Harga Saham Mulai Bangkit, Komisaris DRMA Profit Taking dengan Jual 143.000 Saham
Senin, 12 Oktober 2026 08:15 WIB
Oleh: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komisaris PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA), Noel Aelyo Laras Kusuma Negara, tarik untung dengan menjual kepemilikan saham di perusahaan. Penjualan berlangsung di tengah tren kenaikan harga saham DRMA. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Noel menjual saham DRMA sebanyak 143.300 lembar pada 2 dan 5 Oktober 2026. Penjualan tersebut dilakukan pada rentang harga Rp 930 hingga Rp 940 per saham. Berikut rincian penjualan saham DRMA oleh Noel:
Tanggal penjualan
Jumlah saham terjual
Harga per saham
2 Oktober 2026
10.000 lembar
Rp 940
2 Oktober 2026
33.300 lembar
Rp 935
5 Oktober 2026
88.600 lembar
Rp 930
5 Oktober 2026
11.400 lembar
Rp 935
Total
143.300 lembar
Baca Juga: Jadi Saham Cepek, Grup EMTEK Perkuat Pemilikan Saham Di Bukalapak Total dana hasil penjualan mencapai Rp 133,59 juta, sebelum memperhitungkan pajak dan biaya transaksi yang berlaku. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan saham Noel di DRMA berkurang menjadi sekitar 84,38 juta saham atau setara 1,79% dari total saham perseroan. Sebelumnya, ia tercatat memiliki sekitar 84,52 juta saham atau 1,80%. Penjualan ini terjadi setelah Noel melakukan pembelian sebanyak 5 juta saham DRMA pada 30 September 2026 dengan harga Rp 800 per saham. Saham DRMA menguat pada perdagangan terakhir
Di pasar saham, DRMA ditutup pada level Rp 960 per saham pada perdagangan Jumat (9/10/2026). Harga tersebut menguat Rp 20 atau 2,13% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Harga saham DRMA mulai bangkit usai mengalami pelemahan sejak awal tahun 2026. Pada Januari 2026, harga saham DRMA sempat mencapai Rp 1.100. Setelah itu harga saham DRMA melorot hingga mencapai titik terendah tahun ini Rp 835 pada 29 Juni lalu. Transaksi saham oleh pengurus atau komisaris perusahaan tidak serta-merta mencerminkan prospek kinerja emiten. Investor tetap perlu mempertimbangkan keterbukaan informasi, kinerja keuangan, serta perkembangan bisnis perseroan sebelum mengambil keputusan investasi.
Asing Kabur Rp111 Triliun, Apa yang Salah dari Pasar Indonesia?