KONTAN.CO.ID - Harga tembaga turun tipis pada Kamis (28/11), terdampak oleh penguatan dolar AS serta kekhawatiran atas ancaman tarif baru dari Presiden terpilih AS, Donald Trump, yang dapat melemahkan konsumsi logam. Melansir Reuters, harga tembaga untuk pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,2% menjadi US$9.000 per ton pada pukul 11:08 WIB. Sementara itu, kontrak tembaga Januari yang paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) juga turun 0,2% menjadi 73.800 yuan ($10.187,04) per ton.
Baca Juga: Ancaman Tarif Trump terhadap Mitra Dagang Utama Mengguncang Pasar Indeks dolar AS menguat, membuat logam yang dihargakan dalam dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Trump sebelumnya mengumumkan rencana untuk memberlakukan tarif tambahan sebesar 10% pada semua produk China setelah ia menjabat pada Januari mendatang. Menurut Matt Huang, analis di BANDS Financial, harga tembaga kemungkinan akan bergerak dalam kisaran sempit dalam jangka pendek karena pelaku pasar menunggu detail lebih lanjut mengenai kebijakan Trump dan respons dari pemerintah China. “Sebagian orang juga menunggu pertemuan kebijakan utama di China dan laporan tahunan perusahaan untuk melihat kinerja mereka,” ujar Huang. “Namun, jika dolar AS melemah secara signifikan, harga tembaga bisa naik.” Baca Juga: Indonesia Berpeluang Kuasai Pasar Tembaga Global pada 2028 Meskipun demikian, pembelian kuat dari China memberikan dukungan pada harga tembaga di level US$9.000, yang dianggap sebagai level resistensi penting. “China akan membeli lebih banyak di harga US$9.000,” tambah Huang. Stok tembaga di gudang SHFE menurun ke level terendah sejak 5 Februari, yaitu 120.236 ton.