Harga Tembaga Menguat, Cermati Rekomendasi Saham dan Prospek Emiten Tembaga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga tembaga yang terus menguat menjadi katalis positif bagi emiten pertambangan dengan eksposur terhadap komoditas tersebut, seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Mengutip Bloomberg, harga tembaga di LME ditutup naik 1,14% ke level US$ 14.708,5 per ton pada Selasa (8/9/2026). Ini adalah rekor terbaik harga tembaga.

Dengan posisi tersebut, harga tembaga juga sudah menanjak 2,51% dalam sepekan dan dalam setahun terakhir harga tembaga sudah melonjak 48,36%.


Penguatan harga tembaga antara lain didorong ekspektasi peningkatan kebutuhan tembaga dari sektor kecerdasan buatan (AI), pusat data dan kendaraan listrik.

Baca Juga: Hartadinata Abadi (HRTA) Siapkan Private Placement Maksimal 10% dari Modal Disetor

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, kenaikan harga tembaga memberikan dampak signifikan terhadap prospek AMMN dan MDKA.

Namun, AMMN dianggap memiliki potensi manfaat yang lebih besar karena tengah memasuki siklus pertumbuhan laba baru.

"Signifikan, terutama bagi AMMN yang sedang memasuki earnings cycle baru," kata Abida kepada Kontan, Rabu (9/9/2026).

Menurut dia, Fase 8 Batu Hijau menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan AMMN. Fresh ore mined pada kuartal I-2026 melonjak menjadi 38 juta ton dari hanya 1 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, produksi konsentrat meningkat 110% secara tahunan.

Kombinasi peningkatan volume produksi dan kenaikan harga tembaga tersebut menciptakan operating leverage yang besar bagi AMMN.

Abida memproyeksikan, pendapatan AMMN pada 2026 mencapai US$ 4,7 miliar, tumbuh 153% secara tahunan. Di sisi lain, EBITDA AMMN diproyeksikan meningkat 150% menjadi US$ 2,56 miliar di akhir 2026.

Sementara bagi MDKA, kenaikan harga tembaga juga memberikan sentimen positif seiring diversifikasi ke komoditas tembaga melalui proyek strategisnya.

Baca Juga: Merdeka Battery (MBMA) Buka Suara Soal Kabar Pencatatan Saham di Bursa Hong Kong

Namun, skala dampaknya dinilai lebih kecil dibandingkan AMMN yang semakin berfokus pada bisnis tembaga dan emas terintegrasi.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas David Kurniawan bilang, prospek permintaan tembaga dalam jangka menengah hingga panjang masih kuat.

Menurut dia, tren elektrifikasi dan ekspansi infrastruktur digital menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan permintaan tembaga. Komoditas ini banyak digunakan dalam baterai, sistem pengisian kendaraan listrik, sistem pendingin pusat data hingga infrastruktur kelistrikan.

"Tren elektrifikasi dan ekspansi infrastruktur digital atau AI merupakan fondasi yang sangat kuat bagi permintaan tembaga jangka menengah hingga panjang," ujar David.

Ia mengatakan, kebutuhan dari sektor AI, pusat data dan kendaraan listrik berpotensi menjaga harga dasar tembaga tetap solid di pasar global.

Namun, perkembangan permintaan tetap perlu dicermati bersama kondisi ekonomi global, termasuk kebijakan suku bunga bank sentral seperti The Fed dan pemulihan ekonomi konsumen tembaga terbesar seperti China.

Selain harga tembaga, Abida bilang, harga emas juga menjadi katalis penting bagi AMMN. Pembelian emas oleh bank sentral yang masih agresif, terutama Bank Sentral China atau PBoC, dinilai memberikan dukungan terhadap harga emas.

Katalis lain berasal dari perkembangan fasilitas pengolahan baru AMMN. Kapasitas pengolahan perseroan akan meningkat dari 40 juta ton per tahun (MTPA) menjadi 85 juta ton per tahun.

Fasilitas tersebut ditargetkan mulai menerima bijih pada kuartal III-2026 dan menjadi salah satu katalis volume dalam jangka menengah.

"Timeline ramp-up processing plant baru yang menaikkan kapasitas dari 40 MTPA ke 85 MTPA dan pertama kali menerima ore di Q3-2026F menjadi katalis volume jangka menengah yang krusial," jelas Abida.

 
AMMN Chart by TradingView

Di sisi lain, investor juga perlu mencermati potensi kenaikan royalti serta proses de-risking proyek Elang yang dapat memengaruhi valuasi AMMN.

David menambahkan, kemajuan operasional smelter dan efisiensi biaya juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor. Selain itu, kestabilan volume produksi dari tambang utama dan perkembangan kapasitas produksi akan menentukan seberapa besar emiten dapat memanfaatkan kenaikan harga tembaga.

Dari sisi investasi, David menjelaskan, sektor tembaga menarik bagi investor yang ingin mengambil peluang dari tema transisi energi dan potensi defisit pasokan tembaga dunia.

Namun, sektor ini tetap memiliki sejumlah risiko. Di antaranya kenaikan biaya operasional atau cash cost, penurunan kualitas bijih, dinamika regulasi dan kebijakan ekspor, serta potensi koreksi harga komoditas apabila pertumbuhan ekonomi global melemah.

"Risiko utamanya meliputi lonjakan biaya operasional, penurunan kualitas bijih, dinamika regulasi atau ekspor, serta potensi koreksi harga komoditas akibat penurunan pertumbuhan ekonomi global," kata David.

Selain itu, pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah juga perlu dicermati karena dapat memengaruhi kinerja operasional emiten.

Dengan prospek harga tembaga dan peningkatan volume produksi, Abida merekomendasikan beli saham AMMN dengan target harga Rp 6.000 per saham.

"AMMN adalah pilihan utama sektor tembaga saat ini dengan earnings cycle yang baru dimulai dan multi-year volume growth yang terjamin dari ekspansi kapasitas terkonfirmasi," ujar Abida.

Baca Juga: Laba Bersih Tertekan, Ini Kisi-Kisi Pembagian Dividen Interim Astra (ASII)

Rekomendasi tersebut didukung oleh Batu Hijau sebagai aset penghasil arus kas inti, smelter dan precious metal refinery sebagai sumber nilai dari hilirisasi, serta proyek Elang sebagai opsi pertumbuhan jangka panjang.

Sementara itu, Abida juga merekomendasikan buy bagi saham MDKA sebagai pilihan kedua. Diversifikasi MDKA pada tembaga, nikel dan emas dinilai memberikan profil risiko yang lebih seimbang bagi investor yang menginginkan eksposur terhadap portofolio mineral yang lebih luas.

David juga memberikan rekomendasi saham AMMN karena lebih menarik bagi investor yang mencari eksposur langsung terhadap komoditas tembaga skala besar.

Sementara, saham MDKA lebih sesuai bagi investor yang mengutamakan diversifikasi melalui eksposur tembaga, emas dan nikel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: