KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga tembaga kembali menguat pada Rabu (16/9/2026), ditopang tanda-tanda meningkatnya permintaan dari China, konsumen tembaga terbesar dunia. Kenaikan terjadi setelah harga logam industri tersebut terkoreksi cukup dalam dari rekor tertingginya pekan lalu. Harga tembaga berjangka tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 1,1% menjadi US$14.231 per ton dalam perdagangan resmi.
Penguatan tersebut terjadi setelah harga tembaga sempat mencapai rekor US$14.875 per ton pada pekan lalu. Sejak menyentuh level tersebut, harga tembaga telah turun sekitar 4%.
Baca Juga: Harga Tembaga Naik 0,5% Senin (20/7), Impor China dan Pasokan Ketat Jadi Penopang Salah satu indikator yang menunjukkan perbaikan permintaan China adalah premi tembaga Yangshan. Premi yang menjadi indikator permintaan tembaga impor China itu naik 7% menjadi US$118 per ton pada Rabu. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam hampir empat tahun. Kenaikan premi terjadi ketika pembeli China memanfaatkan penurunan harga tembaga untuk kembali mengisi persediaan. "Pembeli China memanfaatkan penurunan harga untuk melakukan restocking," kata David Wilson, kepala strategi logam BNP Paribas. Di sisi lain, pasar masih menghadapi ketidakpastian dari kebijakan Amerika Serikat. Arus masuk tembaga ke gudang COMEX melambat setelah muncul laporan bahwa Gedung Putih belum memutuskan tarif tembaga olahan, sementara pemerintah AS masih mempertimbangkan dampak kenaikan harga terhadap biaya manufaktur. Kondisi pasokan di LME juga mulai lebih longgar. Selisih harga kontrak tembaga menunjukkan pola contango, meski perubahan tersebut dinilai lebih banyak dipengaruhi sentimen pasar ketimbang lonjakan signifikan persediaan.
Baca Juga: Harga Tembaga Naik Selasa (14/7) Dipicu Kekhawatiran Gangguan Pasokan di Selat Hormuz Pergerakan harga tembaga juga dibayangi keputusan suku bunga Federal Reserve AS yang dinantikan pelaku pasar. Kondisi tersebut membuat investor tetap mewaspadai volatilitas harga logam dalam jangka pendek. Di pasar logam lainnya, harga seng naik 0,3% menjadi US$3.835 per ton. Aluminium menguat 1,1% menjadi US$3.288 per ton, sementara nikel naik 1,7% menjadi US$16.240 per ton. Harga timbal naik 0,8% menjadi US$1.888 per ton dan timah menguat 1,3% menjadi US$52.650 per ton.