Harga SUN rentan terkoreksi



JAKARTA. Harga Surat Utang Negara (SUN) rawan terkoreksi pada perdagangan Rabu (11/5). Pasar obligasi negara masih minim katalis positif dari dalam negeri.

Mengacu data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), Selasa (10/5), rata-rata harga obligasi pemerintah yang tercermin pada INDOBeX Government Clean Price terkoreksi 0,16% dibandingkan hari sebelumnya ke level 112,12.

Analis Fixed Income MNC Securities I Made Adi Saputra memprediksi, harga obligasi negara di pasar sekunder bakal cenderung bergerak variatif dengan potensi koreksi di tengah minimnya katalis positif. "Data pertumbuhan ekonomi kuartal I-2016 yang lebih rendah dari perkiraan masih akan menjadi perhatian bagi investor," terangnya.


Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2016 sebesar 4,92% year on year (yoy). Angka tersebut lebih mini ketimbang pencapaian kuartal IV-2015 yang tercatat 5,04% (yoy) serta estimasi analis yang dipatok 5,07% (yoy).

Made berujar, pelaku pasar juga masih menantikan hasil review dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) terhadap peringkat utang Indonesia. "Adanya kenaikan peringkat akan menjadi katalis positif di pasar SUN," imbuhnya.

Pada 21 Mei 2015, S&P sudah mengerek outlook peringkat Indonesia dari stable menjadi positif, sekaligus mengafirmasi rating pada level BB+. Sehingga ada peluang kenaikan rating menjadi investment grade BBB-.

Sementara, secara teknikal, kata Made, harga SUN masih berada pada tren bearish. Sehingga harga obligasi negara bakal terkoreksi dalam jangka pendek. Meski demikian, harga SUN telah mendekati area jenuh jual (oversold) sehingga penurunan harga bersifat terbatas. "Kami perkirakan investor akan kembali masuk di SUN setelah harga berada pada area jenuh jual," proyeksinya.

Oleh karena itu, Made menyarankan investor untuk tetap mencermati arah pergerakan harga obligasi negara dengan menerapkan strategi trading jangka pendek di tengah penurunan harga SUN. "Kami merekomendasikan beli di saat harga SUN turun (buy on weakness) terutama yang bertenor panjang seperti FR0071, FR0073, FR0058, FR0062 dan FR0067," sarannya.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dupla Kartini