KONTAN.CO.ID - BEIJING. Harga tembaga melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari sebulan, karena investor khawatir akan kenaikan biaya yang dipicu oleh sektor energi. Kenaikan harga tembaga ditopang pelemahan dolar AS karena harapan akan meredanya perang di Timur Tengah. Selasa (14/4/2026) pukul 10.15 WIB, harga tembaga yang paling banyak diperdagangkan di Bursa Berjangka Shanghai naik 1,84% menjadi 100.980 yuan atau setara US$ 14.807,75 per metrik ton, setelah mencapai 101.450 yuan, level tertingginya sejak 11 Maret, sebelumnya dalam sesi tersebut. Terakhir kali kontrak tersebut berada di atas 100.000 yuan adalah sebulan yang lalu.
Sejalan, harga tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) menguat 0,36% menjadi US$ 13.101 per metrik ton setelah menyentuh level tertinggi sejak 10 Maret di US$ 13.162 per metrik ton sebelumnya.
Baca Juga: Kebakaran Terjadi di Kantor Pusat BYD Shenzhen, Saham Turun 0,6% Harga logam merah yang digunakan di sektor konstruksi, energi, dan manufaktur mendapat dukungan dari kenaikan biaya yang disebabkan oleh melonjaknya harga energi akibat perang di Timur Tengah, kata para analis. Perang tersebut telah meningkatkan biaya bagi penambang tembaga penghasil terbesar di dunia, Codelco, sebesar 10 sen per pon, sementara penambang Antofagasta juga menyampaikan kekhawatiran atas kenaikan biaya bahan bakar dan input. Sementara itu, ketatnya pasokan asam sulfat, yang diperparah oleh laporan bahwa pemasok utama China akan menghentikan ekspor asam sulfat mulai Mei, memicu kekhawatiran akan potensi dampak pada tembaga dan nikel, yang pasokannya membutuhkan asam tersebut. Yang mendukung harga tembaga juga adalah permintaan China yang kuat dengan premi tembaga Yangshan, sebuah ukuran selera China untuk mengimpor logam tersebut, melonjak 76% dari minggu ke minggu menjadi US$ 74 per ton pada 13 April, tertinggi sejak Juni 2025. Dimana, harga nikel di bursa Shanghai naik 2,39%, sementara harganya di LME menyentuh level tertinggi sejak 2 Maret di US$ 17.840 per metrik ton setelah pemasok utama Indonesia merevisi formula yang digunakan untuk menentukan harga referensi mineral.
Selain itu, dolar yang lebih lemah di tengah harapan meredanya ketegangan AS-Iran memberikan dukungan luas kepada kompleks logam dasar. Sebelas sumber yang mengetahui negosiasi tersebut mengatakan dialog masih berlangsung, bahkan setelah pejabat Iran dan AS mengakhiri pembicaraan tingkat tertinggi mereka dalam beberapa dekade tanpa terobosan.
Baca Juga: Strategi Terbaru Nissan: Pangkas Model, Geber AI dan Bidik Penjualan Fantastis Aluminium SHFE naik 0,75%, timbal tetap stabil, timah naik 2,39%, dan seng naik 0,36%. Di antara logam LME lainnya, aluminium naik 0,28%, timbal sedikit naik 0,31%, timah naik 1,32%, dan seng naik 0,44%.