KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri otomotif global mulai mempercepat peralihan penggunaan tembaga ke aluminium untuk sistem kelistrikan kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Produsen mobil premium seperti Ferrari dan BMW kini meluncurkan model terbaru yang menggunakan kabel aluminium yang lebih ringan dan lebih murah, mengikuti langkah yang lebih dulu ditempuh Tesla serta sejumlah produsen kendaraan listrik asal China. Perubahan ini mencerminkan tren yang semakin meluas di industri otomotif. Menurut proyeksi JPMorgan, peralihan dari tembaga ke aluminium diperkirakan akan memengaruhi sekitar 2% permintaan tembaga global pada tahun ini.
Dalam beberapa tahun mendatang, porsi penggunaan aluminium diperkirakan terus meningkat. Kenaikan harga tembaga akibat terbatasnya pasokan, di tengah lonjakan permintaan dari sektor energi hijau dan pusat data (data center), menjadi faktor utama yang mendorong industri mencari material alternatif. Berdasarkan wawancara Reuters dengan 18 perusahaan yang terdiri dari produsen mobil, produsen kabel, perusahaan pendingin udara, produsen logam hingga konsultan industri, semakin banyak perusahaan yang beralih ke aluminium karena harganya jauh lebih murah namun tetap mampu memberikan performa yang kompetitif.
Baca Juga: Harga Emas Bersiap Catat Penurunan Kuartalan Terbesar dalam 13 Tahun Ferrari dan BMW juga menyebut bobot aluminium yang lebih ringan sebagai salah satu alasan utama memilih material tersebut. Sebenarnya, tren substitusi aluminium terhadap tembaga sudah berlangsung secara bertahap selama dua dekade terakhir. Namun, lonjakan harga tembaga yang sempat mendekati US$15.000 per metrik ton pada akhir Januari semakin memperkuat alasan ekonomi untuk mempercepat transisi tersebut. Selain itu, berbagai proyeksi menunjukkan bahwa pertumbuhan pasokan tembaga diperkirakan masih akan tertinggal dibandingkan pertumbuhan permintaan global selama lebih dari satu dekade ke depan.
Ferrari Pangkas Bobot Kabel Hingga 20%
Ferrari, yang selama ini telah menggunakan aluminium pada bodi, mesin, dan sasis kendaraannya, mulai memakai logam ringan tersebut untuk kabel daya pada mobil sport hybrid Ferrari 296 sejak tahun lalu. Pabrikan asal Italia itu kemudian memperluas penggunaan kabel aluminium ke model-model lain, termasuk Luce, kendaraan listrik murni pertama Ferrari yang diluncurkan bulan lalu. Eksekutif Komunikasi Ferrari, Dario Esposito, mengatakan penggunaan aluminium mampu memangkas total bobot sistem kabel hingga 20%. "Kami tidak memilih aluminium karena lebih murah. Kami memilih material yang memberikan performa terbaik," ujar Esposito. Meski demikian, secara ekonomi aluminium memang jauh lebih murah. Saat ini harga aluminium sekitar US$3.100 per ton, atau hanya sekitar seperempat harga tembaga.
BMW Gunakan Aluminium Sejak 2011
Produsen otomotif Jerman BMW mengungkapkan telah menggunakan konduktor aluminium sejak 2011 pada model kompak Seri 1. Seiring berkembangnya kendaraan hybrid dan listrik, BMW secara bertahap memperluas penggunaan aluminium. Saat ini, perusahaan menggunakan kabel aluminium dalam jumlah besar untuk sistem tegangan tinggi maupun rendah pada teknologi kendaraan listrik eDrive generasi terbaru yang diperkenalkan tahun lalu. Sementara itu, Stellantis, produsen otomotif terbesar keempat di dunia, juga disebut mulai mengganti kabel tembaga dengan aluminium. Namun perusahaan menolak memberikan komentar terkait informasi tersebut.
Harga Jadi Pertimbangan Penting
Direktur Penjualan JONVER, Feng Lu, mengatakan penjualan produk kabel aluminium perusahaan meningkat signifikan tahun ini. Kontribusinya terhadap total penjualan naik menjadi sekitar 30%, dibandingkan sekitar 20% pada 2023.
Baca Juga: Aktivitas Manufaktur China Kembali Ekspansi Ditopang Lonjakan Permintaan Produk AI Tren serupa juga dirasakan produsen aluminium asal Norwegia, Hydro. Perusahaan mencatat permintaan pipa aluminium untuk sistem pemanas dan pendingin udara sebagai pengganti tembaga terus bertumbuh dalam beberapa tahun terakhir. Chief Financial Officer (CFO) Hydro, Trond Olaf Christophersen, mengatakan perusahaan memperkirakan pangsa pasarnya akan terus meningkat seiring semakin cepatnya penggantian tembaga dengan aluminium pada sektor tersebut. Di sisi lain, produsen kabel terbesar kedua di dunia, Nexans, menilai tembaga masih tetap memiliki keunggulan untuk aplikasi tertentu. Xavier Mathieu dari Nexans menjelaskan bahwa produsen umumnya masih memilih tembaga meski harganya lebih mahal karena memiliki performa yang lebih baik. Namun, ketika harga tembaga mencapai sekitar 3,5 kali lipat harga aluminium, perusahaan mulai mempertimbangkan penggunaan aluminium. Saat ini, harga tembaga tercatat telah mencapai lebih dari 4,2 kali harga aluminium.
Masih Ada Sejumlah Tantangan
Meski menawarkan penghematan biaya, penggunaan aluminium bukan tanpa kendala. Sejumlah faktor masih menjadi pertimbangan industri, mulai dari kebijakan tarif impor Amerika Serikat hingga tingginya kebutuhan energi dalam proses produksi aluminium yang menghasilkan emisi gas rumah kaca lebih besar. Selain itu, secara teknis aluminium memiliki konduktivitas listrik yang lebih rendah dibandingkan tembaga. Artinya, diperlukan volume aluminium yang lebih besar untuk menghantarkan jumlah listrik yang sama. Meski demikian, JPMorgan memperkirakan sekitar 6% permintaan tembaga global berpotensi digantikan aluminium pada 2030, meningkat dibandingkan sekitar 2% pada tahun ini.
Produsen EV China Memimpin Perubahan
China menjadi salah satu negara yang paling agresif mendorong penggunaan aluminium. Pemerintah China, sebagai konsumen logam terbesar di dunia, melalui dokumen kebijakan yang diterbitkan pada Maret 2025 mendorong perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan penggunaan aluminium sebagai substitusi tembaga.
Baca Juga: Bocoran iPhone 18 Pro Muncul di Dark Web Konsultan Zhuochuang memperkirakan sekitar 25% hingga 30% komponen yang saat ini menggunakan tembaga, berdasarkan volume logam, berpotensi beralih ke aluminium pada sektor kelistrikan, otomotif, dan peralatan rumah tangga pada 2030. Menurut Presiden Caresoft Global, Terry Woychowski, sejumlah produsen kendaraan listrik China yang telah menggunakan kabel aluminium antara lain AVATR, XPeng, dan Xiaomi.
Tesla juga menjadi pelopor penggunaan aluminium pada sistem kabel ketika memperkenalkan Model Y pada 2019 dan kemudian kembali menerapkannya pada Cybertruck. Woychowski menjelaskan, aluminium sangat menarik bagi produsen kendaraan listrik karena bobotnya yang ringan dapat memperpanjang jarak tempuh kendaraan. Selain itu, efisiensi biaya menjadi faktor penting, terutama di pasar kendaraan listrik China yang tengah menghadapi perang harga sehingga margin keuntungan produsen semakin tipis. Masih menurut Hydro, sekitar 85% busbar atau penghantar listrik yang menghubungkan baterai kendaraan listrik dengan sistem kelistrikan kendaraan hingga kini masih menggunakan tembaga. Hal ini menunjukkan peluang penggunaan aluminium di industri otomotif masih sangat besar. Dengan harga yang jauh lebih rendah, bobot yang lebih ringan, serta tekanan terhadap pasokan tembaga yang diperkirakan terus berlanjut, aluminium dipandang akan memainkan peran yang semakin penting dalam rantai pasok industri kendaraan listrik global dalam beberapa tahun mendatang.