Harga TBS Sawit Naik 10%, Emiten CPO Hadapi Tekanan Biaya Produksi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten produsen crude palm oil (CPO) akan mendapat tantangan baru di tahun 2026. Kekhawatiran tersebut lantaran pemerintah mengimbau kenaikan harga tandan buah segar (TBS) sawit.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan harga TBS Sawit akan kembali ke harga semula. Bahkan pihaknya menargetkan bisa naik 10% seiring dengan menguatnya mata uang dollar Amerika serikat (AS).  

Amran menyebut saat ini masih ada 300 perusahaan dari 1.900 perusahaan di sektor kelapa sawit yang belum menaikkan harga TBS sawit petani.  


Baca Juga: Menakar Kemampuan Investor Domestik Menggendong Kinerja IHSG

Untuk itu, Amran memastikan akan mengambil langkah hukum terhadap para pengusaha tersebut untuk memberikan sanksi jera.  

"Yang 300 ini akan kita periksa. Kami akan cek kenapa dia tidak menaikkan seperti semula. Bahkan harusnya naik 10% daripada harga sebelumnya karena ada selisih nilai dolar sekarang 18.000," terang Amran. 

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penurunan harga TBS terjadi setelah pengumuman ekspor satu pintu via PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Hal tersebut merupakan anomali, karena CPO dunia tengah naik sekitar 47% YTD dan dolar AS naik 10%, tetapi TBS di dalam negeri justru turun. 

Kenaikan TBS 10% dinilai akan menekan margin emiten yang membeli TBS dari petani plasma dan pihak ketiga. Sehingga, emiten dengan kebun inti besar seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) lebih terlindungi dan kenaikan harga justru mendorong average selling price (ASP). 

“Secara industri ini masih positif untuk laba. Sebab, harga CPO naik 47% secara year on year (yoy) dan USD/IDR 10% lebih dari cukup menutup kenaikan biaya TBS,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (10/6/2026).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari melihat, kenaikan harga TBS hingga 10% pada dasarnya akan meningkatkan biaya bahan baku emiten sawit. Khususnya, bagi perusahaan yang masih mengandalkan pembelian buah dari petani pihak ketiga untuk memenuhi kebutuhan pabriknya. 

Dalam jangka pendek, hal ini berpotensi menekan margin laba karena cash cost produksi meningkat. Namun, dampaknya terhadap kinerja sektor secara keseluruhan masih relatif terbatas, karena harga CPO global saat ini tetap berada pada level yang tinggi di kisaran Rp 15 juta – Rp 16 juta per ton dan masih berpotensi menguat pada semester II 2026. 

Baca Juga: Harga Emas Anjlok ke Titik Terendah Dua Bulan, Pasar Cemas The Fed Kerek Suku Bunga

“Dengan demikian, kenaikan ASP CPO masih dapat mengompensasi sebagian tekanan biaya tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Rabu.

Menurut Brigita, emiten yang berpotensi paling terdampak adalah AALI, mengingat ketergantungannya terhadap pasokan TBS eksternal relatif lebih besar dibanding beberapa emiten lain. 

“Sementara itu, emiten yang memiliki basis kebun inti kuat seperti TAPG dan DSNG cenderung lebih defensif karena porsi pasokan internal yang lebih dominan sehingga sensitivitas terhadap kenaikan harga TBS relatif lebih rendah,” katanya.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana melihat, kebijakan pemerintah yang mendorong kenaikan harga tandan buah segar (TBS) sawit hingga sekitar 10% merupakan langkah yang positif bagi petani.

Namun, dari sisi emiten CPO kebijakan ini berpotensi meningkatkan biaya produksi karena harga bahan baku menjadi lebih mahal. 

Meski demikian, dampaknya terhadap kinerja perusahaan tidak akan sama. Perusahaan yang memiliki porsi kebun inti yang besar cenderung lebih mampu mengendalikan biaya dibanding perusahaan yang lebih banyak bergantung pada pembelian TBS dari petani plasma maupun pihak ketiga. 

Dalam jangka pendek, kenaikan harga TBS memang berpotensi menekan margin keuntungan, terutama apabila kenaikan harga beli TBS tidak sepenuhnya diimbangi oleh kenaikan harga jual CPO. 

Namun saat ini kenaikan harga TBS terjadi di tengah tren penguatan harga CPO dunia sehingga tekanan terhadap profitabilitas diperkirakan masih dapat diredam oleh peningkatan pendapatan. 

Baca Juga: Suku Bunga Acuan Naik, Emiten Semen Hadapi Tekanan Berlapis

Emiten yang berpotensi mengalami tekanan lebih besar adalah perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan TBS eksternal dan tingkat efisiensi yang lebih rendah.

“Sedangkan emiten dengan landbank besar dan produktivitas tinggi relatif lebih defensif menghadapi kebijakan tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Rabu. 

Wafi melihat, prospek emiten CPO di tahun 2026 solid. Sentimen positifnya berasal dari harga CPO global masih tinggi, rupiah di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi natural windfall bagi emiten berpendapatan dolar AS, dan program B40/B50 yang mendorong permintaan domestik. 

“Sentimen negatif berasal dari isu DSI yang sempat menciptakan price confusion di rantai pasok dan potensi pungutan tambahan,” ungkapnya. 

Brigita menilai, prospek produksi dan penjualan emiten CPO sepanjang 2026 masih cukup solid didukung tren musiman produksi yang normal dan outlook harga CPO yang tetap konstruktif. 

Meski demikian, pasar mulai memperhatikan risiko El Nino yang menurut proyeksi National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memiliki probabilitas sekitar 82% untuk muncul pada pertengahan 2026 dan berpotensi menguat hingga awal 2027. 

Secara historis, dampak El Nino terhadap sawit baru terlihat setelah jeda 6–12 bulan melalui penurunan produktivitas tanaman sekitar 2–3%, sehingga risiko terhadap volume produksi lebih banyak akan dirasakan pada akhir 2026 hingga 2027. 

Dari sisi harga, kenaikan TBS juga tidak secara langsung memengaruhi ASP emiten karena ASP lebih ditentukan oleh harga CPO global. “Justru, kenaikan harga TBS menjadi konsekuensi dari menguatnya harga CPO,” tuturnya.

Baca Juga: Menanti Data Inflasi AS, Begini Proyeksi Rupiah pada Perdagangan, Kamis (11/6)

Ke depan, potensi kenaikan harga CPO menuju MYR 4.600 per ton pada semester II 2026 didorong implementasi mandatori biodiesel B15 di Malaysia dan B50 di Indonesia yang berpotensi memperketat pasokan global. 

Sentimen positif sektor berasal dari peningkatan konsumsi biodiesel serta risiko El Nino yang dapat mengurangi pasokan. 

“Sementara, risiko berasal perkembangan regulasi pemerintah, kenaikan pungutan ekspor, serta risiko perlambatan permintaan dari negara importir utama seperti India akibat tingginya harga komoditas,” ungkapnya.

Hendra melihat, prospek kinerja emiten CPO pada 2026 masih cukup menjanjikan karena didukung kombinasi kenaikan harga CPO global, program biodiesel domestik, serta potensi peningkatan produksi setelah kondisi cuaca yang lebih kondusif.

Kenaikan harga TBS pada dasarnya merupakan konsekuensi dari membaiknya harga CPO, sehingga secara historis kenaikan biaya bahan baku sering kali diikuti oleh kenaikan average selling price (ASP) produk CPO. 

Oleh karena itu, meskipun margin berpotensi mengalami normalisasi, pendapatan dan laba bersih emiten sawit masih berpeluang tumbuh apabila harga CPO mampu bertahan di level yang tinggi. 

“Selain itu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga berpotensi menjadi katalis positif karena sebagian besar pendapatan emiten sawit berasal dari ekspor yang berbasis dolar, sementara sebagian biaya operasional masih menggunakan rupiah,” ungkapnya.

Sepanjang 2026, sentimen positif sektor sawit diperkirakan berasal dari tingginya harga CPO global, peningkatan permintaan biodiesel dalam negeri, potensi kenaikan permintaan dari India dan China, serta pelemahan rupiah yang mendukung pendapatan ekspor. 

Baca Juga: Menanti Data Inflasi AS, Begini Proyeksi Rupiah pada Perdagangan, Kamis (11/6)

Sementara, sentimen negatif yang perlu dicermati antara lain risiko koreksi harga minyak nabati global, potensi perlambatan ekonomi dunia yang dapat menekan konsumsi, kenaikan biaya operasional, termasuk harga TBS dan tenaga kerja, serta potensi kebijakan ekspor yang dapat memengaruhi arus perdagangan.

”Dengan demikian, fokus investor bukan hanya pada kenaikan harga TBS semata, tetapi juga pada kemampuan masing-masing emiten dalam menjaga efisiensi dan meningkatkan produktivitas,” tuturnya.

Hendra merekomendasikan speculative buy untuk LSIP, AALI, dan DSNG dengan target harga masing-masing Rp 1.250 per saham, Rp 6.500 per saham, dan Rp 1.200 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News