Harga Tembaga Bertahan Menguat, Risiko Pasokan Imbangi Kekhawatiran Permintaan



KONTAN.CO.ID - Harga tembaga menguat tipis pada perdagangan Kamis (23/7/2026), didukung berlanjutnya tekanan pasokan dan terus menurunnya persediaan di gudang.

Namun, kenaikan harga yang sudah cukup tinggi mulai menahan minat beli dari sektor hilir sehingga membatasi penguatan lebih lanjut.

Baca Juga: Yuan China Bertahan Menguat untuk Pekan Keempat, PBOC Terus Topang Nilai Tukar


Mengutip Reuters, harga tembaga acuan kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,28% menjadi US$ 13.846,50 per metrik ton pada pukul 03.00 GMT.

Sementara itu, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) relatif tidak berubah di level 106.150 yuan atau sekitar US$ 15.682,02 per ton.

Pergerakan tersebut terjadi setelah harga tembaga di kedua bursa sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa pekan pada Selasa dan Rabu, didorong kekhawatiran terhadap pasokan serta membaiknya permintaan.

Analis Galaxy Futures menyebut, kombinasi kenaikan harga tembaga dan tingginya premi telah mengurangi aktivitas pembelian dari konsumen sektor hilir.

Baca Juga: Intel dan AMD Meneken Kesepakatan Jangka Panjang CPU Server dengan Klien China

Di sisi pasokan, persediaan tembaga di gudang yang terdaftar di LME maupun gudang yang dipantau SHFE terus menyusut dalam beberapa bulan terakhir, sehingga memperketat ketersediaan logam fisik di pasar.

Kondisi tersebut turut mendorong premi tembaga Yangshan, yang menjadi indikator permintaan impor China, naik menjadi US$ 115 per ton pada Rabu (22/7), level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Harga tembaga juga mendapat dukungan dari meningkatnya pengiriman logam tersebut ke Amerika Serikat menjelang potensi penerapan tarif impor AS terhadap tembaga olahan. Hingga kini, pelaku pasar masih menunggu rincian kebijakan tersebut.

Di LME, premi kontrak tunai terhadap kontrak tiga bulan berada pada kondisi backwardation tipis sebesar US$ 4,70 per ton pada Rabu.

Kondisi backwardation biasanya mencerminkan ketatnya pasokan untuk kebutuhan jangka pendek.

Meski demikian, perkembangan geopolitik masih membayangi prospek permintaan logam industri.

Harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam enam pekan setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak sebagai bagian dari blokade terhadap Arab Saudi.

Baca Juga: Intel dan AMD Meneken Kesepakatan Jangka Panjang CPU Server dengan Klien China

Kenaikan harga energi kembali memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan peluang kenaikan suku bunga.

Kondisi tersebut berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan mengurangi permintaan terhadap komoditas industri seperti tembaga.

Di antara logam dasar lainnya di LME, harga aluminium naik 0,14%, seng menguat 0,54%, timbal bertambah 0,42%, nikel naik 0,27%, dan timah menguat 0,6%.

Sementara di SHFE, aluminium naik 0,58%, seng menguat 1,61%, timbal bertambah 1,11%, nikel naik 1,17%, dan timah menguat 0,29%.