari Suap hingga Transfer Pricing