Harga tertekan, simak rekomendasi saham yang masuk papan akselerasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lima emiten telah tercatat di papan akselerasi Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun 2020. Lima emiten itu adalah PT Planet Properindo Jaya Tbk (PLAN), PT Prima Globalindo Logistik Tbk (PPGL), PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA), PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH), dan PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJO).

Menurut catatan Kontan.co.id, pergerakan harga saham lima emiten itu cenderung lesu di tengah bursa saham yang kembali menguat. Mengutip data dari RTI Business, selama tiga bulan terakhir, saham PGJO telah melorot 28,57% menjadi Rp 25 per saham pada penutupan perdagangan, Sealsa (24/11).  Kondisi yang sama dialami saham CASH yang merosot 18,31% menjadi Rp 482 per saham.

Saham PPGL masih bisa naik tipis 0,50% selama tiga bulan terakhir. Akan tetapi saham PPGL mengalami tekanan yang dalam hingga 33,33% sepekan terakhir menjadi Rp 200 per saham. Adapun selama sebulan ini harga saham PPGL sudah terkikis 26,47%.


Sementara itu, saham PLAN juga mengalami penurunan harga hingga 56,47% selama sebulan terakhir menjadi Rp 121 per saham.

Baca Juga: IHSG diproyeksikan menguat pada Rabu (25/11), waspada profit taking

Hanya pergerakan saham SOFA yang cukup stabil. Pada penutupan perdagangan Selasa (24/11) saham SOFA menjadi Rp 104 atau terkerek 42,47% selama tiga bulan terakhir.

Analis Panin Sekuritas Indonesia William Hartanto mengatakan, lesunya saham-saham itu disebabkan oleh investor yang belum memperhatikan saham-saham yang tercatat di papan akselerasi.

"Belum lagi ada PGJO yang harganya di bawah Rp 50, tentunya dihindari dan merupakan situasi yang baru bagi sebagian investor," jelasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (24/10).

Lebih lanjut ia menjelaskan, investor belum melirik saham-saham dalam Papan Akselerasi karena saham-saham tersebut tergolong baru di bursa. Di sisi lain, William merasa sosialisasi tentang Papan Akselerasi masih minim sehingga belum banyak investor yang mengetahui keberadaan papan ini.

Asal tahu saja, mengutip berita Kontan.co.id sebelumnya, papan akselerasi dibuat untuk membantu perusahaan dengan aset kecil dan aset menengah agar lebih mudah mendapatkan pendanaan di pasar modal. Perusahaan dengan aset skala kecil yang dimaksud adalah mereka yang memiliki aset tidak lebih dari Rp 50 miliar. Sementara, perusahaan skala menengah memiliki aset lebih dari Rp 50 miliar sampai dengan Rp 250 miliar.

Terhadap saham-saham tersebut, William cenderung menyarankan investor untuk wait and see terlebih dahulu.

"Kalau untuk trading semua saham layak, namun karena saat ini belum diminati investor maka likuiditasnya juga minim," ungkapnya.

Sementara itu, Analis Sucor Sekurtias Hendriko Gani mengamati, PGJO, PLAN, PPGL dan CASH memang sedang dalam tren penurunan atau downtrend untuk jangka waktu menengah. Jadi wajar jika pergerakan harga saham empat emiten itu cenderung tertekan.

Untuk saham SOFA, Hendriko mengamati pergerakan sahamnya dalam tren sideways. Sehingga penurunan yang dialami tidak signifikan karena hanya berada range 99 hingga 109.

"Untuk saham-saham tersebut belum ada tanda-tanda reversal sehingga investor disarankan untuk menghindari terlebih dahulu hingga muncul tanda-tanda reversal," jelas Hendriko kepada Kontan.co.id, Selasa (24/11).

Bagi investor yang tertarik terhadap saham-saham di papan akselertasi perlu lebih cermat dalam melakukan analisa, baik analisa secara fundamental maupun teknikal untuk meminimalisir risiko capital loss. Sebab, papan ini memiliki perbedaan struktur pasar dengan saham-saham pada umumnya seperti tidak adanya batas bawah papan akselerasi dan batas auto reject.

Baca Juga: IHSG menyentuh level tertinggi 9 bulan ke 5.701 pada Selasa (24/11)

Mengutip Kontan.co.id sebelumnya, untuk saham-saham di papan akselerasi harga terendah yang bisa diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai sebesar Rp 1. Selanjutnya, saham-saham tersebut akan terkena auto rejection jika harga penawaran jual dan permintaan beli saham lebih dari Rp 1.

Ketentuan ini berlaku untuk saham dengan harga dengan rentang Rp 1 hingga Rp 10 per saham. Sementara  untuk saham dengan harga di atas Rp 10 akan terkena auto rejection apabila harganya naik atau turun lebih dari 10%.

Tidak jauh berbeda, analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama merekomendasikan untuk menghindari saham-saham di papan akselerasi. Pergerakan harganya tidak dapat diprediksi karena belum memiliki catatan historis baik secara kinerja saham maupun keuangan.

"Untuk saat ini pelaku pasar dapat mencermati saham-saham blue chips di mana peluang dari perbaikan harga dan kinerja keuangan dapat lebih diproyeksi dalam jangka menengah," ujarnya, Selasa (24/11).

Namun, jika ada investor tetap ingin masuk ke saham-saham baru itu, Okie menyarankannya dalam jangka panjang saja. Dengan catatan, investor perlu betul-betul mengetahui kondisi bisnis dan melihat prospek perusahaan ke depan.

Selanjutnya: IDX Growth 30 menjadi indeks dengan koreksi paling minim

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat