Harga Tembaga Turun ke US$ 13.594 Jumat (19/6), Bersiap Catat Penurunan Mingguan



KONTAN.CO.ID - Harga tembaga melanjutkan pelemahan untuk sesi kedua berturut-turut pada Jumat (19/6/2026) dan berada di jalur penurunan mingguan.

Sentimen pasar tertekan oleh tertundanya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran serta penguatan dolar AS.

Kontrak tembaga tiga bulan di London Metal Exchange (LME) turun 0,7% menjadi US$ 13.594 per ton pada perdagangan resmi.


Baca Juga: Israel dan Hezbollah Sepakati Gencatan Senjata, Berlaku Mulai Jumat Sore

Tekanan terhadap pasar logam industri muncul setelah Swiss mengumumkan bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan negosiator Iran terkait kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah tidak akan berlangsung pada Jumat.

Di saat yang sama, bentrokan kembali meningkat di Lebanon sehingga memunculkan keraguan mengenai prospek tercapainya gencatan senjata yang berkelanjutan di kawasan tersebut.

Sebelumnya, optimisme atas tercapainya kesepakatan damai sempat mendorong harga tembaga menguat selama empat hari berturut-turut.

Baca Juga: WHO: 75 Tenaga Medis di Kongo Terinfeksi Ebola, 17 Meninggal Dunia

Namun kini, logam merah tersebut diperkirakan menutup pekan dengan penurunan sekitar 0,6%.

Sentimen negatif juga datang dari penguatan dolar AS. Indeks dolar menyentuh level tertinggi dalam 13 bulan pada pekan ini setelah pertemuan Federal Reserve (The Fed) yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun.

Penguatan dolar membuat komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang AS, termasuk logam industri, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya sehingga berpotensi menekan permintaan.

Broker Sucden Financial menilai kombinasi penguatan dolar, meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan moneter AS yang lebih ketat, serta kegagalan harga tembaga bertahan di atas level US$ 13.800 per ton menjadi faktor yang membebani pasar.

Baca Juga: Drama di Balik KTT G7: Trump Bikin PM Italia Meloni Murka, Tuding Sebar Cerita Bohong

Meski demikian, Sucden menambahkan bahwa faktor fundamental yang menopang harga tembaga masih tetap kuat, terutama akibat distorsi perdagangan yang dipicu kebijakan tarif dan rendahnya persediaan logam di pasar global.

Persediaan tembaga di gudang LME tercatat sebesar 352.150 ton, level terendah dalam hampir tiga bulan terakhir.

Sementara itu, stok tembaga di Shanghai Futures Exchange (SHFE) turun 23,6% dibandingkan pekan lalu menjadi 143.875 ton, terendah sejak Desember tahun lalu.

Bursa Shanghai sendiri tutup pada Jumat karena libur Festival Perahu Naga (Dragon Boat Festival).

Di antara logam dasar lainnya, aluminium menjadi satu-satunya yang mencatat kenaikan. Harga aluminium di LME naik 0,3% menjadi US$ 3.397,50 per ton setelah sebelumnya tertekan akibat meredanya kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk.

Baca Juga: Harga Emas Menuju Penurunan Mingguan Ketiga Beruntun Setelah Sinyal Hawkish The Fed

Meski demikian, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga rata-rata aluminium karena memperkirakan pemulihan produksi di Timur Tengah akan berlangsung lebih lambat dari perkiraan sebelumnya.

Sementara itu, harga nikel turun 0,5% menjadi US$ 17.750 per ton, timah merosot 1% ke US$ 53.125 per ton, seng melemah 1,4% menjadi US$ 3.588 per ton, dan timbal turun 0,8% ke level US$ 1.968 per ton.