KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kabar kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar industri B40 sebesar Rp 5.100 per liter menjadi Rp 28.150 per liter mulai memantik kekhawatiran pelaku usaha. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai kenaikan harga yang cukup signifikan ini bakal membebani struktur biaya operasional di sejumlah sektor strategis. Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik Apindo, Chandra Wahjudi mengungkapkan bahwa lonjakan harga tersebut otomatis meningkatkan beban pada pos energi.
"Kenaikan tersebut pastinya memberikan tekanan terhadap kegiatan usaha di beberapa sektor yang padat energi seperti pertambangan, manufaktur dan logistik," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: Harga BBM Ditahan, Ekonom Ingatkan Risiko Defisit APBN Membengkak Chandra menambahkan, dampak langsung dari kenaikan solar industri ini akan terasa pada mobilitas barang dan operasional mesin produksi. Menurutnya, biaya angkut serta operasional alat berat akan membengkak, yang pada akhirnya bakal mengikis tingkat keuntungan perusahaan. "Biaya hauling/transportasi dan aktivitas dari alat berat akan naik. Margin usaha akan tergerus," imbuhnya. Guna mengantisipasi dampak yang lebih luas, Apindo meminta pemerintah untuk memberikan jaminan keamanan suplai di pasar. Hal ini penting agar kenaikan harga tidak diperparah oleh kelangkaan barang yang bisa melumpuhkan rantai pasok industri. "Saat ini dan ke depan sangat penting bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan energi dan memastikan distribusinya juga lancar," tegasnya.
Di sisi lain, Chandra menambahkan, momentum kenaikan harga ini diharapkan menjadi pemacu bagi dunia usaha untuk mulai beralih dari energi fosil. Apindo mendorong adanya percepatan diversifikasi energi agar industri memiliki alternatif sumber daya yang lebih efisien dan berkelanjutan dalam jangka panjang. "Ke depan perlu melakukan diversifikasi energi sehingga mengurangi ketergantungan pada minyak fosil. Alat berat bisa beralih ke listrik, optimalisasi penggunaan solar panel, dan lain-lain," pungkasnya.
Baca Juga: Pemerintah Menahan Kenaikan Harga BBM, Ekonom Ingatkan Risiko Beban APBN Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News