Harga Saham Tambang Emas Tren Naik April 2026, Saatnya Beli atau Taking Profit?
Senin, 13 April 2026 05:41 WIB
Oleh: Dimas Andi | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham perusahaan tambang emas terus menguat pada April 2027 meskipun banderol emas global masih cenderung melandai di tengah konflik militer Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Apakah kebangkitan harga saham emiten produsen emas ini layak untuk dibeli atau malah saatnya taking profit? Dalam sepekan terakhir, mayoritas saham emiten emas mencatatkan penguatan signifikan. Saham PT Amman Mineral Internasional (AMMN) misalnya, melonjak 15,43% ke level Rp 5.425 per saham hingga Jumat (10/4/2026). Kenaikan juga terjadi pada PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang melesat 14,97% ke Rp 845 per saham, serta PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang naik 10,25% ke Rp 1.560 per saham.
Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat 1,92% ke Rp 3.710 per saham. Adapun PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) relatif stagnan di Rp 510 per saham. Di sisi lain, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) justru terkoreksi 1,23% ke Rp 3.220 per saham. Begitu pula PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang turun 0,91% ke Rp 8.125 per saham. Baca Juga: Yield 6%, Ini Jadwal Pembayaran Dividen Saham AVIA, Harga Saham Hanya 380 Faktor Pendorong Kenaikan Saham Emas Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menjelaskan bahwa penguatan saham emas lebih didorong oleh ekspektasi jangka menengah (forward looking) dibandingkan harga emas saat ini. Meski harga emas relatif stagnan di kisaran US$ 4.700 per ons troi, pasar mulai mengantisipasi: - Potensi penurunan suku bunga global - Pelemahan dolar Amerika Serikat - Meningkatnya risiko geopolitik Kombinasi faktor tersebut kembali menguatkan peran emas sebagai aset safe haven. Selain faktor makro, sentimen spesifik emiten juga berperan penting, seperti: - Ekspansi dan peningkatan produksi (AMMN, BRMS) - Perbaikan struktur biaya - Potensi margin yang lebih baik saat harga energi stabil "Kenaikan saham ini lebih mencerminkan ekspektasi siklus emas bullish dalam jangka menengah," ujar Arinda. Tonton: Mengintip Peluang Saham, di Tengah Gejolak Valuasi dan Peluang Saham Emas Dari sisi valuasi, saham seperti ANTM dan MDKA dinilai sudah berada pada level fair hingga premium, tercermin dari rasio PBV dan EV/EBITDA yang berada di atas rata-rata historis. Sebaliknya, saham lapis kedua seperti BRMS dan ARCI masih dianggap undervalued karena berada dalam fase pertumbuhan awal. Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai, beberapa saham emas masih menarik, terutama yang belum sepenuhnya mencerminkan potensi produksi ke depan. Namun, investor tetap perlu berhati-hati terhadap saham yang sudah mengalami kenaikan signifikan karena valuasinya mendekati fair value. Prospek Emiten Emas 2026 Secara umum, prospek emiten emas masih positif, didukung oleh: - Kebijakan moneter global yang cenderung longgar - Potensi pelemahan dolar AS - Ketidakpastian geopolitik Dalam kondisi tersebut, harga emas secara historis cenderung menguat karena opportunity cost menjadi lebih rendah. Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan: - Kenaikan biaya produksi - Fluktuasi harga energi - Risiko operasional dan regulasi Tonton: BREAKING NEWS! KANADA STOP SETORAN 70% BUJET MILITER UNTUK AMERIKA SERIKAT Strategi Emiten Emas Untuk menjaga kinerja, emiten emas perlu: - Menjaga efisiensi biaya produksi - Mempercepat eksplorasi dan pengembangan cadangan - Mengoptimalkan portofolio aset - Menjaga struktur keuangan yang sehat Diversifikasi ke mineral lain seperti tembaga juga menjadi strategi penting untuk meredam risiko siklus harga emas. Rekomendasi Saham Emas
Berikut rekomendasi analis: - ANTM: target Rp 4.000 – Rp 4.800 per saham (speculative buy) - BRMS: target Rp 965 per saham (speculative buy) - MDKA: target Rp 3.540 – Rp 3.700 per saham - ARCI: target Rp 1.770 per saham - EMAS: target Rp 9.000 per saham - AMMN: target Rp 6.075 per saham Saham sektor emas dinilai tetap menarik sebagai strategi defensif sekaligus peluang trading di tengah volatilitas pasar global.