Harga Tembaga Menguat ke US$ 13.308 Jumat (26/6), Ditopang Pelemahan Dolar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga tembaga berbalik menguat pada perdagangan Jumat (26/6/2026), didukung pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan terus menurunnya persediaan logam di gudang.

Meski demikian, tembaga masih berada di jalur penurunan mingguan terbesar dalam hampir dua bulan.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Terjun Bebas: Ambles 9% di Pekan Ini


Mengutip Reuters, kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,3% menjadi US$ 13.308 per ton pada perdagangan resmi. Sebelumnya, harga sempat turun hingga 1,4% ke level US$ 13.083 per ton.

Secara mingguan, harga tembaga diperkirakan turun sekitar 2,1%, yang akan menjadi pelemahan mingguan terbesar sejak awal Mei.

Pada awal perdagangan, tembaga tertekan oleh aksi jual saham-saham teknologi di Wall Street yang memicu sentimen negatif di pasar komoditas.

Namun pelemahan dolar AS kemudian membantu menopang harga karena membuat komoditas berbasis dolar menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Baca Juga: Swatch Gugat Samsung US$ 170 Juta, Diduga Langgar Merek Dagang Jam Tangan

Senior Broker Sucden Financial Robert Montefusco menilai aksi jual tembaga beberapa hari terakhir cenderung berlebihan.

Namun, menurutnya pasar masih kekurangan katalis fundamental yang cukup kuat untuk mendorong reli harga lebih lanjut.

"Meski persediaan terus menurun, harga belum mampu bergerak lebih tinggi. Pasar masih membutuhkan faktor fundamental yang lebih kuat untuk menopang kenaikan," ujarnya.

Data menunjukkan stok tembaga di Shanghai Futures Exchange turun 5,7% dibandingkan pekan lalu menjadi 135.732 ton, level terendah sejak Desember tahun lalu.

Sementara itu, persediaan tembaga di gudang LME turun menjadi 336.475 ton, terendah sejak 18 Maret.

Baca Juga: Harga Emas Bertahan di Atas US$ 4.000, Sikap Hawkish The Fed Masih Jadi Beban

Di pasar fisik, kontrak tunai LME diperdagangkan dengan diskon US$ 35,50 per ton terhadap kontrak tiga bulan, menyempit dibandingkan diskon US$ 42,40 per ton pada perdagangan sebelumnya.

Penyempitan diskon tersebut mencerminkan mulai membaiknya keseimbangan pasokan jangka pendek.

Sementara itu, harga aluminium naik 0,3% menjadi US$ 3.174 per ton. Logam tersebut sempat menyentuh titik terendah sejak 25 Februari pada Rabu lalu setelah harga energi turun dan ketegangan di Timur Tengah mulai mereda.

Meski pulih pada perdagangan harian, harga aluminium masih berada di jalur penurunan mingguan sekitar 6,4%, yang akan menjadi koreksi mingguan terdalam sejak Maret.

Montefusco mengatakan penurunan harga energi berpotensi menekan biaya produksi aluminium sehingga dapat menjadi faktor penyeimbang bagi pasar.

Baca Juga: Bantuan Internasional Mengalir ke Venezuela Usai Gempa Dahsyat Tewaskan 188 Orang

Menurutnya, minat beli diperkirakan mulai muncul apabila harga bergerak di kisaran US$ 3.000 hingga US$ 3.100 per ton.

Di pasar logam dasar lainnya, harga seng naik 0,3% menjadi US$ 3.446 per ton, timah menguat tipis 0,1% menjadi US$ 50.450 per ton, sedangkan timbal turun 0,2% menjadi US$ 1.908 per ton dan nikel melemah 0,6% ke level US$ 16.720 per ton.