KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peternak ayam ras petelur meminta pemerintah memastikan ketersediaan jagung dengan harga yang wajar. Permintaan tersebut disampaikan karena biaya pakan terus meningkat, sementara harga telur di tingkat peternak masih jauh di bawah harga acuan pemerintah. Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN) Yudianto Yosgiarso mengatakan, jagung menjadi bahan baku utama pakan dengan porsi sekitar 50%. Bagi peternak rakyat, jagung juga belum dapat digantikan dengan bahan baku lain. “Jagung porsinya 50%, belum bisa diganti oleh apapun bagi kami peternak rakyat. Karena kami peternak rakyat ini mengandalkan mencampur, mengaduk sendiri sebagai bagian agar mengurangi biaya ongkos produksi,” ujar Yudianto dalam RDPU Komisi IV DPR RI, Rabu (7/10/2026). Baca Juga: Suplai Menyusut, FINI Proyeksi Produksi Nikel Indonesia Turun 4% di 2026 Menurut Yudianto, harga jagung yang diterima peternak saat ini rata-rata hampir Rp 8.000 per kilogram. Di Lampung, harga jagung mencapai sekitar Rp 8.400 per kilogram, sedangkan di Nusa Tenggara Barat (NTB) sekitar Rp 7.700 per kilogram. Kenaikan biaya juga terjadi pada bahan baku pakan lainnya. Yudianto menyebut, harga bungkil kedelai saat ini mencapai sekitar Rp 9.900-Rp 10.000 per kilogram, naik dari kisaran Rp 7.200-Rp 7.500 per kilogram pada Januari-Juni 2026. Bahan baku tersebut masih sepenuhnya bergantung pada pasokan impor. Dengan komposisi pakan yang menggunakan sekitar 50% jagung dan 25% bungkil kedelai, kenaikan harga kedua bahan baku tersebut turut menekan biaya produksi peternak. Di sisi lain, harga telur di tingkat peternak sejak April 2026 berada jauh di bawah harga pembelian di tingkat peternak yang ditetapkan dalam Perbadan Nomor 6 Tahun 2024 sebesar Rp26.500 per kilogram. Yudianto menyebut harga telur sejak April rata-rata hanya berada di kisaran Rp 19.000-Rp 20.000 per kilogram. Harga bahkan sempat menyentuh titik terendah Rp 17.100 per kilogram pada Juni. Baca Juga: Produksi Minyak Belum Capai Target, Penerimaan Migas Tak Cukup Biayai Subsidi BBM Dalam enam bulan terakhir, rata-rata harga telur berada di kisaran Rp 20.000-Rp 21.000 per kilogram. Dengan kondisi tersebut, peternak diperkirakan mengalami kerugian sekitar Rp 5.000-Rp 7.000 per kilogram telur. Tekanan semakin berat karena produksi telur di sejumlah daerah tidak terserap dengan baik. Yudianto menyebut telur sempat menumpuk dan sebagian produksi di Kalimantan bahkan terpaksa dibuang karena tidak ada pembeli. Kondisi tersebut membuat sebagian peternak kesulitan membeli pakan. Bahkan, sejumlah peternak mulai mengosongkan kandang karena tidak lagi mampu menanggung biaya produksi. “Untuk mempertahankan swasembada telur ini selama enam bulan kondisi seperti ini, sudah banyak peternak yang bertumbangan,” kata Yudianto.
Harga Telur di Bawah HPP, Peternak Ayam Petelur Minta Harga Jagung Dijaga
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peternak ayam ras petelur meminta pemerintah memastikan ketersediaan jagung dengan harga yang wajar. Permintaan tersebut disampaikan karena biaya pakan terus meningkat, sementara harga telur di tingkat peternak masih jauh di bawah harga acuan pemerintah. Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN) Yudianto Yosgiarso mengatakan, jagung menjadi bahan baku utama pakan dengan porsi sekitar 50%. Bagi peternak rakyat, jagung juga belum dapat digantikan dengan bahan baku lain. “Jagung porsinya 50%, belum bisa diganti oleh apapun bagi kami peternak rakyat. Karena kami peternak rakyat ini mengandalkan mencampur, mengaduk sendiri sebagai bagian agar mengurangi biaya ongkos produksi,” ujar Yudianto dalam RDPU Komisi IV DPR RI, Rabu (7/10/2026). Baca Juga: Suplai Menyusut, FINI Proyeksi Produksi Nikel Indonesia Turun 4% di 2026 Menurut Yudianto, harga jagung yang diterima peternak saat ini rata-rata hampir Rp 8.000 per kilogram. Di Lampung, harga jagung mencapai sekitar Rp 8.400 per kilogram, sedangkan di Nusa Tenggara Barat (NTB) sekitar Rp 7.700 per kilogram. Kenaikan biaya juga terjadi pada bahan baku pakan lainnya. Yudianto menyebut, harga bungkil kedelai saat ini mencapai sekitar Rp 9.900-Rp 10.000 per kilogram, naik dari kisaran Rp 7.200-Rp 7.500 per kilogram pada Januari-Juni 2026. Bahan baku tersebut masih sepenuhnya bergantung pada pasokan impor. Dengan komposisi pakan yang menggunakan sekitar 50% jagung dan 25% bungkil kedelai, kenaikan harga kedua bahan baku tersebut turut menekan biaya produksi peternak. Di sisi lain, harga telur di tingkat peternak sejak April 2026 berada jauh di bawah harga pembelian di tingkat peternak yang ditetapkan dalam Perbadan Nomor 6 Tahun 2024 sebesar Rp26.500 per kilogram. Yudianto menyebut harga telur sejak April rata-rata hanya berada di kisaran Rp 19.000-Rp 20.000 per kilogram. Harga bahkan sempat menyentuh titik terendah Rp 17.100 per kilogram pada Juni. Baca Juga: Produksi Minyak Belum Capai Target, Penerimaan Migas Tak Cukup Biayai Subsidi BBM Dalam enam bulan terakhir, rata-rata harga telur berada di kisaran Rp 20.000-Rp 21.000 per kilogram. Dengan kondisi tersebut, peternak diperkirakan mengalami kerugian sekitar Rp 5.000-Rp 7.000 per kilogram telur. Tekanan semakin berat karena produksi telur di sejumlah daerah tidak terserap dengan baik. Yudianto menyebut telur sempat menumpuk dan sebagian produksi di Kalimantan bahkan terpaksa dibuang karena tidak ada pembeli. Kondisi tersebut membuat sebagian peternak kesulitan membeli pakan. Bahkan, sejumlah peternak mulai mengosongkan kandang karena tidak lagi mampu menanggung biaya produksi. “Untuk mempertahankan swasembada telur ini selama enam bulan kondisi seperti ini, sudah banyak peternak yang bertumbangan,” kata Yudianto.