Harga Salah Satu Saham Prajogo Pangestu Bangkit Usai Tren Melemah, Pilih Beli / Jual?
Selasa, 22 September 2026 05:21 WIB
Oleh: Muhammad Alief Andri | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta.Harga saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) bangkit di tengah kabar kenaikan harga minyak mentah dunia dan naphtha. Kenaikan harga saham milik salah satu orang terkaya Indonesia, Prajogo Pangestu ini memutus tren pelemahan yang terjadi dalam sebulan terakhir. Lalu, apakah saham milik konglomerat Prajogo Pangestu ini layak menjadi pilihan investasi atau sekarang saatnya jual untuk merealisasikan keuntungan? Harga saham TPIA pada akhir perdagangan Senin 21 September 2026 ditutup di Rp 1.880 naik 45 poin atau 2,45%. Harga saham TPIA tercatat melemah 5,53% dalam 30 hari perdagangan.
Peningkatan harga saham TPIA terjadi di tengah kenaikan harga bahan baku petrokimia, minyak mentah dan naphtha. Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (21/9/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 3% menjadi US$97,288 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent turun 3,34% ke US$100,396 per barel. Di sisi lain, harga naphtha justru menguat 0,18% menjadi US$839,26 per ton. Baca Juga: Vietnam Masuk Emerging Market FTSE, Bagaimana Dampak Terhadap Pasar Saham Indonesia? Harga Naphtha Berisiko Tekan Margin TPIA Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mengatakan, kenaikan harga minyak dan naphtha masih menjadi tantangan bagi TPIA karena dapat meningkatkan biaya bahan baku. Tekanan terhadap margin perseroan berpotensi semakin besar apabila harga jual produk petrokimia tidak meningkat seiring dengan kenaikan biaya bahan baku. “Yang perlu dilihat bukan hanya harga minyak, tetapi juga apakah spread produk petrokimia masih cukup sehat,” jelas Kevin kepada Kontan, Senin (21/9/2026). Menurut dia, investor juga perlu mencermati risiko pasokan bahan baku, terutama apabila kenaikan harga minyak berlangsung bersamaan dengan konflik geopolitik atau gangguan jalur perdagangan. Kondisi tersebut berpotensi memperketat pasokan dan meningkatkan biaya logistik yang harus ditanggung perusahaan. “TPIA memang punya beberapa alternatif feedstock, tapi itu lebih membantu mengurangi risiko, bukan menghilangkannya sepenuhnya,” ujarnya. Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (21 September 2026), AADI dan MBMA Disorot Strategi TPIA Hadapi Fluktuasi Bahan Baku Untuk menjaga margin dan keberlangsungan produksi, TPIA perlu mempertahankan diversifikasi sumber bahan baku serta memanfaatkan alternatif feedstock ketika lebih ekonomis. Selain itu, penyesuaian tingkat utilisasi pabrik juga menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi perubahan margin petrokimia. Kevin menilai, posisi operasional TPIA saat ini lebih terintegrasi dengan kepemilikan aset refinery dan storage. Integrasi tersebut memberikan perseroan fleksibilitas lebih besar dalam merespons perubahan kondisi pasar. Namun, keberadaan aset dan alternatif bahan baku tidak sepenuhnya menghilangkan risiko akibat fluktuasi harga komoditas maupun gangguan pasokan. Tonton: E50 dan B50 Bisa Hemat Rp500 Triliun, Tapi Mampukah Indonesia? Bisnis Energi dan Proyek CA-EDC Jadi Perhatian Dari sisi prospek, kinerja TPIA ke depan akan dipengaruhi oleh keseimbangan antara bisnis petrokimia dan energi. Menurut Kevin, bisnis refinery dan energi berpotensi membantu menopang kinerja ketika margin petrokimia mengalami tekanan. Sementara itu, proyek CA-EDC dapat menjadi tambahan sumber pertumbuhan bagi perseroan dalam jangka panjang. “Risiko utamanya tetap ada di harga naphtha yang tinggi, demand petrokimia yang lemah, dan kemungkinan refining margin kembali normal,” kata Kevin. Di luar bisnis petrokimia, ekspansi TPIA juga mendorong diversifikasi sumber pendapatan, khususnya melalui Aster dan bisnis fuel retail di Singapura. Kedua bisnis tersebut dinilai masih berpotensi menjadi kontributor penting bagi kinerja perseroan dalam jangka pendek. Adapun bisnis infrastruktur dan proyek baru diperkirakan memberikan kontribusi secara bertahap. Kevin mengatakan, diversifikasi bisnis dapat membantu menyeimbangkan kinerja TPIA. Kendati demikian, hasil yang diperoleh tetap bergantung pada kondisi pasar serta pelaksanaan setiap proyek. Saham TPIA Berpeluang Trading Buy Dari sisi pergerakan saham, Kiwoom Sekuritas Indonesia melihat peluang trading buy pada saham TPIA.
Kevin menjelaskan, peluang tersebut didukung sinyal teknikal dari indikator Stochastic RSI yang mulai menunjukkan bullish cross. “Untuk target jangka pendek, bisa dicermati di kisaran Rp2.000-Rp2.080 per saham,” ujar Kevin. Target tersebut merupakan pandangan analis untuk jangka pendek, sehingga investor tetap perlu memperhatikan perkembangan harga komoditas, margin petrokimia, serta pergerakan harga saham TPIA sebelum mengambil keputusan investasi.
Menteri Nusron Wahid Menghindar Saat Ditanya Kasus KPK