Harga Tembaga Naik 0,5% Senin (20/7), Impor China dan Pasokan Ketat Jadi Penopang



KONTAN.CO.ID - Harga tembaga menguat pada perdagangan Senin (20/7/2026), didorong menipisnya persediaan global serta meningkatnya permintaan dari China, konsumen tembaga terbesar di dunia.

Mengutip Reuters, harga tembaga acuan di London Metal Exchange (LME) naik 0,5% menjadi US$ 13.593,5 per metrik ton.

Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Bikin Investor Waspada, Dolar AS Masih Bergerak Datar


Sentimen positif datang setelah data menunjukkan impor tembaga olahan China pada Juni mencapai level tertinggi dalam sembilan bulan.

Kondisi tersebut memperkuat optimisme pasar terhadap prospek permintaan logam yang banyak digunakan di sektor kelistrikan dan konstruksi.

Peningkatan impor tersebut sebagian dipicu oleh berkurangnya pasokan domestik akibat kegiatan pemeliharaan (maintenance) di sejumlah fasilitas peleburan (smelter) di China.

Indikator permintaan impor tembaga China, yakni premi tembaga Yangshan, juga melonjak ke level tertinggi dalam 14 bulan sebesar US$ 100 per ton pada 17 Juli, berdasarkan data Shanghai Metals Market. Sepanjang tahun ini, premi tersebut telah melonjak sekitar 133%.

Baca Juga: Hamas Tunjuk Khalil Al-Hayya sebagai Pemimpin Baru Gantikan Yahya Sinwar

Di sisi pasokan, persediaan tembaga di gudang yang dipantau Shanghai Futures Exchange (SHFE) turun menjadi 79.909 ton, level terendah sejak Agustus tahun lalu. Angka tersebut juga merosot lebih dari 80% dibandingkan pertengahan Maret.

Sementara itu, stok tembaga di gudang yang disetujui LME menyusut 24% sejak akhir Mei menjadi 295.275 ton.

Sebanyak 56% dari total surat kepemilikan (cancelled warrants) menunjukkan sekitar 166.025 ton tembaga telah dialokasikan untuk dikirim keluar dari sistem gudang LME.

Sebagian besar tembaga yang keluar dari gudang LME sejak Februari tahun lalu dikirim ke Amerika Serikat setelah Presiden Donald Trump mengemukakan rencana penerapan tarif impor untuk logam tersebut.

Analis Goldman Sachs memperkirakan pasokan tembaga di luar Amerika Serikat akan tetap ketat dalam jangka pendek.

"Daya tarik impor ke AS akibat ekspektasi tarif terus menyerap pasokan dari pasar global yang sudah ketat. Di saat yang sama, rendahnya persediaan di China dan terbatasnya penggunaan logam daur ulang akan membantu menjaga harga," tulis Goldman Sachs dalam laporannya.

Baca Juga: Di Balik Putusan FDA untuk ZYN, Klaim Risiko Lebih Rendah Bukan Berarti Produk Aman

Kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan di gudang LME juga mendorong terjadinya backwardation, yaitu kondisi ketika harga kontrak jangka pendek diperdagangkan lebih tinggi dibandingkan kontrak berjangka yang jatuh tempo lebih lama.

Sementara itu, harga logam dasar lainnya juga bergerak bervariasi. Harga aluminium naik 0,2% menjadi US$ 3.158 per ton, seng menguat 0,5% menjadi US$ 3.542 per ton, timah naik 0,3% menjadi US$ 53.375 per ton, dan nikel bertambah 0,4% menjadi US$ 17.030 per ton. Sebaliknya, harga timbal turun 0,3% menjadi US$ 1.876 per ton.