KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga tembaga masih menunjukkan tren penguatan di tengah ketatnya pasokan tambang global dan prospek permintaan yang tetap kuat. Kebutuhan dari infrastruktur listrik, elektrifikasi, energi terbarukan, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan data center menjadi penopang harga komoditas tersebut. Berdasarkan data Bloomberg, harga tembaga per 7 September 2026 berada di US$ 14.509 per ton, naik 0,65% secara harian. Harga sempat menyentuh US$ 14.617 per ton, yang menjadi rekor tertinggi.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, kenaikan harga tembaga didorong oleh pasokan yang semakin ketat di tengah permintaan yang masih kuat.
Baca Juga: Rupiah Spot Ditutup Menguat 0,05% ke Rp 17.632 per Dolar AS pada Selasa (8/9/2026) Produksi tambang tembaga global pada semester I 2026 tercatat turun sekitar 1,1% secara tahunan. Sementara produksi konsentrat turun sekitar 2,6%. Penurunan produksi terjadi di sejumlah negara produsen besar seperti Chile, Indonesia, dan Kongo. "Hal ini meningkatkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan supply tidak cukup cepat untuk memenuhi peningkatan permintaan," ujar Lukman kepada Kontan, Selasa (8/9/2026). Di sisi lain, permintaan tembaga masih ditopang kebutuhan pembangkit listrik, jaringan transmisi dan distribusi, kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga data center. Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, selain faktor fundamental, kenaikan harga tembaga juga dipengaruhi faktor makroekonomi dan aktivitas spekulatif. "Belanja modal raksasa sektor teknologi untuk pusat data (data centers) yang padat tembaga berjalan beriringan dengan permintaan berkelanjutan dari jaringan listrik dan kendaraan listrik," kata Wahyu. Wahyu menambahkan, pasar konsentrat tembaga global saat ini mengalami defisit akibat gangguan tambang dan penurunan kadar bijih. Kondisi tersebut turut memperketat pasokan tembaga fisik. Meski prospek harga masih positif, kenaikan yang cukup cepat membuat risiko koreksi dan aksi ambil untung tetap membayangi pergerakan tembaga hingga akhir tahun.
Baca Juga: AKR Corporindo (AKRA) Kasih Bocoran Dividen, Ini Besaran yang Akan Dibagi Untuk proyeksi hingga akhir tahun, Wahyu memperkirakan, harga tembaga dalam skenario bullish berada di kisaran US$ 14.800-US$ 16.000 per ton. Sementara dalam skenario base case, harga diperkirakan berada di US$ 13.000-US$ 14.500 per ton. Selain itu, Lukman memiliki proyeksi yang relatif lebih tinggi. Ia memperkirakan harga tembaga berada di kisaran US$ 14.000-US$ 15.500 per ton pada akhir 2026, dengan target sekitar US$ 15.000 per ton. Dalam skenario bullish, harga bahkan berpeluang mencapai US$ 16.000-US$ 17.000 per ton. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News