KONTAN.CO.ID - Harga tembaga di Shanghai bergerak terbatas pada perdagangan Selasa (10/2/2026), seiring kenaikan persediaan dan lemahnya permintaan menjelang libur Tahun Baru Imlek yang menekan pasar, meskipun pelemahan dolar AS memberikan sedikit dukungan. Melansir Reuters, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) ditutup naik tipis 0,05% ke level 101.560 yuan per ton. Harga sempat menguat hingga 0,98% di awal sesi sebelum kembali bergerak datar. Sementara itu, harga tembaga acuan kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,76% menjadi US$13.076 per ton pada pukul 07.00 GMT, setelah sempat melemah hingga 0,89%.
Baca Juga: Laba Operasional Honda Anjlok Lebih dari 60% pada Kuartal III 2025 Dolar AS yang terus melemah pada Selasa umumnya membuat komoditas berdenominasi dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Namun, faktor tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat harga tembaga secara signifikan. Tekanan utama datang dari meningkatnya stok tembaga di gudang-gudang yang terdaftar di bursa utama dunia, serta melemahnya permintaan menjelang libur Imlek di China yang berlangsung selama sembilan hari mulai 15 Februari, periode ketika aktivitas ekonomi biasanya melambat. Pialang China, GF Futures, dalam sebuah catatan menyebutkan bahwa meskipun pasar tembaga masih menghadapi keterbatasan pasokan dalam jangka panjang, harga diperkirakan tetap bergerak dalam kisaran terbatas (
rangebound) untuk sementara waktu.
Baca Juga: Macron: Eropa Harus Bersiap Hadapi Konflik Baru dengan Amerika Serikat Menurut GF Futures, permintaan mulai mendingin setelah pembeli hilir di China menyelesaikan pengisian stok sebelum libur. Pada saat yang sama, persediaan tembaga yang terlihat (
visible inventories) terus meningkat secara global, sementara premi harga antara COMEX dan LME semakin menyempit. Stok tembaga di gudang LME tercatat naik menjadi 184.300 ton per Jumat lalu, dari 137.225 ton pada 9 Januari. Di China, persediaan tembaga di gudang SHFE mencatat kenaikan selama sembilan pekan berturut-turut hingga mencapai 248.911 ton. Sementara itu, persediaan tembaga di bursa COMEX AS terus meningkat dan mencapai rekor tertinggi sebesar 535.430 ton. Premi tembaga Yangshan, yang menjadi indikator permintaan China terhadap tembaga impor, berada di level US$38 per ton, naik dibandingkan US$20 sebelumnya.
Baca Juga: Barry Callebaut Pilih Singapura Sebagai Pusat Inovasi Cokelat Global Namun, angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan level di atas US$50 pada akhir Desember, yang mengindikasikan permintaan domestik China masih lemah.
Untuk logam dasar lainnya di SHFE, harga timah melonjak 3,33%, timbal naik 0,60%, sementara aluminium turun 0,30%, seng melemah 0,53%, dan nikel turun 0,19%. Di LME, harga timah naik 0,11% dan timbal menguat 0,03%. Sebaliknya, aluminium turun 0,62%, seng melemah 0,25%, dan nikel turun 0,63%.