KONTAN.CO.ID - Harga tembaga menguat pada perdagangan Selasa (21/7/2026), didorong ketatnya pasokan dan kuatnya permintaan dari China. Meski demikian, konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih membayangi prospek pertumbuhan ekonomi global serta permintaan logam industri.
Baca Juga: Harga Emas Naik 1% Selasa (21/7), Harapan Diplomasi AS-Iran Redakan Reli Harga Minyak Mengutip
Reuters, harga tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,93% menjadi US$ 13.748,50 per metrik ton pada pukul 07.00 GMT. Sementara itu, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) menguat 1,64% menjadi 105.460 yuan atau sekitar US$ 15.589,29 per ton. Analis ING menyebut, fundamental pasar tembaga masih mendukung penguatan harga dalam jangka pendek. "Persediaan yang ketat, kuatnya permintaan impor dari China, serta terus menurunnya stok di bursa menunjukkan fundamental tembaga masih cukup kuat dalam waktu dekat," tulis ING dalam laporannya. Indikator permintaan impor tembaga China, premi Yangshan, naik menjadi US$ 103 per ton pada Senin (20/7), level tertinggi sejak Mei 2025.
Baca Juga: Bursa Asia Bangkit, Saham Thailand Sentuh Level Tertinggi Lebih dari Tiga Tahun Di sisi lain, selisih harga tunai (
cash) dengan kontrak tiga bulan di LME semakin menyempit menuju kondisi
backwardation, yang mengindikasikan pasokan fisik semakin ketat. Persediaan tembaga di gudang terdaftar LME maupun gudang yang dipantau SHFE juga terus menurun sejak Mei. Di tengah penguatan harga tembaga, konflik AS-Iran masih menjadi faktor risiko utama bagi pasar. Meskipun terdapat upaya mediasi yang membantu meredakan lonjakan harga minyak, perang tetap meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga. Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan pada akhirnya mengurangi permintaan terhadap logam industri seperti tembaga.
Baca Juga: Indeks KOSPI Rebound: Ditutup Melonjak 3,6% Usai Anjlok 10% di Dua Sesi Sebelumnya Aluminium bergerak beragam Di pasar logam lainnya, harga aluminium di LME naik 0,53%, sedangkan kontrak aluminium di SHFE turun 0,22%. Pelaku pasar mencerna data produksi aluminium primer global yang lebih rendah serta perubahan kebijakan tarif impor aluminium ke Amerika Serikat yang diumumkan sebelumnya. Data International Aluminium Institute (IAI) menunjukkan produksi aluminium primer global pada Juni turun 1,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Menlu ASEAN Bertemu, Suarakan Keprihatinan Atas Konflik di Timur Tengah Pasokan aluminium juga masih dipengaruhi ketegangan di Timur Tengah, mengingat kawasan tersebut menyumbang sekitar 9% kapasitas peleburan aluminium primer dunia. Sementara itu, logam dasar lainnya di LME juga mencatat kenaikan. Harga seng naik 0,91%, timbal menguat 0,16%, nikel bertambah 0,77%, dan timah melonjak 2,16%. Di SHFE, harga seng naik 0,55%, timbal relatif stabil, nikel menguat 0,28%, sedangkan timah bertambah 1,69%.