KONTAN.CO.ID - Harga tembaga naik tipis pada perdagangan Rabu (11/2/2026), didorong pelemahan dolar AS. Namun, permintaan dari China sebagai konsumen terbesar dunia mulai melambat menjelang libur Tahun Baru Imlek yang berlangsung selama sembilan hari akhir pekan ini. Melansir Reuters, kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) ditutup naik 0,31% ke level 102.180 yuan (US$14.782,77) per ton pada sesi perdagangan siang hari.
Baca Juga: Minyak Naik 0,8%, Pasar Cemas Negosiasi AS-Iran dan Stok AS Sementara itu, kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) menguat 0,31% menjadi US$13.155 per ton pada pukul 03.00 GMT. Pelemahan dolar ke level terendah sejak 30 Januari membuat komoditas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain. Meski demikian, permintaan di China tercatat melemah setelah aktivitas restocking pekan lalu dan menjelang periode libur panjang, menurut catatan broker China, Galaxy Futures. Para pelaku pasar memperkirakan permintaan baru akan kembali meningkat pada Maret. Stok Tembaga Terus Naik Di sisi pasokan, persediaan tembaga global terus bertambah. Pangsa tembaga asal China dalam stok LME memang turun pada Januari karena bursa tersebut menjadi lokasi penyimpanan pilihan bagi pelaku pasar dari AS dan Asia lainnya.
Baca Juga: Harga Emas dan Perak Naik, Terangkat Dolar AS yang Turun Namun secara absolut, stok tembaga asal China tetap naik 8,77% secara bulanan menjadi 95.150 ton. Stok tembaga yang dipantau SHFE melonjak ke level tertinggi sejak Maret pada Jumat lalu, sementara stok tembaga di Comex AS mencapai rekor tertinggi 536.563 ton. Nikel Melonjak Di antara logam dasar lain di SHFE, nikel memimpin penguatan dengan kenaikan 4,02% ke 139.360 yuan per ton. Di LME, nikel naik 1,94% menjadi US$17.830 per ton. Media lokal Indonesia melaporkan produsen nikel terbesar telah menyetujui kuota tambang nikel sekitar 260 juta hingga 270 juta metrik ton untuk 2026.
Baca Juga: Bursa Australia Tembus 9.000 Poin Rabu (11/2), Bank-Bank Menguat Berkat Laba CBA Managing Director Commodities Strategy Macquarie Group Jim Lennon mengatakan, pemerintah Indonesia bergerak untuk mengurangi izin pertambangan batubara dan nikel pada 2026, yang berpotensi menekan volume produksi dan ekspor.
Logam dasar lain di SHFE turut menguat: aluminium naik 0,49%, seng bertambah 0,57%, timbal naik 0,39%, dan timah melonjak 3,27%. Di LME, aluminium naik 0,68%, seng bertambah 0,62%, timbal menguat 0,18%, dan timah naik 1,77%.