Harga Semen Indonesia (SMGR) Turun 33% di Tengah Upaya Perbaikan, Simak Prospeknya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) tercatat terus terkoreksi di tengah upaya perbaikan yang dilakukan.

Wakil Direktur Utama SMGR, Andriano Hosny Panangian mengatakan, perseroan punya beberapa strategi dalam melakukan perbaikan bisnis dan menjaga pendapatan.

Yaitu, perbaikan channel management dan ways of working untuk bisa lebih dekat ke retail-retail store, perluasan cakupan penetrasi pasar di segmen proyek industrial, serta penguatan portofolio produk non-semen.


Baca Juga: ETF Emas Jadi Alternatif Diversifikasi, Permintaan Diproyeksi Tumbuh

“Setelah penataan bisnis dilakukan untuk bisa mendapatkan profil pendapatan yang lebih sehat, SMGR juga perlu melakukan optimalisasi biaya, efisiensi biaya,” ujarnya dalam Public Expose Live SMGR, Selasa (8/9/2026).

Hal tersebut dilakukan SMGR dengan pengendalian terhadap beberapa biaya di COGS maupun overhead yang telah berhasil menjaga stabilitas margin keuangan dan profitabilitas.

Dengan kondisi tersebut, Semen Indonesia juga mendorong penguatan sumber daya struktur dan tata kelola dengan melakukan streamlining dan restrukturisasi anak-anak usaha.

“Kami melakukan penataan, beberapa konsolidasi merger di level anak-anak usaha agar terjadi optimalisasi untuk mendukung pengembangan penetrasi bisnis kita di industri bahan bangunan,” tuturnya.

Direktur Utama SMGR, Indrieffouny Indra mengatakan, perseroan optimistis industri semen akan memiliki prospek yang positif hingga tahun 2027 didukung oleh program-program pemerintah yang menjadi penggerak untuk permintaan semen. 

Seperti yang sudah berjalan adalah program 3 juta rumah, kemudian pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, Kampung Nelayan Merah Putih, Sekolah Rakyat, dan pembangunan infrastruktur nasional dan daerah. Lalu, ada juga di tahun ini akan segera dimulai pembangunan Giant Sea Wall.

“Kemudian, hal itu didukung juga oleh investasi industri dan hilirisasi, serta pembangunan oleh sektor swasta yang meliputi high-rise residential, commercial area, dan data center,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Baca Juga: Sektor Properti Hadapi Tantangan Kondisi Ekonomi

Per semester I 2026, volume penjualan semen mencapai 18,28 juta ton, naik 5,6% secara tahunan (yoy) dari 17,31 juta ton pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih SMGR sebesar Rp 228 miliar, melonjak 471% yoy. 

Di tengah perbaikan kinerja itu, saham SMGR sudah turun 33,33% sejak awal tahun alias year to date (YTD). 

Per 8 September 2026, SMGR berhenti di Rp 1.760 per saham di akhir perdagangan dengan price to earning ratio (PER) 26,03x dan price to book value (PBV) 0,27x.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat, saham SMGR justru mulai menarik untuk dicermati dan dikoleksi secara bertahap, terutama bagi investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang. 

Koreksi yang cukup dalam membuat valuasi SMGR menjadi lebih menarik dan membuka peluang terjadinya re-rating apabila kinerja operasional dan profitabilitas mulai membaik.

“Namun, belum melihat alasan untuk terlalu agresif karena pasar masih membutuhkan konfirmasi bahwa pemulihan volume penjualan dapat diikuti oleh perbaikan harga jual dan margin,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (8/9).

Ke depan, katalis utama bagi kenaikan valuasi saham SMGR adalah pertumbuhan volume penjualan, stabilisasi harga semen, penurunan biaya energi, peningkatan utilisasi, keberhasilan konsolidasi anak usaha, serta dukungan sinergi BUMN melalui Danantara. 

Sebaliknya, apabila oversupply di industri semen berlanjut dan perang harga semakin intensif sehingga menekan margin, maka proses pemulihan kinerja dan potensi re-rating saham SMGR dapat berjalan lebih lambat. 

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguji Level 6.700 pada Rabu (9/9), Cek Rekomendasi Saham Berikut

“Saham SMGR menarik untuk strategi turnaround play menuju 2027, tetapi investor tetap perlu mencermati perkembangan margin dan profitabilitas sebagai konfirmasi utama sebelum meningkatkan porsi investasi secara agresif,” ungkapnya

Kevin Halim, Analyst Maybank Sekuritas berpandangan, perampingan anak usaha yang dilakukan SMGR sebagai bagian dari SOE reform akan berdampak positif terhadap kinerja SMGR melalui proses operasional yang lebih efisien sehingga dapat meningkatkan profitabilitas. “Dengan valuasi SMGR yang sudah turun di sekitar 4x EV/EBITDA untuk proyeksi tahun 2027, risk reward untuk SMGR menjadi menarik,” ujarnya kepada Kontan, Selasa.

Di semester II 2026 hingga 2027, kinerja operasional SMGR juga diproyeksikan berpeluang membaik. Namun, tantangan oversupply masih terus menjadi perhatian utama.

Nafan bilang, sentimen pemberat kinerja SMGR hingga 2027 antara lain adalah kelebihan kapasitas industri, tekanan harga jual, tingginya biaya energi dan logistik, serta potensi perlambatan sektor konstruksi. 

Sebaliknya, katalis positifnya berasal dari peningkatan permintaan semen domestik, pembangunan infrastruktur dan perumahan, peluang ekspor, efisiensi biaya, serta perbaikan utilisasi aset. 

Rencana merger atau konsolidasi internal anak usaha juga berpotensi memberikan dampak positif. Sebab langkah ini dapat menyederhanakan struktur grup, mengurangi duplikasi fungsi, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperkuat sinergi bisnis. 

Baca Juga: AKR Corporindo (AKRA) Ungkap 3 Katalis yang Bakal Topang Pertumbuhan Kinerja

Sementara itu, peran Danantara berpotensi menjadi katalis tambahan apabila mampu mendorong sinergi antar-BUMN, restrukturisasi aset, efisiensi, serta optimalisasi proyek strategis. 

“Namun, Danantara bukanlah solusi instan terhadap persoalan oversupply, sehingga perbaikan fundamental industri dan disiplin kapasitas tetap menjadi faktor kunci,” katanya.

Kevin berpandangan, kinerja SMGR di semester II 2026 juga akan lebih baik dibandingkan paruh pertama tahun ini. Hal ini didorong oleh masalah musiman penjualan di semester II lantaran cuaca yang lebih kering, sehingga dapat meningkatkan aktivitas konstruksi serta hari libur yang lebih sedikit. Katalis negatif pada SMGR meliputi kenaikan input cost yang disebabkan oleh kenaikan harga energi yang dapat menekan profitabilitas. Namun, hal tersebut dapat dikompensasi sebagian oleh kenaikan harga jual sehingga profitabilitas masih dapat ditahan. “Di lain sisi, kompetisi yang masih intens juga dapat menjadi sentimen negatif terhadap SMGR sebagai incumbent yang mana emiten harus dapat mempertahankan market share nya di tengah gempuran oleh kompetisi yang intens dari brand-brand lain,” ungkapnya.

Nafan masih merekomendasikan wait and see untuk SMGR. Sementara, Kevin merekomendasikan beli untuk SMGR dengan target harga Rp 2.000 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News