Harga Tembaga Turun dari Level Tertinggi, Investor Waspada Tarif AS



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga tembaga melemah pada perdagangan Senin seiring peningkatan persediaan dan ketidakpastian investor terhadap kebijakan tarif Amerika Serikat serta aktivitas perdagangan China menjelang pembukaan kembali bursa setelah libur panjang.

Kontrak tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange turun 0,4% menjadi US$ 12.913 per metrik ton dalam perdagangan resmi open-outcry, setelah sempat menyentuh level tertinggi lebih dari sepekan di US$ 13.050 pada awal sesi.

Secara keseluruhan, harga tembaga di LME telah menguat hampir 4% dalam empat sesi terakhir. Namun, posisinya masih jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 14.527,50 yang tercapai pada 29 Januari 2026.


Baca Juga: Hadapi Akhir Masa Paten Keytruda, Merck Rombak Struktur Bisnis

Nitesh Shah, ahli strategi komoditas di WisdomTree, mengatakan peningkatan persediaan yang terlihat di luar Amerika Serikat menjadi sentimen negatif bagi pasar. “Fakta bahwa ada lebih banyak persediaan yang terlihat di luar AS sedikit meredam pasar, karena itu bisa mengindikasikan adanya pelemahan permintaan. Namun, sulit memastikan apakah ini perpindahan stok dari gudang non-bursa ke bursa atau memang mencerminkan pelemahan permintaan secara keseluruhan,” ujarnya.

Data menunjukkan stok tembaga di gudang yang terdaftar di LME naik 6.675 ton menjadi 241.825 ton, level tertinggi sejak Maret 2025. Sepanjang tahun ini, persediaan telah melonjak sekitar 70%.

Pasar logam, bersama dolar AS dan pasar saham, turut tertekan oleh ketidakpastian setelah Supreme Court of the United States membatalkan tarif darurat yang diberlakukan Presiden Donald Trump pada Jumat lalu. Tak lama setelah putusan tersebut, Trump mengumumkan tarif sementara baru sebesar 15% atas impor AS dari seluruh negara.

Pelaku pasar juga menanti pembukaan kembali perdagangan di Shanghai Futures Exchange yang ditutup selama libur Tahun Baru Imlek dan dijadwalkan kembali beroperasi pada Selasa.

Robert Montefusco dari Sucden Financial mengatakan fokus utama pasar adalah respons China setelah kembali beraktivitas. “Hal besar yang dinantikan adalah apa yang akan dilakukan China saat mereka kembali masuk pasar, apakah akan ada tambahan permintaan domestik, karena selama ini permintaan tersebut masih kurang. Kita harus menunggu dan melihat,” ujarnya.

Sementara itu, harga nikel di LME naik 1,2% menjadi US$ 17.560 per ton setelah pejabat dari Indonesia produsen terbesar nikel dunia menyatakan tengah mempertimbangkan pencabutan izin lingkungan sebuah perusahaan menyusul longsor yang melanda area limbah tambang di pusat pengolahan nikel.

Baca Juga: 8 Pejabat Rusia Kena Sanksi Uni Eropa: Aset Dibekukan Hingga Dilarang Terbang!

Untuk logam lainnya, harga aluminium turun 0,2% menjadi US$ 3.096 per ton, seng melemah 0,9% menjadi US$ 3.353, timbal turun 0,4% menjadi US$ 1.958, sedangkan timah menguat 1,9% menjadi US$ 47.425 per ton.

Selanjutnya: Hadapi Akhir Masa Paten Keytruda, Merck Rombak Struktur Bisnis

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Selasa 24 Februari 2026, Atur Ketenangan