Harga Timah Kerek Kinerja, TINS Bidik Laba Bersih Rp 5 Triliun hingga Akhir Tahun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Timah Tbk (TINS) merasakan dampak positif kenaikan harga komoditas timah terhadap kinerja keuangan sepanjang tahun berjalan, meskipun pergerakan harga masih diwarnai volatilitas.

Melansir Trading Economics, harga timah pada Kamis (5/11/2026) berada di level US$ 46.995 per metrik ton. Harga timah memang belakangan sempat terkoreksi. Pada level tersebut, harga turun 0,93% secara harian dan merosot 13,48% dalam sebulan terakhir. Namun, secara tahunan, harga timah masih meningkat 31,22%.

Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha TINS Harry Budi Sidharta menjelaskan, kenaikan harga timah sepanjang tahun ini turut berdampak positif terhadap kinerja perusahaan.


Baca Juga: Jababeka (KIJA) Kantongi Marketing Sales Rp 1,52 Triliun Hingga Kuartal III-2026

Menurutnya, peningkatan harga terjadi seiring dinamika penawaran dan permintaan. Secara umum, Harry menilai pertumbuhan permintaan timah tahun ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pasokan.

"Kami melihat peningkatan harga ini kan karena supply and demand ya. Jadi memang demand-nya meningkat, lebih tinggi daripada supply-nya, seperti itu. Jadi secara kinerja kita tidak ada masalah, malah itu berdampak (positif) kepada finansial kami sembilan bulan ini," jelasnya kepada Kontan, saat ditemui di JIExpo Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Berdasarkan laporan keuangan, sepanjang sembilan bulan pertama 2026, pendapatan dari kontrak dengan pelanggan perusahaan tercatat sebesar Rp 16,15 triliun, meningkat 144,7% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 6,6 triliun.

Adapun laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih mencapai Rp 4,12 triliun, melesat 584% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 602,4 miliar.

Dengan capaian tersebut, Harry mengatakan TINS menargetkan laba bersih dapat mencapai Rp 5 triliun hingga akhir 2026.

 
TINS Chart by TradingView

"Sudah keluar ya laporan hingga kuartal III-2026 kita, (laba bersih) di sekitar 4 triliun, mudah-mudahan bisa 5 triliun di akhir tahun," imbuhnya.

Dari sisi operasional, perusahaan mencatatkan produksi bijih timah sebesar 18.883 ton Sn hingga kuartal III-2026, meningkat 55% YoY.

Harry memproyeksikan produksi bijih timah TINS dapat mencapai 26.000 ton–27.000 ton hingga akhir tahun, meskipun di bawah target awal perusahaan sebesar 30.000 ton.

"Volume produksi enggak terlalu banyak, jadi kita tahun ini sih ditarget di 30.000 (ton) ya, mungkin achieve di 26.000-27.000 (ton) karena masalah kemarau dan lain-lain. Mudah-mudahan tahun depan kita bisa tidak jauh dari 30.000 (ton) untuk produksi," jelasnya.

Sementara itu, produksi logam timah mencapai 16.190 metrik ton Sn, meningkat 49% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 10.855 metrik ton Sn.

Perusahaan menyatakan peningkatan produksi bijih timah didukung oleh optimalisasi kegiatan penambangan darat dan laut.

Pada penambangan darat, TINS meningkatkan produktivitas melalui penambahan unit operasi tambang, pembukaan blok rencana kerja di sejumlah lokasi, serta optimalisasi kegiatan pemboran pandu untuk mendukung efektivitas penggalian.

Sementara itu pada penambangan laut, TINS mengoptimalkan kinerja Kapal Keruk (KK) dan Kapal Isap Produksi (KIP), serta meningkatkan pengawasan dan produktivitas Ponton Isap Produksi (PIP).

Baca Juga: Astra Otoparts Bidik Pertumbuhan di Atas Industri Otomotif pada 2027, Tambah 30 Gerai

Dari sisi pasar, Harry mengungkapkan bahwa perusahaan yang membukukan pendapatan dalam mata uang dolar AS turut diuntungkan oleh penguatan greenback. Adapun penjualan logam timah TINS juga berorientasi ekspor, dengan porsi mencapai 96% dari total penjualan.

"Jadi secara pendapatan, kita memang pendapatan kita dolar ya, in dolar, karena kita hampir 97% dolar dan di bursa pun dolar juga karena kita sekarang masih masih based on LME yang dolar. Artinya walaupun transaksi dalam negerinya rupiah pun kita tetap mengacu ke LME," ungkapnya.

Menurut Harry, penguatan dolar AS menjadi angin segar bagi perusahaan karena dapat meningkatkan nilai penerimaan dalam denominasi rupiah. Ia menilai kondisi tersebut turut membantu perusahaan dari sisi operasional.

"Nah, ini membantu karena kita secara produksi rupiah ya, jadi operasional kita sebenarnya rupiah gitu termasuk gaji karyawan, kemudian penambangan, itu semua rupiah. Ini membantu dalam kinerja kita," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News