KONTAN.CO.ID - PARIS/LONDON. Industri akal imitasi (AI) sepertinya tidak ada hubungan dengan produsen barang-barang mewah. Tapi pergerakan saham produsen barang mewah, seperti LVMH dan Kering, ternyata terpengaruh oleh kekhawatiran investor atas utang besar yang dibuat perusahaan AI. Harga saham perusahaan produsen barang bermerek telah turun dalam. Saham LVMH, misalnya. Kapitalisasi pasar grup produsen barang mewah terbesar di dunia ini tersisa € 260 miliar, setelah harga sahamnya mengalami penurunan harian terbesar sejak 2020. Sejumlah besar posisi
short mendorong para penjual
short untuk bergegas keluar. Investor memasang taruhan, penurunan harga saham akan menyebabkan fluktuasi harga yang besar, dengan hasil yang lebih baik dari yang diharapkan. Ini mendorong para penjual short untuk bergegas keluar.
Baca Juga: Menyuarakan Kisah Para Pengungsi ke Dunia Melalui Film, Uniqlo Donasikan 100.000 Euro Menurut laporan
Reuters, Selasa (17/2/2026), aksi jual terkait AI yang meluas di pasar saham AS baru-baru ini berisiko mengurangi daya beli konsumen kelas atas. Dus, ini membuat prospek produsen barang mewah makin suram. Ketergantungan industri barang mewah pada pengeluaran orang kaya membuatnya lebih rentan terhadap pasar saham AS. Seperti diketahui, setelah mengalami kenaikan pesat, kini mengalami fluktuasi yang semakin liar akibat tren AI. CEO Kering Luca de Meo mengatakan, pasar saham merupakan barometer pengeluaran barang mewah warga AS. Ia menandai koreksi pasar AI sebagai risiko bagi grup barang mewah Eropa.
Baca Juga: Harga Saham DNAR Lompat Kodok, Begini Kata Direktur OK Bank Soal Upaya Mengerek Modal "Banyak warga Amerika memiliki tabungan yang diinvestasikan dalam saham, jadi jika pasar tetap stabil, konsumsi akan terus mendorong pertumbuhan. Jika terjadi penurunan tajam, gelembung AI, dan sebagainya, maka kita akan membicarakannya lagi," kata de Meo, seperti dikutip
Reuters. Di sisi lain, taruhan
hedge fund pada saham mewah memperburuk pergerakan harga. Menurut penyedia data
hedge fund Hazeltree, saham barang mewah dan sektor barang konsumsi non-esensial yang lebih luas termasuk di antara saham yang paling banyak di-short menjelang musim laporan keuangan ini. Pengaruh
hedge fund yang semakin besar telah mendorong volatilitas yang lebih besar pada saham Eropa secara lebih luas dalam beberapa tahun terakhir. Sementara
hedge fund memperdagangkan fluktuasi sentimen pasar, investor jangka panjang di perusahaan barang mewah harus tetap bertahan.
Baca Juga: Kering Catat Penurunan Penjualan Didorong Hasil Kinerja Gucci "Karena pasar mencapai rekor tertinggi dan sangat terkonsentrasi dengan valuasi tinggi, jelas orang-orang sangat gugup dan semua orang ingin menekan tombol jual," kata Christopher Rossbach,
Managing Partner J. Stern & Co di London, yang memegang saham LVMH. Penjualan tas tangan mahal dan pakaian desainer telah merosot di banyak merek, ternama termasuk Dior dan Gucci, setelah
booming pasca-pandemi. Investor sekarang sangat memperhatikan sinyal apa pun yang menunjukkan sektor ini kembali tumbuh. Sejauh ini, gambaran yang didapat beragam. Menurut Michael Oliver Weinberg, seorang investor
hedge fund dan penasihat khusus untuk Tokyo University of Science Endowment, ada dua faktor yang mendorong volatilitas saham produsen barang mewah.
Baca Juga: Hennessy Capai Kesepakatan Upah dengan Pekerja di Tengah Tekanan Kinerja LVMH Pertama, faktor indeksasi. Menurut Weinberg, indeksasi membuat pengelola dana besar mengunci modalnya di satu saham dalam jangka waktu lama, mengikuti indeks. Ini membuat saham yang bisa diperdagangkan secara aktif berkurang. "Indeksasi telah mengunci modal dalam posisi beli dan tahan, sehingga modal jadi pasif," kata Weinberg. Kedua, pasar sekarang didominasi oleh
hedge fund multi-manajer. Para
hedge fund multi-manajer ini secara khusus berdagang melawan berita dan titik data ketika mereka memiliki keunggulan riset atau informasi.