Harga Saham United Tractors (UNTR) Melemah di Tengah Aksi Buyback



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT United Tractors Tbk (UNTR) terpantau melemah di saat emiten ini gencar melakukan aksi pembelian kembali alias buyback saham. Harga saham saham penjual alat berat Komatsu ini melemah 7,38% sejak awal tahun.

Di sisi lain, UNTR gencar merealisasikan buyback saat harga turun. UNTR telah membeli kembali 98,33 juta saham selama periode buyback 12 Juli 2022 hingga 11 Januari 2023. Nilai buyback UNTR mencapai Rp 3,18 triliun, tidak termasuk biaya transaksi.

Anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini menganggarkan dana total buyback Rp 5 triliun untuk membeli kembali saham maksimal setara 20% modal disetor. Sementara, realisasi buyback UNTR yang berakhir kemarin setara dengan 2,63% dari modal disetor.


Baca Juga: Simak Strategi Bisnis United Tractors (UNTR) di Sektor Kontraktor Pertambangan

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai, salah satu sentimen yang menjadi penyebab kontraksi saham UNTR karena adanya moderasi harga batubara saat ini. Harga komoditas energi ini telah melemah 17% sejak level tertingginya, yakni US$ 457 per ton pada September 2022.

Selain menjadi salah satu emiten di sektor pertambangan batubara, UNTR juga bergerak di perdagangan alat berat, dimana per November 2022, penjualan alat berat di sektor pertambangan mencapai 61% dari total penjualan alat berat UNTR.

“Sehingga moderasi harga batubara saat ini turut menjadi katalis negatif untuk pergerakan saham UNTR,” kata Alrich kepada Kontan.co.id, Minggu (15/1).

Secara teknikal, saham UNTR saat ini terbentuk death cross pada stochastic RSI di tengah harga yang sedang uji support area Rp 23.400- Rp 24.000. Jika breaklow dari area tersebut, akan menjadi konfirmasi bearish continuation. Untuk itu, dia merekomendasikan wait and see saham UNTR saat ini.

Baca Juga: United Tractors (UNTR) Habiskan Rp 3,18 Triliun Untuk Buyback Saham

Senada, analis Panin Sekuritas Christian Anderson Yuwono menilai, penurunan saham UNTR sejalan dengan ekspetasi penurunan harga batubara. Penurunan harga batubara berkorelasi dan memengaruhi saham sektor batubara, termasuk UNTR.

Menurut Christian, UNTR secara jangka menengah bergerak dalam downtrend, berpotensi untuk menuju support kuat di level Rp 23.000. “Wait to buy on support potensi terjadi rebound di area support kuat,” kata Christian.

Analis UOB-Kay Hian Sekuritas Stevanus Juanda memperkirakan, rata-rata harga batubara akan turun menjadi US$ 250 per ton pada tahun ini. Penurunan asumsi harga rata-rata batubara ini berdampak pada penurunan estimasi bottomline UNTR.

Stevanus memperkirakan laba bersih setelah pajak alias net income after tax (NPAT) UNTR akan turun sebesar 30% secara tahunan, dari Rp 20,89 triliun pada tahun 2022 menjadi Rp 14,63 triliun pada tahun 2023.

Baca Juga: Menilik Rencana Bisnis United Tractors (UNTR) pada Tahun 2023

Dengan kemungkinan harga batubara akan terkoreksi, Stevanus juga memperkirakan harga saham UNTR akan underperformed pada tahun 2023.  Sebab, harga saham UNTR memiliki korelasi yang tinggi dengan harga batubara. Setiap kali harga batubara turun, harga saham UNTR kemungkinan akan turun, begitu pula sebaliknya.

Bukti lainnya adalah, setiap kali UNTR mencatat sedikit penurunan pendapatan selama periode penurunan harga batubara (misal pada tahun 2012 dan 2019), harga sahamnya mencatatkan kinerja yang kurang apik.

UOB-Kay Hian Sekuritas mempertahankan rekomendasi sell saham UNTR dengan target harga Rp 25.000 dari sebelumnya Rp 28.000.

Baca Juga: Tambah Alat Berat Baru, United Tractors (UNTR) Alokasikan Capex Rp 12,4 Triliun

Target kinerja masih naik

UNTR telah menetapkan kinerja tahun ini, yang Sebagian besar naik dari tahun lalu. Untuk volume penjualan batubara tahun lalu ditaksir bisa mencapai angka sekitar 9 juta ton. Sementara tahun 2023 volume penjualan batubara diperkirakan bisa meningkat hingga 5%.

UNTR juga memasang target optimistis di segmen kontraktor tambang yang dijalankan oleh PT Pamapersada Nusantara. Produksi batubara pada tahun 2022 diperkirakan sekitar 117 juta ton, dengan volume overburden removal sekitar 970 juta bank cubic meter (bcm).

Sara mengatakan, untuk tahun 2023, baik produksi batubara maupun volume overburden removal diperkirakan bisa meningkat sekitar 4%-5%. Sementara penjualan alat berat berat Komatsu diproyeksikan mencapai 5.700 unit, cenderung flat dari tahun lalu.

Adapun UNTR menyiapkan belanja modal alias capital expenditure (capex) hingga US$ 1 miliar untuk tahun ini. Jumlah tersebut naik dari capex yang dianggarkan tahun lalu, yakni US$ 800 juta.

Dari capex sebesar US$ 1 miliar tersebut, sebanyak US$ 800 juta sampai US$ 900 juta dialokasikan untuk segmen kontraktor pertambangan guna mengganti alat berat yang telah usang serta rekondisi alat berat. Sisanya akan terbagi untuk keperluan infrastruktur di tambang emas dan tambang batubara milik UNTR. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati