KONTAN.CO.ID - Harga tembaga menguat pada perdagangan Selasa (27/10/2026), ditopang perbaikan sentimen pasar global seiring reli saham serta meningkatnya indikasi permintaan dari China, konsumen logam industri terbesar di dunia. Mengutip
Reuters, harga tembaga untuk kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,22% menjadi US$ 14.359,5 per metrik ton pada pukul 03.01 GMT. Sementara itu, kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) menguat 0,5% menjadi 109.420 yuan atau setara US$ 16.404,80 per ton.
Baca Juga: Pertumbuhan Laba Industri di China Naik di Tengah Kesenjangan Ekonomi Analis komoditas senior ANZ Daniel Hynes mengatakan, sentimen pasar memperoleh dorongan dari pemulihan saham-saham teknologi kecerdasan buatan atau
artificial intelligence (AI) setelah perusahaan AI Anthropic mengumumkan rencana penawaran saham perdana atau
initial public offering (IPO). Bursa saham Wall Street dan indeks saham global menguat pada Senin (26/10/2026), menyusul pengajuan IPO Anthropic yang turut memperbaiki sentimen terhadap saham-saham terkait AI. Harga tembaga turut memperoleh dukungan dari ekspektasi peningkatan kebutuhan logam untuk pembangunan infrastruktur AI. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, harga tembaga sempat terbebani oleh kinerja saham-saham perusahaan yang terkait dengan pembangunan infrastruktur AI yang kurang memuaskan. Selain sentimen pasar global, indikasi penguatan permintaan fisik tembaga di China juga menopang harga.
Baca Juga: Ekonomi Korea Selatan Tumbuh Melebihi Proyeksi Berkat Ekspor Semikonduktor Premi tembaga Yangshan, yang menjadi salah satu indikator permintaan China terhadap tembaga impor, mencapai US$ 178 per ton pada Senin (26/10/2026). Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak 2014. Indikator lainnya, yakni premi tembaga domestik China yang mencerminkan selisih harga pasar spot terhadap kontrak tembaga SHFE, tercatat sebesar 900 yuan per ton. Angka tersebut meningkat 5,88% dibandingkan akhir pekan lalu dan menjadi level tertinggi dalam dua pekan. Penguatan indikator permintaan tersebut terjadi ketika persediaan tembaga di China menyusut seiring sejumlah fasilitas peleburan memasuki masa pemeliharaan. Pada pekan lalu, persediaan tembaga di gudang yang terdaftar di SHFE turun lebih dari 25% menjadi 54.356 ton. Di sisi lain, persediaan tembaga di gudang terdaftar LME justru meningkat pada pekan lalu. Kenaikan tersebut membantu meredakan kekhawatiran mengenai pasokan global, meskipun sebagian besar tambahan persediaan tercatat di Amerika Utara.
Baca Juga: 20 Negara dengan Iuran Terbesar ke PBB, Indonesia Peringkat Berapa? Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai potensi hambatan pasokan di kawasan tertentu. Pergerakan harga logam industri lainnya di LME cenderung bervariasi. Harga aluminium turun 0,35%, seng melemah 0,05%, dan timbal stabil. Sementara itu, nikel naik 0,44% dan timah menguat 0,12%. Di SHFE, harga aluminium turun 0,15%, sedangkan seng naik 0,45% dan timbal menguat 1,17%. Harga nikel melemah 0,85%, sementara timah naik 0,74%.