KONTAN.CO.ID - Harga tembaga menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan rantai pasok akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Mengutip
Reuters, harga tembaga acuan kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,2% menjadi US$ 13.568,5 per metrik ton pada pukul 07.00 GMT.
Baca Juga: Pengiriman Smartphone China Turun Selama Lima Kuartal Berturut, Ada Apa? Sementara itu, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) menguat 1,06% menjadi 104.390 yuan per ton. Sentimen positif bagi harga tembaga muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Iran sama-sama mengumumkan kebijakan blokade di Selat Hormuz. Amerika Serikat juga kembali melancarkan serangan ke Iran, sementara sejumlah kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran serangan di jalur pelayaran strategis tersebut. Pialang asal China, Everbright Futures, menilai eskalasi konflik tersebut menjadi "pedang bermata dua" bagi pasar tembaga.
Baca Juga: Rekor! Gaji 50 Youtuber Ternama Di Dunia Tembus US$ 1 Miliar, MrBeast Paling Tinggi Di satu sisi, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan menopang harga logam tersebut. Namun di sisi lain, meningkatnya risiko perlambatan ekonomi global berpotensi menekan permintaan tembaga. Menurut Everbright Futures, salah satu risiko utama berasal dari potensi terganggunya pasokan sulfur yang dapat menghambat rantai pasok industri logam. Timur Tengah memasok sekitar seperempat kebutuhan sulfur dunia, sehingga pasokan asam sulfat menjadi perhatian utama bagi industri tembaga dan nikel. Asam sulfat merupakan bahan penting dalam proses leaching atau pelindian tembaga, yaitu proses ekstraksi logam dari bijih. Apabila pasokan asam sulfat terganggu, biaya produksi tembaga berpotensi meningkat, meskipun prospek permintaan masih dibayangi pelemahan pertumbuhan ekonomi global.
Baca Juga: Inflasi AS Melambat, Peluang Kenaikan Suku Bunga Masih Terbuka Di sisi lain, harga minyak yang melonjak ke level tertinggi dalam empat pekan juga turut menopang harga logam yang membutuhkan energi besar dalam proses produksinya, seperti aluminium dan nikel. Analis Sucden Financial menyebut kenaikan harga energi cenderung memberikan dukungan terhadap logam-logam yang intensif menggunakan energi dalam proses produksinya. Sejalan dengan itu, harga aluminium di LME naik 0,62%, sedangkan di SHFE menguat 1,35%. Harga nikel, yang juga sensitif terhadap pergerakan harga asam sulfat, naik 0,17% di LME dan bertambah 0,66% di SHFE.
Meski demikian, pelaku pasar masih mewaspadai dampak lanjutan dari konflik Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan harga energi dan biaya bahan baku dikhawatirkan dapat memicu inflasi yang lebih tinggi sehingga mendorong bank sentral menaikkan suku bunga.
Baca Juga: Kospi Lanjut Melemah ke Level Terendah dalam 11 Minggu, Saham SK Hynix Terus Tekanan Apabila suku bunga kembali meningkat, aktivitas ekonomi dan permintaan terhadap logam industri, termasuk tembaga, berpotensi melemah. Untuk logam lainnya di LME, harga seng naik 0,36%, timbal menguat 0,37%, dan timah melonjak 2,23%. Sementara di SHFE, harga seng turun tipis 0,04%, timbal melemah 0,63%, sedangkan timah naik 1,17%.