KONTAN.CO.ID - Harga tembaga kembali menguat dan menyentuh level tertinggi dalam 12 pekan pada perdagangan Kamis (6/8/2026). Kenaikan terjadi seiring terus mengalirnya pasokan logam tersebut ke Amerika Serikat (AS) di tengah ketidakpastian kebijakan tarif impor. Mengutip
Reuters, kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) sempat menyentuh US$ 14.178 per metrik ton, level tertinggi sejak 13 Mei, sebelum bergerak turun tipis 0,08% ke US$ 14.099,50 per ton pada pukul 03.25 GMT.
Baca Juga: Hong Kong Kaji Pajak Asuransi Luar Negeri China, Saham Prudential hingga AIA Tertekan Sementara itu, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) naik 0,38% menjadi 107.580 yuan atau sekitar US$ 15.944,39 per ton. Harga bahkan sempat mencapai 108.030 yuan per ton, tertinggi sejak 14 Mei. Ketatnya pasokan jangka pendek juga tercermin dari premi kontrak tunai (cash) tembaga LME terhadap kontrak tiga bulan yang melebar hingga US$ 117,50 per ton. Tarif Impor AS Picu Arus Tembaga Selama beberapa bulan terakhir, pasokan tembaga terus mengalir ke Amerika Serikat karena ketidakpastian mengenai kemungkinan penerapan tarif impor membuat harga tembaga di bursa COMEX berada jauh di atas harga acuan di London. Kontrak tembaga COMEX untuk pengiriman terdekat bahkan mencetak rekor tertinggi pada Rabu (5/8), sekaligus mempertahankan premi yang lebar dibandingkan harga di LME.
Baca Juga: Trump Ungkap Sinyal Positif dari Negosiasi AS-Iran, Apa Isinya? Persediaan tembaga di gudang COMEX meningkat menjadi 720.140 short ton atau sekitar 653.300 metrik ton hingga Rabu. Sebaliknya, stok di gudang yang dipantau LME dan SHFE terus mengalami penurunan. Analis Senior Permintaan Logam StoneX, Natalie Scott-Gray, memperkirakan sedikitnya 1,2 juta metrik ton tembaga telah masuk ke Amerika Serikat sejak pemerintah membuka investigasi Section 232 terhadap impor tembaga pada Februari 2025. Menurutnya, sekitar 64% dari total persediaan tembaga yang terlihat secara global kini berada di Amerika Serikat. Gangguan Pasokan dari Chile Di sisi pasokan, proyek ekspansi tambang El Teniente milik perusahaan tambang negara Chile, Codelco, berpotensi tertunda hingga dua tahun. Pemimpin serikat pekerja Codelco, Amador Pantoja, mengatakan penghentian proyek tersebut dapat berlangsung cukup lama setelah perusahaan menemukan risiko aktivitas seismik yang lebih tinggi dari perkiraan.
Baca Juga: Won Korea Pimpin Penguatan Mata Uang Asia, Rupiah Ikut Menguat terhadap Dolar AS Sebelumnya, Codelco mengumumkan penghentian sementara proyek pengembangan area Andes Norte di tambang bawah tanah El Teniente menyusul hasil studi terbaru mengenai potensi risiko gempa. Logam Dasar Lain Bergerak Variatif Pergerakan harga logam dasar lainnya di LME cenderung beragam. Harga aluminium naik 0,12%, timbal menguat 0,11%, sedangkan seng relatif stabil.
Di sisi lain, harga nikel turun 1,95% dan timah melemah 0,94%.
Baca Juga: Bursa Australia Cetak Rekor Tertinggi Kamis (6/8), Reli Saham Tambang Topang ASX 200 Sementara di SHFE, aluminium naik 0,17%, seng menguat 1,33%, nikel anjlok 2,16%, timah naik 0,26%, sedangkan timbal bergerak datar. Sentimen pasar juga masih dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah. Di pasar energi, harga minyak mentah Brent bergerak melemah setelah sepanjang pekan ini telah terkoreksi lebih dari 12%.